Blog

Joe's Food Blog

Bulan Juli sampai sekitar Oktober menjadi bulan peruntungan dan tidak untung bagi masyarakat Temanggung. Bekerja beberapa bulan untuk bertahan hidup satu tahun, begitu terus siklusnya sejak dulu. Tembakau, jadi satu sumber pokok yang paling jadi tumpuan. Pun aku juga, sekalipun sejujurnya aku sama sekali nggak mendukung rokok, tapi toh nyatanya aku hidup juga dari rokok. Ya begitulah, tapi yang mau aku ceritain bukan itu maunya.

Jadi setiap aku libur dan pulang ke rumah, Bapak selalu menawarkan buat ikut ke ndeso, tepatnya ke Desa Bringin. Aku ikut aja kalo lagi mood. Malam ini, aku sendiri yang minta. Disadari atau nggak disadari, semakin gede aku penasaran gimana para petani dan aktivis mbako kayak Bapak aku yang rutin setiap tahun mbako-an bertransaksi.

Bapak memutuskan berhenti dari Djarum, karena praktik yang dipenuhi kelicikan dan ketidakjujuran. Memilih berdiri sendiri dan membimbing anak-anak muda yang mau terjun ke dunia mbako. Rumah ke rumah petani, Bapak melakukan tawar-menawar dan negosiasi berapa dan sebanyak apa tembakau yang bakal dibeli. Di setiap rumah, hidangan teh atau kopi nggak pernah luput yang bikin saya naik gulanya kali ya semalaman.

Kedekatan Bapak ke petani-petani di Desa Bringin udah kayak keluarga sendiri. Di sela-sela perjalanan Bapak selalu nyeritain praktik transaksi dunia tembakau yang dipenuhi pedagang-pedagang brengsek. Desa Bringin sendiri, banyak yang petaninya udah mbah-mbah. Mereka-mereka ini yang kerap kali dibohongi, pedagang-pedagang yang brengsek itu membayar lebih sedikit dan nggak sesuai kesepakatan.

"Katah Bil seng melakukan praktik tidak jujur niku. Awale muni 80 eh dibayare mung 70,"

"Bapak memilih bayar jujur. Dulu memang yang lebih banyak diuntungkan orang-orang yang nggak jujur, tapi dua tahun belakangan niki orang yang bertransaksi jujur yang lebih banyak diuntungkan," cerita Bapak.

Kata Bapak sendiri, walaupun Bapak misal beli lebih murah ke petani. Kalau dinalar pasti hasilnya lebih sedikit, tapi menurut Bapak justru Bapak jadi lebih banyak uangnya. Mungkin karena nilai keberkahannya kali ya. Berdagang bukan semata-mata demi keuntungan dan uang jadi lebih banyak, tapi dari Bapak aku tau kalau bertahan hidup nggak seharusnya dengan cara licik. Toh siapa sih yang memegang kendali rejeki kita? Manusia tugasnya berusaha dan tawakkal dengan jalan-jalan yang digariskan Tuhan.

Aku udah menelan cerita-cerita ketidakjujuran ini sejak kecil. Kepahitan, kekecewaan, kebangkrutan, kebahagiaan, peruntungan, putusnya persaudaraan dan banyak hal lain yang nggak bisa aku ekspresikan dengan hanya senyuman dan tangisan. Betapa transaksi pertembakauan bukan hanya menguntungkan tapi juga menghancurkan. Atau cerita-cerita lain yang menindas rakyat kecil atas transaksi pedagang brengsek yang kurang ajar.

Nggak ada pilihan lain selain bertahan dengan nilai kebaikan, walaupun mungkin orang lain bertahan dengan penuh kebohongan. Hutang yang ditangguhkan, menunggu musim tembakau tahun depannya. Padahal siapa yang bisa menjamin tahun depan lebih baik?

Jadi, Bapak tani sayang, bapak tani malang selalu jadi dua frasa yang menggambarkan betapa kebahagiaan dan kepahitan selalu berjalan beriringan.

Selamat berjuang,
Bapak Tani Sayang, Bapak Tani Malang :)


Temanggung, 21 September 2019

"Distance means so little when someone means so much"

Welcome Augustto welcome Harbin's Girl!

Getting to know you as my senior since 2012 made me so grateful, you are so cuteee, like seriously to say

We didn't talk that much in junior high school, but then, destiny made us getting to know each other better, darling♥ 

I am such a lucky girl for having you as my first speaker in many occasions, I cant remember how many times we passed debate competitions together, side by side. There, I learnt so much from you;how we should speaking and expressing english bravely, how we should trust in our self to expressing our ideas and so on.

