Blog

Joe's Food Blog

“My soul honors your soul. I honor the place in you when the entire universe resides. I honor the light, love, truth, beauty, and peace within you. Because it is also within me. In sharing these things we are united, we are the same, we are one. LEGAMI – We are dreamers.”

Hey, how’s life going on ?

New year eve in my life; nothing special thing happen except one year ago. It just different because I was on my exchange year in Italy so yeah I was so curious how’s new year eve there, in Italian they call il capodanno. So, I will say Buon Nuovo Anno that means Happy New Year!

It’s true if, in every part in the earth where we live in, each people has their own life. As a human being, we try to make a remarkable path right, and we’ll divide it in years. What’s your resolution and hopes in the year ahead? 

January 1st, 2018 to January 1st, 2019 

I lived in a bunch of emotions. I passed a roller coaster, there’s no stopping until the end of the day where I have to release my breath in the earth then change into a different kind of after life. I met new people, they all have a place in my heart. I learned so many life lessons. How’s exchange changed me in life. I learned how to look deep beneath my self. In life, it is how we’re grateful and makes every second of our breath meaningful with people surrounding us. 

I can say, in each month I have a particular story to tell me my self (so I can reflect) or well to you too. One thing that I am still afraid of simple thing maybe on your eyes but not to me, or might be you’ll agree with me;

I’m still, I couldn’t open my exchange year diary, I miss about last month to write in it. It is how all emotions every single day in Italy I wrote in. But no, I am still afraid, damn! Well in the other side of Italy, here in Indonesia, couple days ago I decided to start to welcome one book as my diary. A pink book with particular indian icon was given to me by Alice Tormen. My Italian plus indian girl ahahaha. Written in the cover of the book, 

“My soul honors your soul. I honor the place in you when the entire universe resides. I honor the light, love, truth, beauty, and peace within you. Because it is also within me. In sharing these things we are united, we are the same, we are one. LEGAMI – We are dreamers.”

Ahh, Alice, you’re more than just sweet amore. I do really miss you. The words are super duper marvelous right? It is like the voice of her heart. I do believe she wanted me to know that we’re still near and will always be her best friend even millions of kilometers desperate us physically. Ti voglio bene Alice.

By this short story, I am telling you a piece of my life that full of beautiful emotions and peace. Life is not always easy breezy as what Instagram feed says, those all emotions in past years and everything ahead, being thankful is the key to everything. There will always a bright side. May life lead your way to a better future!

Buon Nuovo Anno a tutti!


Khansa dormitory,
January 1st, 2019

Ulima Nabila Adinta

“It is better to walk around and defend yourself with your prepared equipment as long as you're with Allah.. Rather than you walk with many of your friends but they're actually really keen to hurt you upon your journey bcs they see what you don't see in which those what they saw first is the thing that will benefit you.” -Savinaaw-

Bercerita Masa Lalu

Beberapa waktu sejak tulisan terakhir saya tiga bulan lebih lalu, saya bungkam. Tangan, hati dan pikiran saya serasa kikuk. Atas terkaan saya, mungkin ini karena empat bulan ini dan seterusnya akan berjalan ke depan saya masih merasa butuh menyetel kembali frekuensi hidup saya di negeri saya sendiri. Tentunya, lima bulan lebih lagi ‘setelan’ ini akan melaju lagi masuk ke tempat yang berbeda, dunia perkuliahan yang di semogakan.

Dunia itu yang sekarang sedang saya khawatirkan dan saya usahakan menyusun dengan baik mimpi-mimpi saya. Tapi tak apalah, saya sedang ingin membicarakan masa sekarang bukan kekhawatiran dunia yang belum sampai itu.

Lalu bagaimana berjalannya penyetelan saya sejauh ini ?

