Italian Bound (6) : AFS Arrival Camp Triveneto Italy 2017


“So now close your eyes imagine when you have free time in your home country, you might be don't have any free time but here you have, you have chance. Think more about your self, who you are, what you want to do. Think it,” deep down, he said with sharp eyes then I imagine, “Yes, I might be haven’t free time in Indonesia. I always looking for the time to take a rest and reflection”



Ciao,
Udah sebulan lebih aku tinggal di Italy lho

Entah kekuatan magis apa yang bisa men-simsalabim diriku ketemu manusia yang datengnya hampir dari negeri penjuru dunia. Semuanya kaya ngga pernah terprediksi akan secepat ini, setiap aku ketemu manusia baru. Aku selalu bilang ke diriku sendiri ketika kadang merasa rendah diri melanda,

"No Nabila you will be very strong, you just need to know deeply. Be patient dear"

Ada sebuah kejadian yang aku anggap keajaiban di bis pulang sekolah Rabu siang itu. Tepatnya 11 Oktober, karena kebetulan kursi sebelahku kosong ada perempuan manis berhijab, aku persilahkan duduk di sampingku setelah dia meminta. Aku dah sering liat dia sebenernya karena satu Comune di Longarone, kalo jalan kaki dari rumah ke rumahnya paling setengah jam-an.

“Are you moslem because I see you wearing hijab”
“Yes, I am moslem. Where are yoy from ?”
“So I am an exchange student, I am from Indonesia. Scusa, Io imparare italiano. Allora parla piano-piano”

Jadi akhirnya kita kenalan, nama dia Chaimaa Benaly dia udah 9 tahun tinggal di Italy negara asalnya Maroko (whatt, aku kaya di dekatkan tentang Maroko, negara islam yang pingin aku kunjungi). Ternyata ada temennya juga namanya Medina Pitarevic, muslimah juga tapi belum berhijab masih 16 tahun asal Bosnia. Karena lebih lancar Chaimaa yang berbahasa inggris, jadinya aku bilang ngga-papa pake bahasa italy sambil aku belajar. Walopun dua bahasa ngga karuan, tapi obrolan bisa hangat dan akrab di bis sampe mereka turun duluan. Ternyata ngga aku sadari Medina bilang liat aku di karate, kita satu karate !

Ketemu mereka jadi kaya mood-booster tersendiri, ketemu saudara. Kita jadi saling sapa setiap ketemu di bis pulang sekolah atau pun di karate. Ahh, semesta memang ngga pernah sejahat itu melempar manusia ke negeri yang jauh tanpa mempertemukannya dengan orang-orang yang luar biasa. Ternyata dekat itu ngga seutuhnya dengan jarak yang dekattapi kedekatan hati lebih ampuh, eaaa. Seriously, kalo mau berjalan masing-masing punya rasa tersendiri.

-

Oke, jadi itu baru prolog membahagiakan untuk aku menulis lebih lanjut tentang pertemuanku dengan AFSers seluruh dunia yang terlempar sampai wilayah Triveneto, Italy haha.



Giovedì, 12 Ottobre 2017 - Kamis

Momen yang mendebarkan karena awalnya aku berfikir, “Bisakah aku dekat dengan mereka ?”

Aku dan Tike diantar Mamma Linda ke Feltre, tempat dimana bis kita datang menjemput. Tiba-tiba setelah sampai Feltre Mamma bilang bisnya kemungkinan lambat satu jam. Wah, lama juga. Akhirnya ditawarin buat keliling liat kota tua dan kecil ini. Banyak banget bangunan tua di Feltre, beda dengan Longarone yang sempat dihempas banjir besar Vajont 1963. Kaya sepi ngga ada manusia, ada central kota yang semacam ada kotak pagar tembok mengelilingi diisi patung di tengahnya. Kita cari Gelato pun ngga ketemu. Paling ngobrol bercandaan sama si Tike nih, lucu juga dengerin dia telponan sama temennya.