In every case-building before we start to burn our self in order to fight in debate, you've told me your argument to me as your third speaker, "Bil you can do that, I believe in you!" You helped me by delivering your argument to clear the case. If I get to tell you, there a debate competition that I remember the most is when we were in SMADA hahaha, in our last debate that night with the motion, THIS HOUSE WOULD BE SINGLE. 

I think I dont need to re-tell that embarrassing yet funny story

--

The most meaningful phase was my period as AFS candidate and you were an AFSer in China. We kept in touch, in two directions to support each other. But it was you who supported me a lot, I thank you for that.. 

I cant imagine how I could stay that strong to stand up till life brought me to Italy. You've told me all those wise advices. Thank you to always be there in many ups and downs, and to help me in any way you can. By the time, it was my turn to go and finally became an AFSer

thankyou to sending me this cutest thing
in my birthday last year, amore!
It was you that connect me to part of your highlight during an exchange life by getting to meet Lena, your best friend in China. She treated me so well, I was thinking- it wouldn't be like this beautiful if you were not spreading kindness in China, it wouldn't be like this if you were not making your relationship in China as your best experience. 

Thankyou,

I can't wait to having journey with you and Lena, in Indonesia, India, or somewhere else in the world before we back to the Almighty :)

By now, it is so hard to having quality times, to talk each other anyway:( 

But, it doesn't matter because "Distance means so little when someone means so much" as AFS said. Grazie amoree

Take care of your self, stay inspiring and creating your words that I love it so much. OMGGG girl power🔥 

I wish you happiest birthday. Stay foolish!
Auguriii la mia carinissima amica💛💚💙


Sincerely,

Adinta
Kalau ingat masa lalu, ingatnya adalah momen ketika kami yang satu keluarga beranggotakan enam orang naik vespa bareng-bareng.

Kebayang ngga?

Aku dan satu adekku di depan Bapak yang menyetir vespa. Lalu ibuku sambil menggendong adik yang masih bayi sekaligus ada satu adik lagi diantara bapak dan ibu. Cukup klasik memang, kalau diingat lagi, "Kok ya bisa ya berenam satu vespa?”

Sampai akhirnya Bapak menjual vespanya dan memakai sepeda motor merk Shogun bekas om dan bulek. Tidak berhenti dengan cerita vespa, Bapak kembali membeli vespa tahun 2008 pasca ulang tahun kesedihan Bapak karena tepat di hari itu Mbah Putri meninggal dunia.

Hampir setiap hari Bapak meng-amplas vespa supaya bisa halus dan dicat warna lain. Bapak melakukannya di ndalem kilen, kediaman almarhumah Mbah Putri. Aku dari kecil suka bingung, ngapain ribet-ribet pakai vespa to?

Tapi kata Bapak begini, "Nek orang belajar vespa, pasti otomatis bisa motor gigi. Kalau belajar motor gigi belum tentu bisa vespa."

Analogi ini sama halnya dengan belajar motor gigi atau motor matic yang lebih trend di zaman now. Semakin sedikit pecinta vespa, tapi kita nggak bisa memungkiri kala7 mereka itu ada. Bahkan perkumpulan orang-orang yang mencintai vespa lebih erat daripada sekedar motor biasa. Karena memang unik adanya, asik, dan terlihat lebih nyeni, begitu ya?

Sampai dari liburan akhir tahun Dek Daffa ngotot ingin vespa Bapak yang sudah lama didiamkan untuk diurus lagi. Agak kesal mungkin ya, sampai liburan kali ini ternyara vespa belum selesai di- service dan akhirnya Dek Daffa memburu. Pertengahan Ramadhan vespa berhasil diulik pribadi, walaupun tetap beberapa kali masuk bengkel. Wujudnya sudah nggak karuan, ibaratnya ya ompong sana-sini.

Hari H lebaran pun kami mengendarai vespa, mengingat nggak mungkin berenam jadi satu motor lagi, bahkan dua motor pun nggak cukup. Dek Daffa semakin memburu, tapi juga kadang ngawur pas menyalakan vespa, akibatnya ya error lagi, duh dek. Aku baru tau, ternyata dorongan ini karena ternyata teman-teman satu pesantrennya jalan-jalan lalu nge-camp di Embung Kledung pakai vespa.

