Relationship and Sense of Belonging


Dari sekian banyak studi antropologi, banyak banget yang ngebahas soal belonging- sesuatu yang kasat mata tapi kerasa, sesuatu yang dirasain, diekspektasiin, dan nyiptain sesuatu perlakukian konkrit atas identitas-identitas dan keterkaitan seseorang dengan banyak hal di hidupnya.

Sekilasnya gitu, tapi aku lagi nggak pengen ngomongin soal sense of belonging-nya studi-studi antropologi, hehe. Ada suatu perasaan, bisa jadi keresahan dan kebahagiaan gitu soal sense of belonging dalam pertemanan atau hubunganku sama temen-temenku, atau hubungan-hubungan yang dimiliki sama temen-temenku. Mungkin ini nyambungnya sama studi psikologi tapi aku nggak berkompeten dalam keilmuan ini, jadi aku mau cerita ke hal-hal yang lebih empiris, yang aku yakin ada ilmunya-

Mungkin dalam banyak pertemanan, kita nggak memungkiri punya kolom-kolom sendiri buat orang-orang tertentu. Sederhananya kita mengkategorikan teman-teman kita ada di posisi sedekat atau seberjarak apa di hidup kita. Kolom ya emang cukupnya jadi temen aja atau sahabat atau orang yang kita harap bisa jadi doi gitu. Cie, akhirnya setiap manusia pasti menentukan perlakukan-perlakuan terbaik untuk mereka. Mengingat ingin menyayangi dan disayangi itu suatu hal yang amat sangat naluriah kan ya.

Tapi seberapa jauh sih sense of belonging-nya atau sebenernya harus sampai sebatas apa sih, jadi hal-hal yang kadang masih jadi kebingungan dalam bersikap. Sesuatu yang meminta ketegasan dari diri kita biar ngga jadi sumber yang bisa menyakiti. Aku ngerasa, kalo sense of belonging atau rasa memiliki ini kadang masih blunder untuk diingini sejauh mana. Kayak gini deh, pasti beda kan kalo kita sahabat sama temen dengan jenis kelamin yang sama dan temen lawan jenis. Sikap-sikap yang kita keluarin emang bakal beda-beda banget.

Yang sering terjadi dari apa yang aku rasain dan aku amatin, persahabatan kadang bisa mengiringi love relationship bisa juga nggak, bahkan merusak. Iya ga? Aku liatnya banyak banget di antara temen-temenku yang karena nggak bisa menolak dan mengatasi kecemburuannya atau kandas gara-gara relasi-relasi yang nggak bisa kita harapin tapi nyatanya terjadi. Jadi beneran sejauh mana sense of belonging ada selalu jadi tanda tanya besar yang menyelimuti, jadi sesuatu yang harus jelas- kalau udah gitu, setidak-tidaknya kita bisa tau gimana dan sejauh mana harus bersikap biar ga jadi toxic relationship atau mungkin lebih alus yang agak nyakitin- toxic positive.

It's dilemmatic for quite sometime. Oh really and dealing with something like this would take so many times tho- to deal with surroundings is always become something that exist oftenly. So please, mari kita saling mengerti biar segala relationship ini ngga berujung jadi toxic yang bisa berujung saling menyakiti. Aku sedih banget liatnya kalo ada yang kandas atau ada yang putus pertemanannya karena kita not wise enough to deal with it. Akupun sama, masih belajar biar ikatan hubungan pertemanan atau hubungan apapun itu bisa saling support bukan malah menjatuhkan.

Tulisan ini selain refleksi, juga rangkuman dari obrolan bareng sahabat aku Sabrina, seseorang yang tangguh dan nggak pernah lelah buat belajar. Terimakasih Sabrina- hope you're doing well, miss you tons!

Semoga kita bisa terus berteman dan saling menjaga ya.

Temanggung, 23 Mei 2020

0 komentar