Sayangnya aku ngga cukup banyak berkeliling Feltre karena bis udah dateng setengah jam, bukan satu jam kaya dibilang sebelumnya. Sampe di bus station. Waduuhh aku sama Tike doang yang ngga pake baju Intercultura. Heuu, yaudaah masuk bisa KETEMU AKBARRR, haha. Langsung dia tukeran tempat duduk sama si Nabil Paraguay. Hampir samaan coba namanya, Nabil-Nabila. Awalnya aku sama Akbar udah belajar ngobrol pake bahasa italy duh tapi habis itu, “udah ah bahasa indonesia aja kangen bahasa indo, bodo amat si Nabil ngingetin mulu,” kata si Akbar sambil kita dengerin lagu Indonesia.

Gerombolan AFSers Thailand ada di bagian depan kenceng banget pake bahasa mereka langsung ditegur sama si Nabil (lagi), “Hey. So, please speak Italian. Deal ?” nada yang agak meninggi. Haduh, dia mah udah jago banget juga karena bahasa negaranya Spanyol yang mirip banget sama Italy.

Sesampai di penginapan kerasa banget udara dinginnya di wilayah pegunungan Trento. Aku sekamar sama AFSer Polandia, namanya Marta Stepniewska. Dengan gitarnya dia bisa mengundang banya orang buat diajak nyanyi dengannya. Dia juga religius sekali, kalau sebelum tidur aku solat, dia berdoa sebagaimana berdoanya christian. Entah angin apa yang selalu mempertemukanku dengan teman religius di satu kamar saat acara student exchange, Amerika atau Italy. Praise to Allah:)



Anyway, bendera Polandia sama Indonesia kan berbalikan gitu, mereka putih merah. Ngobrol pake bahasa inggris sama AFSers lainnya berasa surga, padahal kalo pas di Indonesia kadang masih kaku ngobrol pake bahasa inggris, just because ada bahasa italy yang masih menjadi hal sulit untuk dipelajari.



Kita berkumpul di lokasi Gym, gedung olahraga katakanlah, masing-masing mengenalkan diri, bergiliran tiap benua atau bagian dari benua kaya Amerika Latin, yang ngga totally Benua Amerika. Of course kebanyakan dari kita ngenalin pake bahasa italy. Oh ya anyway, ada dua orang yang ngga bisa bahasa inggris jadi volunteer namanya Alice Returnee Costa Rica translate ke bahasa spanyol. Banyak juga ternyata negara-negara yang pake bahasa spanyol, kaya Republik Dominika, Paraguay, Columbia, Spanyol ofc, Honduras, dan banyak lagi. Lucu banget kala pertama itu, kita disuruh nulis nama binatang yang bakal ditaroh di jidat kanan kita tapi dia ga boleh tau, nanti dia harus nyari pasangan buat bantuin nebak.

Si Alba anak Republik Dominika kasih aku CAT. Mamma Miaaaa, apa banget, aing sebel takut sama binatang ini, banyak banget yang heran. Kalo takut gimana lagi dong ? Lalu kita terbagi jadi empat kelompok dengan identitas warna, aku yellow. Hari itu kita berbagi soal Personal Emotions, Feelings, Host Family dan ternyata kita punya rasa yang hampir sama. Banyak keresahan, kebosanan, less self privacy hanya masih satu bulan dan ini hal yang maklum. Tapi dengan berbagi, aku jadi merasa ngga sendiri dan banyak kok AFSers lain yang sama-sama sedang survive dan berjuang di sini. Jadi , kalau resah jangan lupa bercerita dan berbagi, ini hal yang nyenengin banget bisa talk each other with friends from many countries.

Anyway di kelompokku ada si Luis, dia asal Republik Dominika (kalau tidak salah, karena dengan Alba) dia ngga bisa bahasa inggris jadi si Juan Columbia, Nabil Paraguay atau Anna Guatemala sering bergantian translate. But , ada kata-kata Stefano my favv volunteer kira-kira begini,

“So now close your eyes imagine when you have free time in your home country, you might be don't have any free time but here you have, you have chance. Think more about your self, who you are, what you want to do. Think it,” deep down, he said with sharp eyes then I imagine, “Yes, I might be haven’t free time in Indonesia. I always looking for the time to take a rest and reflection”

Dangg !