Adek belum bisa pakai vespa sendiri, karena lagi-lagi masih belum kelar di-service. Ternyata se- geng adek itu juga berkelana sampai Dieng. Bangganya mereka edit video ala-ala untuk dipamerkan di instagram. Lalu menandai pecinta vespa dan akun lainnya yang berhubungan dengan perkumpulan vespa.

Sampai akhirnya Dek Daffa nggak cuma bisa sekedar bonceng di vespa temannya. Bapak pun luluh dan berujung membolehkan adek memboyong vespa ke Magelang. Berangkat malam-malam biar nggak kena razia polisi. 

Ternyata di grup WA keluarga adek beberapa kali melaporkan vespanya ngadat. Harus beberapa kali masuk bengkel. Tapi bahagianya dan sungguh aku mengapresiasi kepada seluruh pecinta vespa, banyak orang yang menolong adek. Bahkan ketika di bengkel banyak yang nggak mau dibayar.

Beberapa masalahnya adalah kampas kopling tipis, lampu mati, susah diselah, dsb. Tapi aku salutnya kalau adek tiba-tiba mavet di jalan, ada orang 

"Wau kan ting ndalan ketemu cah vespa,trus dicek jarene kampas koplinge pun tipis.Kit wingi trouble malah angsal kenalan katah pak,"

"Tadi di jalan kan ketemu anak vespa, terus dicek katanya kampas koplingnya sudah tipis. Dari kemarin trouble malah jadi banyak dapet kenalan," begini kira-kira artinya.

Sampai di rumah, walaupun vespa ompong itu banyak trouble-nya, "Wah aku puas banget mbak, hehe," ekspresi Dek Daffa sambil cengengesan kelelahan.

Berlanjut dengan cerita Bapak kemarin sore di perjalanan dari Jogja menuju Temanggung, "Luar biasa persaudaraan anak-anak vespa Bil. Dek Daffa lak pas teng Magelang ditolong banyak kali anak vespa. Kalau di jalan macet, kalau ada anak vespa yang lewat mesti berhenti njuk nulungi."

Luar biasa bangettttt wauaoooww. Aku ikut terharu, tapi belum juga belajar vespa. Hehe, doakan ya. Sampai pulang sesore kemarin, masih aja adek utak-atik vespa. Doanya, semoga segera jadi ciamik mesin dan tampilan vespanya, biar semakin nyentrik.


Temanggung, 3 Juli 2019



Ramadhan Mubaarak Everyone !

Tulisan ini ditulis kira-kira bulan Juni tahun lalu. So yea, aku lalai ngga nyelesaiin ini dulu karena hari-hari super hectic di Italia yang berhasil menyita seluruh pikiran, hati, dan fisik aku :). Semoga cerita ini tetap menyenangkan dibaca walaupun udah terlewat hampir satu tahun lalu. Terimakasih udah mau ngeluangin waktu klik blog akuw tersayang yah !

-

Gimana nihh puasanya yang di Indonesia ? Kuat kan kuat , negara kita alhamdulillah diberi kemudahan Allah bukan dengan matahari yang panjang dan dengan nuansa ber-ramadhan yang kental banget. So yeah kita ngga ngerasa kesusahan buat ngejalaninnya karena bareng-bareng.

Oh ya kalo temen-temen AFS yang muslim baca ini kuat-kuat yah puasa di Eropa 18++ jam, atau anak YES yang udah pulang punya pengalaman juga puasa di Amerika. Paling ngga ngebayangin jadi si Lulu, temenku AFS Finlandia yang bahkan sampe tengah malem masih ada matahari. Kata Lulu, warga muslim Finlandia ikutin negara Turki, jadi dari jam 2 pagi sampai 11 malam (ini pun masih ada cahaya btw).

Va bene, ALLORA

Kapan Ramadhan mulai ?

Tulisanku kali ini aku bakal cerita gimana puasa di Italia utara. Centro Islamico Culturale d’Italia - Masjid Besar Roma mengumumkan kalau Ramadhan 1439 H jatuh pada 17 Mei 2018. Awalnya sempet ada pengumuman kalau jatuh di tanggal 16, sehari sebelumnya. Aku awalnya kebingungan, karena sempet kepikiran ikut Indonesia aja yang mulai 17. Ternyata setelah aku pikir-pikir lagi, baiknya aku mengikuti keputusan ulama-ulama di Italia karena mereka yang bener-bener menghitung hilal di langit Italia.