Mungkin kalau saya memilih mengeluh karena kerinduan saya tentang Italia ke setiap orang yang saya temui, mereka akan bosan mendengarnya. Tapi toh tanpa saya bercerita, kawan-kawan terdekat saya yang melihat bagaimana kerinduan yang semacam ini kerap kali membuat saya benar-benar cemas dan menangis tersedu. Saya pikir, daripada menangisnya saya ini alih-alih hanya akan membuat sia-sia lebih baik saya haturkan kepada Yang Maha Memberi Hidup di setiap sujud saya.

Penyetelan ini sungguh bukan perkara mudah, ruang tempat hembusan nafas saya sepersekian detik setiap waktunya banyak saya habiskan di Kota Jogja.

Bercerita tentang Jogja juga tersambung tentang bagaimana saya kembali belajar mencintai Jogja di setiap sudutnya. Eh, Jogja sudah lama saya cintai tapi kalo yang ini semacam ingin mendetail lagi menikmati setiap sudutnya, hehe. Saya tergerak lagi menulis karena kawan saya, Hidanul Achwan yang sejak setahun lebih lalu berhijrah ke Mesir untuk belajar.

“Kangen tulisanmu. Tulisanmu macet lama puol. Terlalu banyak yang bisa dibacakan dan diceritakan sebetulnya, take and give. I hope kita bisa bertukar cerita dan pikiran di media dan tempat yang efekttiifff, Aku butuh cerita dan perjalanan-perjalanan orang lain. Makanya aku berharap bisa baca tulisanmu. See you on top bils!” katanya penuh harap lewat pesan WhatsApp yang dihubungkan satelit di langit melintasi jarak dan waktu, Jogja dan Kairo.

Saya menyadari, menggerakkan tangan buat menulis bukan hanya perkara mood dan tidak mood, tapi harus ada impuls-impuls lain yang saya harapkan mampu memicu saya buat mensinkronkan perkara-perkara yang sulit diceritakan lewat suara. Setelah banyak perjalanan dan perpindahan tempat yang beberapa kali saya lalui, muncul kegelisahan tersendiri. Ada hal-hal yang tidak selesai kalau cuma saya pikirkan.

Sebagai akibat entah dari kesulitan saya menyetel frekuensi hidup saya di Jogja, banyak kali saya mencari cela supaya bisa keluar dan menghirup nafas di lain kota. Sampai-sampai ada kawan baru yang dulu berlabel ‘adek kelas’ haha, berfikir agak ngaco yang diceritakan ke kawan lain, “Mbak Nabila ngga betah po di angkatan kita, kok sering-sering pergi.”

Atau celotehan lainnya begini, “Perasaan dulu Mbak Nabila taat dan ngga pernah ngelanggar, kok sekarang sering banget ngelanggar.”

Saya tersenyum simpul, padahal dalam hati saya tertawa keras, hahaha. Bukan, bukan, bukan soal kalian tidak mengenakan kawan :), tapi sering pergi-pergi memang tabiat saya sejak dulu. Kalian sangat menyenangkan dan baik hati, masih mau menerima saya di angkatan kalian dan mungkin berusaha sekuat tenaga menjadikan saya seorang ‘teman’, bukan lagi ‘kakak kelas’. Meskipun masih terasanya saya tetap kakak kelas kalian. Tapi kalau siapa pun dari kalian mungkin baca tulisan ini, saya santai kok malah seneng banget kalo pakenya ‘aku’ bukan ‘saya’ kalau lagi sama Ulima Nabila Adinta.

Nah, thats why

Penyetelan frekuensi saya yang sekarang ini ber-title ‘down grade’ ke orang-orang sekitar saya. Setelah berhasil melewati 10 bulan di Italia yang berusaha menghadirkan ‘eksistensi’ di tengah segerombolan manusia asing yang bahasanya pun harus saya pelajari dari nol. Ketika itu saya seperti diminta oleh alam untuk menunjukkan grade saya yang seorang perempuan dari negara berkembang juga berkemajuan di tengah kehidupan negara maju, Italia.

