Pagi Tadi

 Selepas salat subuh pagi tadi, aku putuskan tidur lagi.

Dan lagi-lagi, mimpinya terasa amat sangat dekat dan rasanya menyesal aku bangun dari tidur. Rasanya semesta betul-betul nggak tau diri, bisa-bisanya bisa menebak diriku melebihi diriku sendiri.

Mendatangkan sesuatu yang sebetulnya aku nggak kepingin ingat terus menerus. Tapi ternyata semesta dan alam bawah sadarku (mungkin) mereka bekerjasama dan berusaha mengejutkan aku dengan banyak hal.

Sepenggal seperti sepotong roti yang diambil berkali-kali namun konsisten dimakan tanpa henti.

Dicecap tanpa penolakan dan rasanya selalu enak walaupun sesungguhnya rotinya terlampau jauh serta sulit dijangkau. Semu dan seperti bayangan yang walaupun aku menolak sekencang-kencangnya, bayangannya justru malah ingin turut lari menemani.

Memori dan ingatan terkesan sederhana karena benang merahnya seperti terikat satu sama lain. Terpilin menjadi serangkaian cerita yang menguatkan tapi bukan berarti nggak melelahkan. Sungguh, melelahkan sayang...

Kalau aku diberi kesempatan dan ditanya satu hal, lalu aku diperbolehkan menjawab tanpa syarat, bertahan adalah satu-satunya jalan yang melelahkan, mencengangkan, menakjubkan sekalipun penuh tantangan, tapi jangan lupa untuk selalu yakin kalau kejutan juga suka datang.

Yang sabar ya,

Selamat sore.

0 komentar