Sempet tanya kesana kemari. Well, pada akhirnya aku tanya ke Assia, aktivis muslimah dari Aljazair yang udah menetap dan berkeluarga di Longarone, Belluno. Pada akhirnya alhamdulillah mulainya sama kaya di Indonesia tanggal 17 Mei dan ada jadwal sholat dan sahur dari perkumpulan muslim Provinsi Belluno.

Beberapa temen AFS Indonesia yang di Italia mereka mulai 16 Mei, karena memang waktu itu sempat berubah-ubah antara 16 dan 17. Mereka yang mulai 16 tetep ngelanjutin puasanya.

So, Ramadhan kali ini aku ikut jadwal itu bukan Muslim Pro. Assia nyaranin begitu, baru setelah Ramadhan selesai kita merujuk ke Muslim Pro.

Berapa lama sih puasa di Italia ?

Aku sendiri karena di utara jadi waktu subuh yang mulai lebih cepat dari Italia selatan juga maghrib yang dateng lebih lambat beberapa menit. Dari awal sebelum Ramadhan, kami anak-anak Indo bertekad buat bantu saling bangunin kalo sahur dan absen di grup. Honestly, emang susah bangun sahur sendiri jam 3 kurang, karena subuh jam 3 lebih. Awal-awal itu sempet beberapa hari nggak sahur, padahal durasi puasa 18 jam.

Susah ? Iya awalnya lumayan tapi akhirnya terbiasa, ehehe. Apalagi ini udah akhir-akhir musim semi, jaman-jamannya orang makan di luar karena ada matahari. Wallahu a’laam ya awal-awal sampai pertengahan Ramadhan itu banyak hujan jadi nggak kerasa panas dan kehausan. Panas disini pun umido atau basah justru bikin haus banget. Aku ngebayangin sebelumnya kayaknya bakal berat dan sendirian. But, trust me, wherever you’re Allah will help you, give you strenght and bless you

Karena sahur kami saling bangunin via telpon jadi ngga kerasa sendiri, merasa kalau berjuang bareng-bareng walaupun kami tersebar di Italia.


Apa ya tantangan pertama Ramadhan ?

Ber-ramadhan bukan di negara muslim pasti dong ada tantangannya, sebenernya dari sebelum ramadhan sudah di bombardir dengan beribu pertanyaan. But, waktu bener-bener di bulan suci ini tantangannya semakin gede. Hari pertama puasa itu kan hari Kamis ya, hari dimana jam awal ada pelajaran olahraga dan sorenya rutinitas karate. Kebetulan banget il professore di ginnastica atau olahraga ngajakin ke Bar Europa deket sekolah, buat ngobrol-ngobrol sambil nikmatin matahari minum kopi, makan roti, gelato dan semau kita mau beli apa aja.


Well, I can’t eat:)))

Langsung dong mereka tanya how fasting works in Ramadhan. No eat - no drink.

“Maa Nabila neanche bere ? Mi dispiace non puoi mangiare , sei matta !”

“Gaboleh juga minum ? Maaf ya ampun kamu gabisa makan, kamu gila sih !”

Hahaha. Kira-kira begitu.

Aku cukup senyum aja dan jelasin pelan-pelan.

......

Bersambung.

Tulisan ciamik, manis dan penuh suka cita ini diceritakan oleh sahabat saya. Ihh sukakk bangett, itu reaksi pertama sambil ber-ngakak ria, hahaha. Dengan izinnya, sengaja saya repost di sini. Tapi kawan semua bisa kunjungi tulisan aslinya dengan klik disini 

-

Penulis : Dear Neptunus a.k.a Alfreda Fathya


Setelah lama sekali tidak menulis, maka awal Maret ini aku ingin menuliskan sukacita. Aku ingin bilang bahwa, perayaan ini bentuk syukur atas izin Allah aku dipertemukan dengan orang-orang yang mengizinkan aku menjadi bagian diantara episode cerita panjang kehidupan tentang pencarian-penemuan.