Saat kembali, down grade yang saya ceritakan tadi menantang saya untuk menghadirkan diri saya yang ‘biasa-biasa aja kok saya mah’ di tengah orang-orang yang selalu sibuk berfikir kalau saya itu ‘tinggi’, “Wah dia kan habis pulang dari Italia, udah dulu ke Amerika terus ke Italia,” dan kalimat pujian lainnya yang justru itu ujian dari langit buat saya. Yang justru serasa jadi tabir di antara saya dan mereka, nah itu titik poinnya.

Saya harus tetap optimis dan bertingkah sesederhana mungkin untuk menembus tabir-tabir atas spekulasi dan ekspektasi orang-orang terhadap diri saya atas apa yang saya lakukan. Tentunya itu terjadi secara tidak langsung bukan ?

Ada orang-orang yang selalu menjadi pusat bertanya saya dari beberapa tahun lalu, salah satunya Ustadzah Nur Hasanah. Dulunya beliau musyrifah saya dua tahun di asrama dari kelas 7-8 tsanawiyah. Berganti, sekarang beliau jadi pamong asrama adek saya. Saya mampir ke asrama Ustadzah Nur.

Singkat cerita, beliau menyampaikan kekhawatirannya atas diri saya. Takut kalau saya jadi liberal haha, takut karena kelihatannya saya berubah drastis dari dulu yang ustadzah kenal. Saya mah ketawa aja ya, lalu saya menceritakan pergolakan batin atas perjalanan-perjalanan saya selama ini. Hasil obrolan itu, ustadzah berniat ngajak saya nongkrong suatu saat, hehe. Tapi belum kelakon.

“Bagi ustadzah ke luar negeri itu ya peluang aja, yang penting itu akhlaknya. Kalo akhlaknya menurun ya dia ngga ada hasil apa-apa dong,” ujar ustadzah santai ke saya sambal bercanda, haha.

Pulang dan kembali itu ternyata bukan sesuatu yang hanya ‘sederhana’, ada nilai-nilai yang kita bawa dan temukan. Sebenernya, yak arena berbeda tempat aja. Tetapi kalau dalam jangka waktu yang lama, bisa jadi beberapa hal terlihat kacau haha.

Kalau yang saya rasakan sekarang, sebagian besar dari saya dari awal serasa sudah menolak kembali ke kehidupan asrama. Tapi itu sebuah keharusan, sayangnya. Sebenernya juga, saya pikir saya masih tergolong ‘biasa saja’, tapi karena mungkin watak kawan-kawan baru saya berbeda cara penolakannya. Saya bisa dibilang, suka banget mencuri-curi keluar asrama sampe malam. Asli, cuma pingin maen aja kok.

Sedikit dari diri saya juga menolak untuk berontak kok, tapi itu sedikit aja. Dua kali saya diloloskan Wakil Direktur III untuk ke luar kota, ikut kerja tim yang baru saja saya ikuti sejak September awal. Pertama kali, saya ke Sidoarjo. Motif lainnya sih juga biar bisa ketemu kawan akrab saya, Savina Returnee AFS Jepang yang belum ketemu face to face. Kalau saya nggak ‘ngeyel’ mungkin saya pasrah karena ngga dibolehin. Tapi walhasil bisa juga kan. Dalih yang bunyinya begini, “Sudah kelas 12 Nabila udah dicukupin melalang buananya,” sudah sejak lama saya tolak di alam bawah sadar saya.

Apa salahnya coba ? Asal tetep bertanggung jawab ?

Kali kedua, saya berhasil menembus izin buat ke Jakarta ikut acara ASEAN- IPR Youth Conference di Sheraton Grand Hotel di kawasan elit Gandaria City. Lagi-lagi saya butuh ‘eyel-eyelan’ dulu buat meloloskan diri saya, gold chance ini berhasil bikin saya bisa ketemu AFS friends lainnya di Jakarta; Fadhi, Maysa, Gandhi, Farah, Shella, dan Shintya. Beuh, it was one of the best day after exchange. Berbagi cerita dan bercandaan tantangan-tantangan as exchange students. Hadiah kecilnya, dapet foto gratis dari photo booth yang disediain waktu exhibition. Intinya sih, selain dapet relasi baru saya diuntungkan karena pas apesnya lagi kantong kering, Yang di Atas kasih kasa pintu rejeki ngga terduga.