MAKE A WORLD MAP WITH PEOPLE





So, after we shared how’s our countries. Aha, jadi kita gambar di kertas putih lumayan besar tentang negara kita. Aku dan Akbar menggambar seterang-terangnya, tentang zamrud khatulistiwa mulai dari kekayaan bahasanya sampai banyak hal yang memikat dan membuat cinta. Kami berusaha menyampaikan dengan senyum sepenuh hati dan suara lantang. Bangga ? Iya, banget hey. Sederhana tapi memikat. Ada suatu fakta yang menarik dan baru aku tau,


FACT : 1) French Fries atau kentang goreng yang biasa kita makan itu asalnya bukan dari France, AFSers Belgium nih sampe ngotot bilangnya haha. It’s totally from Belgium even you find in some city, it is not from France. 2) AFSer China dan Hongkong berasa mau timpuk, no no ngga selebay itu. Jadi sewaktu China ngenalin negaranya dia bilang Hongkong as city, eh sewaktu anak Hongkong presentasi menyanggah perkataan si Chinese then si AFSer China bilang, “Yes, you all can do what you want,” dengan wajah legawa, haha.

Lalu berlanjut buat peta dunia dengan menempatkan diri kita di lapangan besar sesuai letak dengan utara yang udah kita ketahui. I was so incredible, AFSer New Zealand girl Cuma satu jadi terpojok sendiri. Masing-masing negara nyanyiin kenceng lagu kebangsaan. Wahh

Venerdì, 13 Ottobre 2017 – Jum’at

No phone time. Rachele volunteer ter-powerful menurutku menyita handphone kita pas sarapan. I know, we need to form a lifetime bond. Hari itu sesia for talking about : The school from our home country and also here in Italy, Communication, Start Categories People. Deep, aku jadi mengenal bagaimana pelajar dari berbagai negeri belajar dan menjalani sekolah, make some friends dan menghidupi dirinya. Kita berbagi, ngobrol secara tergilir atau pun random. How curious they,re about the world. How we feel boring in Italy just because we don’t know what they were talking about. Disitu aku terpacu belajar dan mau lebih mengenal sekolahku di Italy.





Kita sama-sama merasa bosan, of course dengan sekolah di Italy yang -teacher oriented-. No another activities except study at class. That’s why beda jauh sama kehidupanku, but this is diversity. Nanti ya aku ceritain di lain tulisan soal sekolah di Italy.

Ini jadi hari terasik karena kita mencoba dekat dan mengobrol satu sama lain. Syiq, mulai main kartu dengan ala banyak negara, bagi-bagi permainan dari banyak negara. Sampe mainan pake bulu warna Thailand buat di tendang-tendang dengan posisi melingkar. Then,

MAKE PIZZA



Ini yang puaaaling menyenangkan, kita bener-bener ada di satu ruangan buat bikin pizza, dan itu menu dinner kitaa. Putaran lagu-lagu ala Italy sambil bikin adonan datar sambil berjoget riaa dan volunteers nyebarin tepung jadilah mandi tepung ria. Lifetime bound. Kita sama-sama sedang belajar menjadi truly Italian. Pizza Mozzarella yang jadinya ketebelen terus tipis di pinggirnya ngga karuan juga tsedap kita makan di dinner. Si Katrine Denmark nih makan banyak Pizza, I like her, how friendly she is dan menjulang kaya Jerapah. Ti voglio bene Katrine !! this momento would be once in my lifetime.






-

I had chat with Stefano, every one has their own time to chat with volunteer. I am soo soo grateful, aku bisa dengan hati ngobrol dengan Stefano yang kalo bicara selalu dengan deep words.

-

Karena kita saking sulitnya I mean ngga gercap kalo bikin lingkaran jadinya ada session Non Verbal Communication. Ini permainan teraneh karena kita dibagi jadi dua bagian di Gym dengan dihalangi matras besar. Masing-masing harus nutup mata pake syal lalu diberi nomer yang boleh tau hanya diri kita sendiri. Nah, rules nya adalah kita harus mencari nomer terdekat kita di kanan dan kiri, aku dapet 21 so aku harus nyari nomer 20 dan 22 tanpa boleh bersuara juga melihat. Aneh ? Iya awalnya tapi akhirnya bisa cepet, aku nyari dengan kasih kode ngetuk sesuai jumlah nomernya.