Dan diantara pertemuan-perpisahan-perjumpaan yang tersuguhkan. Aku sungguh terenyuh ketika tiba-tiba Kakak Aunillah datang ke satu momen terbesar dalam hidupku, SRE tahun lalu di PKKH.  Dan tidak sendiri, lengkap dengan Mba Oase dan Kak Arham plus Nabila plus Mirza. Ini sungguh haru, karena aku ngga tahu hari itu katanya jadi hari terakhir Kak Aunillah di Jogja. Dan foto ini sungguh aku suka. Akutu sayang banget sama semuanya. Terserah kalau ngga percaya. Tapi mulai hari itu terselip banyak doa dan harapan bahwa rombongan ini akan terus ada sampai aku diwisuda dari UM, disumpah sebagai psikolog dan akhirnya nikahan. Wkwkw. Dan bahkan hari itu diutup dengan traktiran agak maksa sate favorit Mba Oase di seputaran UGM. Titik haru lainnya, adalah Mba Oase menyempatkan datang ke stand FKY-ku sebelum ke Malang. Disitu aku merasa aku punya arti dalam datang dan pergiku di kehidupan mereka. Terimakasih telah mengizinkan Fafat mendengar-melihat-menimpali-menggodai dibeberapa kesempatan.




Dua atau tiga tahun lalu, papasan sama Kakak Aunillah di jalan songongnya ngga kelewatan. Setaun setelahnya belio nelpon sahaya buat ngucapin selamat. Setaun berikutnya ada banyak kesempatan yang mendekatkan bukan sekedar hai haian lagi. WKWKWK. Aajaib banget emang. Bawa bule kerumah sakit. Ngajak kabur dr MH yang bikin heboh. Dan cerita panjaaaang percintaan yang dicuri dengar maupun dikisahkan live.

Mohon maaf, kalau saya jatuhnya lupa tanggal ulangtaun anda ya Mr Aunillah. Semoga dengan segala kebaikan yang diihtiarkan akan kembali menjadi kemudahan-kemudahan untuk kakak dikemudain hari. Sukses membangun jaringan internasionalnya. Kali aja kalau ngga bisa susulin anda secepat yang saya bisa. Ya saya bikin suprize lagilah apa gitu pas anda wisuda. 

Bahaha. Inget reunian di Europe yah bertiga. Hahahaha. Ya atau mungkin sekalian trip berempat atau berenam. Atau bertuju kalau Mirza tetep masih sendiri. Hahahahahahahaha.

Selamat menjooolang gadang abaang Ulin!


May Allah bless u :)


Ini yoiq banget ya pas itu, alus banget caranya. Wkwkw.

La vitá è dura, non so cosa potrei dire...


"Nah niki fungsine punya banyak saudara to, ada otomasisasi untuk berbagi," cerita bapak ke kami semua.

Teringat suatu obrolan di mobil pulang dari Klaten menuju Temanggung, ketika itu selepas takziyah ke keluarga mbah putri, kakak sulung beliau meninggal dunia. Tepat ketika abu Gunung Kelud sedang tebal-tebalnya.

Eyang ti dari Wonosobo (ipar), istri dari mendiang mbahdhe Slamet nyangoni satu lembar 20.000 untuk Dek Gibran, bungsu terkecil putra bapak ibu.

Seketika,

"Pak mangkeh berarti lima ribu lima ribu? Damel mbak bila, mas daffa, mbak hanun?"

Iya. Bahasa jawa krama yang diajarkan Bapak Ibu, yang penuh inggah inggih dan sopan santun. Rasanya saya merasa menjadi orang sangat beruntung menjadi bagian rakyat jawa yang berbahasa jawa, krama pula :)

Bapak langsung menimpali

"Nah niki fungsine punya banyak saudara to, ada otomasisasi untuk berbagi," cerita bapak ke kami semua.

Lalu Bapak menjawab Dek Gibran, "Nggih Gibran mboten popo seng paling katah, 7000 nopo pinten. Sisane saged dibagi ke mbak mas."

Obrolan di mobil lima tahun lalu itu selalu terngiang di hati saya. Sampai-sampai menjadi buah kebiasaan yang otomatis berusaha saya lakukan, entah ketika dilanggengkan rejekinya karena menang lomba atau apa pun yang Allah berikan.

Kehidupan sederhana yang paling arif yang Bapak Ibu ajarkan. Rasanya, saya merasa bersalah ke diri sendiri ketika nafsu saya sedang melambung dan malah berhedon ria. Seketika, pasti saya membayangkan Bapak Ibu makan apa di rumah? Atau adek-adek di perantauan makan apa?

Bukan sekedar itu,

Bahkan sehari-hari ketika kami masih sekolah dasar, tiap pagi Ibu kewalahan menyiapkan sarapan dan bekal ke sekolah. Berhubung kami sangat apa adanya, yang paling saya ingat Ibu sering masak satu atau dua telur dadar yang diberi parutan kelapa supaya lebih banyak dan besar. Lalu bisa kami bagi, telur itu untuk sarapan sekaligus untuk bekal kami berempat.