Setelah kawan-kawan baca sekilas cerita saya, entah mungkin kalian berpresepsi lain tentang diri saya sebelum dan sesudah ke Italia. Tapi memang itu lahir dari banyak pergolakan batin yang saya lewatin. Pertemanan saya berjalan sangat dinamis, banyak juga yang mungkin di luar ekspektasi saya. Terkadang saya jadi lebih suka go alone karena bisa nikmatin me-time, tapi kadang saya juga mikir, “sometime I'm thinking, "gapapa apa ngga sih kalo sering sendiri begini kalo jalan (?) Apa aku kudu reach some people that will take a lots of my time (?)”

Tiba-tiba kata-kata Savina jadi bikin saya merasa “ngga papa” setelah dia kirim super words melalui WhatsApp,

 “It is better to walk around and defend yourself with your prepared equipment as long as you're with Allah.. Rather than you walk with many of your friends but they're actually really keen to hurt you upon your journey bcs they see what you don't see in which those what they saw first is the thing that will benefit you.”

Awww thank you Savina, it’s make me realize. Lastly, I’d like to say thank you to Mirza and Thariq, yang baik hati dan tidak sombong mau nemenin Nabila bikin quality times,  yang jelas kami bertiga sejak dulu hamper satu frekuensi :)

 It was life changing, so life has changed me. Tapi ada satu pertanyaan yang selalu bikin resah di diri saya, kadang juga saya tanyakan ke orang lain,

If you were me, what will you do ?


Salam Ciao !
Temanggung-Yogyakarta, 9 – 14 November 2018

Ulima Nabila Adinta






You build a life for 18 years and leave it for 10 months. You build a life for 10 months and leave it forever. Which one is harder (?)

Tepat satu bulan lalu lintasan jarak dan waktu yang menembus langit Eropa kembali ke Asia memberhentikan putaran kehidupan yang aku jalani di Italia. Satu tahun, bukan waktu singkat yang bisa dihitung seperti perjalanan biasa seorang manusia. Kalau ditarik mundur lagi ke belakang, ternyata the hardest years and full of challenges sekejap terlewati. Putaran roller-coaster dari manjadi perempuan pemimpi - kandidat AFS - officially an AFSer - and now FRESH RETURNEE AFS. It was like, wow finally I did - cheers people ! And it is now where I am, in Indonesia. I’m back yeah !

Ternyata eh ternyata once AFSer, always an AFSer. It’s true, this is not the end.

One month passed - it stucks really.

Menunggu-nunggu waktu yang tepat untuk berbagi, setelah sekian lama dari sejak hari-hari sebelum pulang di Italia sampai di Indonesia olahraga hati yang kudu terus dipompa tanpa henti. “Olahraga hati menahan rindu berkali-kali dengan banyak orang baru yang masuk ke dalam kehidupan dan sangat berbekas di jiwa,” Maura Sekar bilang gitu lewat cuitan tweet-nya. It might be so hard to pass these hard years, again and again kerasa exchange-nya bukan cuma setahun di Italia. Back, my school friends has already gone, left me alone. Teringat selalu, pertama kali sampai di ‘rumah’ Italia I was alone, it’s almost same.

Olahraga hati semacam apa ini. But really tho, exchange year makes me realize that nothing’s gonna be the same forever. It feels like, I will do one year of exchange again after back to Indonesia. Reverse Culture Shock is real to say.

Behind everything that happens or you guys see on my instagram. There are always concern that comes most of the times. Remember how lonely it was in Italy. Well, when I back to Indonesia it is lonely too, but a different kind of lonely. I realize that the relationship I had with people in Indonesia were basically stagnant for a year.

I couldn’t speak much. 

