Sebelum pergantian hari, Minggu tengah malam aku pulang. Dijemput Bapak di tempat pemberhentian travel depan RSK Ngesti Waluyo. Temanggung anginnya dingin dan berdesir menembus cardiganku yang kukira tebal ternyata berubah jadi tipis sekali di kabupaten ini.
Sampai rumah, ternyata ibu masih terbangun. Ia menyambutku dengan tumpeng nasi kuning dengan pernak-pernik garnis yang ia buat dengan berkali kali latihan selama hampir dua bulan, latihan pertamanya ia gunakan sebagai hadiah ulang tahun Adreena, adik tetangga. Kedua kalinya ia buatkan untuk Raline, adik tetangga lainnya.
Ibu menyadari bahwa ia tak pernah membuatkan anak-anaknya sendiri, ternyata ia berusaha keras membuatkannya untukku yang sudah bertambah usia pada Selasa, 1 September lalu. Tumpeng Ibu dilengkapi dengan ayam goreng laos andalannya dan satu bundar beserta garnis lainnya Ibu sajikan dengan martabak hasil latihannya dari melihat Facebook dan YouTube, ia berlatih membuat kulit dengan cara yang lebih irit minyak dan ala-ala penjual martabak.
Melihat Ibu, aku senang dan bersyukur. Ibu punya cara membuat dirinya sendiri senang, mengisi waktu luang, di tengah pekerjaannya memijat panggilan tetangga-tetangga.
Malam itu akhirnya aku makan lagi, kami bertiga makan. Baru aku naik dan sudah terlelap sebelum kembali terbangun karena Dek Daffa baru pulang.
Namun malam itu aku berubah menjadi sangat kesal karena melihat lantai 2 dan kamar yang akan aku tiduri kotor, berdebu sampai ke langit-langit seperti tidak pernah dihuni manusia. Semenjak Dek Hanun merantau ke Sukabumi, pekerjaan membereskan rumah jadi semua serba Ibu.
Kedua laki-laki, Bapak dan Dek Gibran adalah cerminan satu sama lain yang acuh tak acuh dengan urusan rumah tangga. Malam itu juga aku membersihkan dengan rasa kesal dan lelah yang menumpuk, keesokan harinya aku semakin kesal dan berkali-kali marah kepada adikku, Gibran. Entah kenapa gelagatnya sangat membuatku sebal, ketidakpeduliannya dengan urusan rumah bahkan menyapu pun malas membuatku sangat marah. Membayangkan betapa lelahnya mengurus semua urusan rumah sendiri, mulai dari mencuci baju, piring, memasak sampai hal-hal rumah lainnya.
Ekspektasiku untuk pulang mencari ketenangan menjadi runyam dan hancur lebur. Gibran membuatku semakin kesal karena ia memakan sepotong pie murbei yang sengaja kubeli untuk diriku sendiri dari Bumi Langit Institute Mangunan, Imogiri. Hari ini aku berniat memakannya, ternyata ia makan tanpa permisi.
Aku bersedih hati karena rasanya kepulanganku dianggap sepele oleh adikku sendiri atau mungkin aku yang berlebihan berharap. Hanya saja, rasanya membersihkan besar-besaran sampai aku sempat terjatuh dan terjengkang ke belakang membuatku merasa seharusnya aku tidak harus sampai segitunya. Sewaktu Gibran pulang kerja kuluapkan kemarahanku atas dirinya yang sungguh-sungguh tidak peduli dan beralasan bahwa ia sibuk. Sungguh kalimat yang menyebalkan dan egois.
Entah mengapa aku tiba-tiba ingin menulis, mungkin tulisan ini terasa panas dan penuh amarah. Sebab baru detik ini aku mendapatkan ketenangan di saat semuanya tertidur, setelah aku membersihkan rumah (lagi-lagi) dengan ibuku saja tanpa laki-laki yang turut serta. Aku menyalakan melodi dari Spotify, menyeduh teh dengan kayu manis dan duduk di ruang tamu yang sudah kami berdua bersihkan.
Sekian.
Temanggung, 8 September 2026
23.39
0 komentar