Heuuuu, lama sekali ngga dapet-dapet tentunya juga tabrakan satu sama lain, dan yang pasti  “sumpek”. But akhirnya aku nemu 20 !! entah dia siapa yang pasti di sebelahnya udah ada banyak orang, sampe akhirnya kita cari dengan tangan masih terikat, We’re connected ! Akhirnya setelah sekian lama aku dibantu Alice Volunteer buat ketemu nomor 22. See ? We already connected as round. Jago banget ini ide-nya, boleh dicontoh ya kalo ada yang butuh outbound. Rachele Volunteer Returnee Denmark made us realice after they gives back our phone,

“Guys, yes we need phone we need to see another world. But now, we have real world, when you will meet friends around the world. So, who still worrying to have no fire in snapchat or snapgram, you have friends around you now here in this camp”




Sabato, 14 Ottobre 2017

Kalau kamu sebagai anak Indonesia apa yang mau kamu tampilkan ?

Hari itu jadi the last night that we have, and it was very sad but full of happiness too. Karena banyak free-time kita lebih tau gimana memposisikan diri kita dengan gadget. Banyak ngobrol, mainan kartu, saling cerita dan tanpa ter-plan juga siang bolong kita udah siap sedia dengan bendera kita masing-masing dan buat foto bareng. Ini bakal jadi foto bersejarah hidupku, taken by my camera. Then, ada session lucu dimana kita diberi intruksi untuk buat negara baru dan tiga nilai apa yang bakal kita masukin ke situ. Lalu berkelompok dan bikin nama negara, sampe kita realize what should we do to be a good world citizen ?

Ada games of drink yang bisa buat mulut keasinan hanya dengan ngga lebih sepuluh gelas tercampur garam. Yes, dengan cheers gelas karena ini bagian dari Italian Culture. Jadi ada di ruangan dengan banyak orang, dan kita cheers dengan aba-aba dari volunteers “Chin-chin”. Ini jadi ajang sosialisasi satu sama lain di sebuah acara. Ampuhnya berapa kali aba-aba bisa bikin seluruh gelas dengan lebih dari 60 orang merasa asin, padahal hanya gelas biru di awal yang bercampur garam. Ampuhh ugh.

Talent show,





Aku dan Akbar pake baju adat masing-masing dan itu bikin banyak temen yang kagum. Seberapa Indonesia mentingin banget nasionalisme, kita nyanyi lagu-lagu ala ornas sambil berjoget ria dan lantang bersuara. Halo as prolog - Rasa Sayange - Hela Rotane - Gundul Pacul - Pasir Berantai. There’s no tiring time to let them know Indonesia. Sampe Alba, Maisa Finlandia, Katrine, Edda Iceland kasih tulisan pake kertas. Anak Thailand apalagi rame sekali, ahaay. Mereka bisa bikin heboh kita, penampilannya jadi semacam permainan kucing-kucingan haha. Malam itu terasa sangat haru tapi tanpa tangis. Masing-masing nampilin apa yang mereka bisa.

Apa yang paling terkesan ?




Sama AFSer Bolivia, semacam sirkus tapi bukan, khas Bolivia. Asiik sekali, ingin mengulangi. Yang paling lucu adalah volunteers yang drama-in ala Titanic, lantai dua jadi semacam sweet moments di pinggir kapal Titanic apalagi tambah backsound yang mendukung.




-

Selesai.

Bagaimana bisa dunia menemukanmu dengan wajah manusia dari banyak dunia, bisa pasti kalau kamu mau terus berjalan. Kataku ke diriku sendiri. Pada sesi terakhir kita diminta menemui siapa yang belum diajak bicara, maka berkenalan lah. That i show AFS connecting lives.
You need to survive here, learn as the best as you can do. The journey start from us, the culture made it the world, and that the world is, -Stefano-
What you can do your exchange experience better ?

AFS ARRIVAL CAMP AFS TRIVENETO ITALY 2017                            

Longarone, 27-28 Ottobre 2017

Nabiladinta




0 komentar