Menceritakan tentang exchange year serasa stuck di lidah. Kalau pun ingin, terasa berat untuk diungkapkan karena pendengar-pendengar terbaikku sebelum exchange were totally changed. Aku harus mencari lagi. It’s hard to feel strange in a country where I was born. Aku ngga membayangkan kalau reverse culture shock ini ternyata nyata adanya. My life has changed so big in one year. 

Aku pernah di titik merasa ‘tidak bebas’ di negaraku sendiri, seberapa takut dan khawatirnya aku kembali ke kehidupan asrama. Empat tahun SMA dan punya banyak angkatan; angkatan sebelum pergi di SMA Genetrix 92, angkatan AFS Indonesia Gelora Garuda Muda, angkatan di Italia, dan angkatan setelah pulang Belixiont 93. How many people on my high school’s life dude ?

Sampai sekarang aku masih belum berani membuka galery fotoku di Italia, seberani-beraninya aku hanya membuka scrapbook yang isinya kumpulan daun-daun yang aku kumpulkan dari musim gugur sampai musim semi tanpa ada banyak foto di dalamnya atau surat dari Mamma Papà. Surat adalah yang paling kuat bikin aku nangis. How hard it is, I left Italy forever. I back, that wouldn’t be the same anymore.

——

Kekhawatiran kami para AFSers Indonesia lainnya adalah ; masuk sekolah dan takut dikira sombong karena betapa masih excited nya kami dengan jiwa host country yang melekat kuat (as simple as keceplosan pake Bahasa sana)

It happens to me OMG.

Beberapa kali aku keceplosan menanggapi percakapan pake bahasa italia. Bukan bermaksud sombong, tapi ‘satu tahun’ bukan waktu yang cepat buat kemudian mengubah 100% kehidupan kita dan bahasa sehari-hari. Tapi memang fakta berdasar realita yang terjadi; Returnee AFS gabisa kalo ngga ngegas hahaha, dan cerewet. It might be because we speak again our mother language.

Yang aku lakukan di Temanggung setelah pulang adalah pergi ke daerah gunung sindoro buat refleksi atau sekedar quality time bareng Salsa dan Dek Daffa meskipun ada insiden jatuh dari motor sama adek pas nerobos jalanan sawah hehe. Menyapa Ulya yang ketangguhannya atas cobaan sakit yang menimpanya dan dia masih inget aku, “sayang nabila, kapan pulang ?” tulisnya di kertas karena waktu itu dia masih belum bisa bicara. I tried to hold my tears. Ti voglio bene Ulya, May Allah put you on High position of eeman. 

Sedihnya, banyak yang pergi dari Temanggung. Termasuk sampe saat ini aku belum ketemu Dek Gibran. Ada perasaan ingin menyendiri, tapi di sisi lain ada desakan untuk bertemu banyak orang yang ngga aku lihat setahun ke belakang. Kembali ke Jogja, ternyata semua berubah. Pertemanan, sekolah, beberapa sudut di kota Jogja, pusat kota, kehidupan asrama (lagi) dan banyak hal lain yang aku rasa ‘aku tertinggal banyak’. 

Masuk ke satu angkatan dimana aku jauh paling tua dari adek kelas. Kurikulum yang berganti dari KTSP jadi kurtilas, koridor lantai merah yang ngga lagi sama, gang Suronatan yang diisi banyak jajanan baru, dan banyak hal lagi. Kembali menyesuaikan life style Mu’allimaat, sekolahku. Tapi ternyata teman-teman Genetrix 92 berdatangan silih berganti seminggu pertama di asrama. 

How lucky I am having them, they’re so supportive.

Kondisi kelas yang kontras bedanya dari sistem duduk mereka sampai belajar masuk lagi ke jokes mereka. Wow, it won’t be the same again. Kaku dan bingung karena belum punya kesibukan baru selain sekolah, anyway aku juga jadi perempuan yang sangat boros di minggu-minggu awal karena sering beli jajanan makanan yang ngga aku makan setahun. Tapi ternyata apa yang aku bayangin di Italia sebelum balik, “kayaknya aku bakal soooo excited sewaktu makan makanan Indo lagi,” NO , ternyata ini biasa aja. Why it is just so like this (?)