Ibuuuu... Rasanya di perantauan saya selalu ingin berteriak memanggil ibu dan pingin selalu bersujud penuh rasa terimakasih.

Kata Ibu, "Nggih sengaja ngeten niki Bil, ben ngenjing nek pun gede hidup susah mboten kaget."

Ingatan saya masih utuh mengingat kalimat sederhana Ibu.

Saya tidak habis pikir, Dek Gibran yang baru saja nyantri di Solo berusaha sekuat tenaga tidak jajan. Kata adek, "Eman-eman mbak uange, larang nek jajan, mesakke Bapak."

Nyasssssss. Saya serasa tersindir bukan main, saya disini bisa seenaknya tanpa rasa kasihan kalau mau jajan makanan kesukaan.

Sampai suatu hari Bapak mengirim screenshot chat beliau dengan Dek Gibran, "Niki kalimate adik Gibran sore niki marai ati grantes ning soyo dewasa berpikir," kata Bapak.

Ternyata adek juga bikin saya sesak, dia bilang ke Bapak supaya ndak usah beli-belikan barang biar uangnya bisa diawet-awet.


Itu sebabnya di tahun terakhir di Jogja setiap perpulangan saya lebih memilih untuk pulang ke rumah. Padahal dulu sebelum pergi ke Italia, pulang rasanya hanya melelahkan dan terlalu singkat.

Sekarang, rasanya ingin setiap Minggu pula. Berbagi cerita ke orang tua sebelum tidak sempat. Pesan Ibu lagi ke saya putri sulungnya yang selalu teringat,

"Bila nek pun sukses ampun lali adek-adek nggih."

Nggih bu, pak.

Semoga Bapak Ibu di rumah sehat selalu dan senantiasa dalam perlindungan Allah. Sehat-sehat Adek-Adek !

Vi amo amori miei.

Adinta.
1 Maret 2019
Dear semesta yang aku sayangi,

Ada banyak hal yang sudah terlewati. Ratusan kali bumi berotasi, sampai-sampai aku tidak sadar sendiri sudah sampai disini. Sampai-sampai aku tidak menyadari ada banyak hari terlewati tanpa menyisakan jemari.

Daaan plis Nabila come on, kemana aja kamu selama ini ?

Seperti roda berputar yang mungkin luput aku sadari, aku lebih banyak mengutuk takdir dan menangis sendiri. Lagi-lagi kenapa harus begini. Lalu suatu ruang romantis selepas kedua salam kusalami kepada Malaikat Raqib Atid pada suatu petang, aku menangis tersedu

Ada banyak orang yang super duper aku rindukan. Yang dekat terasa jauh, yang jauh terasa sangat melekat di nadi, tapi nyatanya ya tetap aja jauh.

Intinya sudah ribuan kali aku sesak sendiri, mengeluh sendiri- mungkin kalian juga gemas karena 8 bulan tetap belum bisa bikin Nabila totally move on. Move on dari Italy.

Boleh dibilang menangisku masih dalam batas wajar, belum sesesak ketika malam terakhir di rumah nun jauh disana. Iya, aku takut sekali bertemu semesta lain di khatulistiwa.

Sampai-sampai Mamma bilang, "Nabila kamu kenapa takut? Kamu berhasil bikin super good relations sama setiap orang disini. Inget kan, dulu kamu dateng tanpa bahasa sama sekali, kamu ngga kenal siapa pun."

"Inget, semua nunggu kamu di sana. Kamu udah bisa bahasamu, kamu dah kenal orang-orang disana. Kamu pasti bisa punya relations yang lebih baikk lagi."

Kiranya begitu, tafsiran singkat dari bahasa Italia.

Masih sambil menangis sesak, sesak, dan hanya sesak.

Aku buka lagi catatan-catatan lama. Surat dari Mamma. Katanya, aku masih dengan wajah yang sama, penuh rasa lelah seperti kali pertama aku sampai di Italia. È così la vita Nabila, dobbiamo vivere ogni giorno.

Terimakasih Mamma :)

Catatan kecil, akibat rindu akut Mamma yang setiap waktu berusaha memastikan aku baik-baik saja. Mamma yang rela bangun kapan pun di tengah malam, waktu tubuh sedang tidak bisa berkompromi.

Selamat siang semuaaa,
Terimakasih yang sudaa mau baca curhat mewek ala-ala ini~


di Jogja yang penuh teka teki,

Nabiladinta
Previous PostPostingan Lama Beranda