Ada banyak rasa-rasa yang menjadi biasa aja dan malah dikuasai kelinglungan. Kesedihan yang melanda di hari pertama sekolah, kebingungan cari partner duduk, perasaan sangat excited belajar lagi di Indonesia. Berkali-kali aku mencoba mencari waktu untuk -me time- dan menuliskan ini. Tryin’ to engage many people as I can. 

Hal terparah yang aku tahan-tahan adalah kebiasaan minum kopi italia. I can say, kopi Indonesia boleh jadi lebih enak tapi kopi italia stole my heart. Gimana bisa kopi yang setiap hari aku seduh setiap siang biasanya tiba-tiba hengkang dari kehidupan. Buat membalas kerinduan, suatu Jum’at yang sunyi meluncur ke coffe wae buat minum kopi dan kamis lalu menyeduh kopi hitam bareng langit senja. Tryin’ to catch everyone again.


Kejutan setelah kepulanganku adalah Ariel Santikarma berlabuh di Jogja bareng Izzy John juga buat Summer Internship dari Volunteer in Asia’s program. Ariel ini temen aku blaster Bali-Virginia US. Sebelas hari di Indonesia kami ketemu di Nanamia Pizzeria (and I was WOW PIZZERIA) and had a deep talk about exchange. How she did, and me tho. Logat Ariel kalau ngomong indonesia yang lucu dan suka bilang, ‘masak’. Dua kali kami bertemu di kesempatan dinner, she knows me so well about how’s my feeling now. 

Dia cuma bilang, “Aduhh kasiaan banget kamu” . I do Ariel sayang :)) Hati-hati pulang !

So to you guys,

That would love to share my stories. This is me, life after exchange. My self has changed a lot, the way I talk, I dress up, doing my hobbies, everything has already changed. But still, I always Nabila, being who I am. Ready to swim inside the pool of choices. I miss every single thing in Italy, my room that I cried about three day while I was tryin' to sleep on my room in Temanggung. Being crazy of everything that re-new I see here. 

Ciao,
I am telling you bunch of random thoughts and feelings.
Write this story and listening Italian and Spanish songs that still on my fav playlist dangg


Yogyakarta, 9-10 Agustus 2018
Ulima Nabila Adinta


Sejak masa itu,

Hari yang kalau dihitung mundur sepersekian ratus atau puluh atau ribuan ada satu momentum bertanda buat seorang bayi mungil. Sepersekian juta detik yang lalu bayi mungil itu tetep dipanggil mungkin sampai dia duduk di bangku merah. Barangkali kalau manusia sekarang kenalnya dia sekarang yang udah melambung tinggi (melebihi aku hikss) ga nyangka kalo dia juga pernah sangat mungil, rasanya ngga bakal deh tinggi-tinggi.

Namanya Wafda Salsabila, teman yang harusnya bareng 12 tahun tapi jalan takdir hidup bikin aku bersama dia 11 + (1) tahun hehehe. Sekalipun dia berubah nama jadi WS sejak enam tahun lalu, aku tetep aja gabisa merubah panggilan yang melekat selama enam tahun sebelumnya, sekali Salsa ya tetep Salsa.

Enam tahun pertama penuh drama, lima tahun setelahnya penuh tragedi.

Tapi ternyata dia yang paling betah membersamai sampai aku harus pergi duluan ke Italia, dan ditinggal lulus duluan sama Salsa

Aseli de hidupnya pas SD penuh drama, rasanya gemas dikasih Allah sekelas 7 tahun ya Sal ya. Kenapa sih pas di Jogja cuma bisa setahun sekelasnya (?), gerutuku.

Pernah akur ? Pernah deket ? Pernah biasa aja ? Terus endingnya sekarang deket atau biasa aja atau “siapa sih nih orang” , jawabannya gatau deh. Tapi Sal, perjalanan 11 tahun bareng tuh bukan hal yang biasa aja loh mau seberapa deket atau ngga deketnya kita. Aku tetep mengakui kamu pernah ada , pernah mungil sampe tinggi menjulang kaya tiang yang akhirnya jadi kapten sesuatu hal yang besar.


Cerita waktu SD gimana ya Sal (?) 

Aku inget banget deh kita tuh pernah sekelompok pelajaran PKn dan kerja kelompok di rumahmu tapi endingnya aku mutung dan ngerjain itu sendiri. Lalu kelas empat kalo boleh jujur pernah aku sama Dinda Alyek dkk tuh ngasih sebutan ke kamu, aku lupa apa tapi gegara cerita drama-nya sih, “wah Hasna bakal direbut Salsa lagi” alibinya sih gitu.

Drama banget deh ihh yakin. Suatu weekend yang (mungkin) aku juga jadi faktor penggagal kamu gajadi jalan sama Hasna ke rumahnya Naya atau Hasna, kamu malah nemu aku sama Hasna di warnet deket terminal Temanggung. Ala sinetron gitu kamu narik Hasna keluar dari bilik, 

“Loh has kamu kokk malah maen sama Mbak Bila ?” katamu. Kamu ga terima ya (?)

Hehe.

Terus waktu akhirnya kita akhirnya barengan sama Naya, Mega, dan Hasna juga ke rumah Naya. Helooo cuma mau naik ke rumah Naya aja ribet mau lewat tangga apa jalan biasa. Terus Naya bilang, “Iya tuh Salsa emang egois aku juga gatau.” Hihi lucu bangett, kita sama-sama egois sih. Drama banget lagi, HAHA gakuat Sal gakuat Sal ternyata kamu semakin gede.

But, aku ngga nyangka ternyata diantara sekian banyak yang jadi temen deketku pas SD kamu yang akhirnya bareng sama aku di Jogja. Lalu karena kamu juga aku jadi Ketua Angkatan, iya kamu mulai promosi uhh itu ngeselin tau gaa. Inget banget dulu kamu ke asrama Siti Aisyah di kamar 7 bilang, eh iyaa Nabila aja. Huhu tau gaa aku takut waktu itu.

Sejak di Jogja kamu juga jadi manggil aku cuma Nabila, ngga pake mbaa lagi. Akibatnya kamu jadi makin tinggi, karena aku ngga terlihat lebih gede lagi dari panggilanmu ke aku *eh apa banget ga sii*. Aku ngga pernah lupa Sal, ternyata aku juga jadi semakin kagum sama sosok Salsa yang sangat menyenangkan dan humble, transformasimu yang akhirnya jadi Ketua KIR mashaAllah, jadi salah satu ketua organtri. Berarti kita bisa ngebuktiin kalo lulusan SD kita itu bisa diandelin. Kamu dengan caramu dan aku dengan caraku.

Ternyata aku yang mengawali sebuah janji sebelum itu.

Aku juga yang mengawali lupa sampe kamu bisikin aku di bandara sebelum aku terbang ke Jakarta lalu ke Italia.

“Bil kamu inget ngga dulu bilang kita bakal sama-sama kasih hadiah kalo aku jadi Ketua KIR dan kamu jadi berangkat AFS,” kira-kira begitulah intinya. MASHA ALLAH SAL malah aku sendiri yang lupa. Sekarang aku gabakal lupa lagi kokk ! I just need to tell my secret stories to you, yang aku belum lakuin. Makanya we need to nge-date habis aku balık !!! Cuma kamu yang ngerti bener transformasiku dari jaman bayi sampe aku bisa di titik ini sekarang.



Walopun kita saling jalan di hidup kita masing-masing. The one yang aku inget I need to keep in touch salad satunya kamu Selma masa exchange-yearku. Aku kangen banget Sal ngobrol sama kamu, dari hal goblok sample soal masa depan.

KAMU SALAH BESAR HAHA, TADI NGE-REPLY STORY-KU on my second account,

“Lupa sama aq”

Nooo, I am not that kind of temen yang jahad. I was looking the right time to write this letter to youuu, so you know how many years we’ve already know each other (better). Aku tulis ini tanpa edit, supaya memorimu inget lagi, sel-sel otakmu ngga jahat buat ngelupain berapa belas tahun ke belakang. Gapapa gapapa koq aku di sapa pas wisuda, “Hei temen, q duluan yy” -alay banget sih nulisnya HAHA, itu ngebuktiin bahwa seberapa gede badanmu tetep aja kamu masih baby face-imut-cantik-anak kecil.



Selamat bertumbuh dan mendewasa Salsa !
Tanti Auguri - Buon Compleanno amore 
Take your time to live your life - you're already GEDE Ok, 

Doaku tanpa tertulis menyertaimu tanpa kamu minta, 
Ingat, aku selalu temanmu sejak masa itu 

2006 - 2018

Salam jauh dari temanmu,


Ulima Nabila Adinta

Italia, 15 Mei 2018 : 18.30 



Lena,

The hills, the castle, and the lake are just the right side of me now

I’m telling you guys about the girl that's kind-hearted

She puts an emotional moment inside my heart

Yeah, you can know her as Lena Sailer. Yes, her surname is Sailer, if you guys know I don’t know when it has happened. One of Ski’er from Austria won some championship, my host dad told me. I think her blood is from Austria, she lives among the beautiful mountains in South Tyrol Italy. Now there the flowers and the apple trees are turning like a paradise to see with our natural eyes. Pretty much beauty

I don’t know how life brings me to know her. Like I’ve told you before in my journal in early January that we’re connected because of Oase. The girl that super cute and kindhearted too, especially to me hehe. Her words could make my heart fresh and believe in life ahead of me. 

Thank you Oase,

You’re such a fortune girl have Lena as one of your best friend in China. 

Oh my God, it is just how you grateful to your life dear and the world just feel like sooooo small. 

Because of Lena, I could see the super incredible winter in South Tyrol which one part in Males that we’ve been there freakin’ near to the border of Switzerland. And now, I could see from my eyes how the beauty of old city Innsbruck. I through the hills and the mountains that connected Italy and Austria.

Because of Lena and her family, I could decide the food that I like the most, that is Canederli. You should try really !!! Or maybe if you’re a lucky person I will cook it for you in Indonesia maybe. But I think I should cook it for Oase. About a few hours ago before the departure time of train separate me and Lena. She said, “And give my big hug to Oase. Cook canederli for Oase”

I replied sincerely without any consideration. I WILL COOK IT OF COURSE LENA.

Lena is the one who is soooo patient with me. She lets me sleep comfortably. She hears me what I want before we should leave some part of the pretty city. She asks me what I need. She protects me in everything. Ohh God I couldn’t imagine that a few hours ago will be last time I see you in Italy. But I keep your promise that you will come to Indonesia or maybe if there’s a big miracle like you said, I and Oase will explore Europe one day.

Lena, but one thing that I think is this is the power of kindness. I can feel how close you’re with Oase in China, you both had built the kind of kindness then you guys wouldn’t forget it and hope always to see again in person. Then, nowadays you feel like want to build that kindness to me. You did it babe !

I don’t know how much thank you I have to say to you. But trust me when you come to Indonesia I’ll be the best tour-guide haha with Oase too. We will hike some mountain there.

You’re such an elegant girl by your fashion, kindhearted girl by your eyes and smart girl by your intuition. You’re ROCKKK GURLLL !!

Anyway congratsss for Imagine Dragon and I am so much envy :( one day if the big miracle comes to me I will tell you that I go to the COLD PLAY concert. Okey, babe DANKE !

You know how much we love you !

Thank you for laugenbrot bread !

In bocca al lupo. Grazie carissima


Nabiladinta's hug 
Innsbruck - Bolzano,

1 Mei 2018
Previous PostPostingan Lama Beranda