Nabiloski De Pellegrini

 Ha ha ha.

Karena ini tajuknya happy, jadi mari ber-hahahihihehe dulu sebelum berkhayal kesana kemari, untuk prolog yang manis aku mau menuliskan doa singkat untuk ulang tahun ke-21 ku yang lalu di 1 September kemarin. Kata Mbak Hal,

"..Semoga senantiasa dikaruniai sehat dan badan yang kuat supaya bisa terus mobilitas tinggi spt nabila biasanya. senantiasa dikasih hari dan orang orang baik supaya walaupun hidup kadang nyebelin masih bisa ketawa. panjang umur 💛✨"

Doa baik ini cukup menggambarkan hal-hal yang bisa bikin aku bahagia, sehat dan kuat lalu bisa tetap bermobilitas tinggi di tengah hidup yang kadang nyebelin ini. Aku nggak suka main tebak-tebakan tapi kalau kamu yang baca ini tebakannya benar sebelum baca sampai bawah,  tentang apa yang bisa buat aku bahagia, kamu keren! Nanti kalau ketemu tagih janji aku ya untuk peluk kamu kencang-kencang.

Pertama,

Ada ritual-ritual sederhana yang biasa aku lestarikan sehari-hari sama orang-orang tersayang atau kadang sendiri aja juga udah bahagia. Bangun pagi tanpa tidur lagi setelah subuh, ngeteh atau ngopi sambil ngemil gorengan lalu menghabiskan pagi dengan baca sekian lembar buku. Rasanya aku merasa bahagia dan pagiku nggak terbuang sia-sia. Momen ini jarang terjadi kalau aku di Jogja, tapi bukan berarti aku nggak bisa bahagia ya. Tapi lucunya, pandemi ini bisa jadi bentuk syukur tersendiri karena aku sungguhan bisa menghabiskan pagi dalam rentetan hari yang jumlahnya lebih banyak. 

Kedua,

Menghabiskan waktu bersama diri sendiri dan ngobrol kesana kemari bareng teman-teman juga hal yang aku terus coba rawat dari dulu, biar ada jeda yang aku cuma bisa tau kalau "kali ini aku hanya punya kata senang" kalau lagi sama mereka.

Ketiga,

Dihadiahin buku secara tiba-tiba dan ditanya, "Kamu mau buku apa Nabila?" WAH. Ini hadiah paling berharga all! Walaupun buku lebih sering dikonotasikan sama hal-hal yang serius tapi bukan berarti lebih banyak seriusnya ketimbang 'riang'-nya hehe. Justru, aku merasakan riang karena seenggaknya bisa tau tempat-tempat tersembunyi di dunia, kata-kata magis yang nggak belum pernah aku temui, dan rentetan kalimat panjang yang melegakan hati yang bisa aku baca dari deretan panjang kata demi kata di dalam buku. 

Yang akhirnya bisa jadi kosa kata tambahan untuk mengapresiasi teman-temanku dengan tulisan, lewat kiriman doa ulang tahun mungkin atau surel yang aku sengajakan kirim untuk mereka. 

Ini bahagia sekali. 

Keempat,

Diajak climbing. Aku pastikan aku bakal bahagia, karena rasanya aku bisa re-connecting sama Papa Aurelio dan Tommaso yang jadi guru ajibku. Yah sayangnya, sepulang dari Italia aku nggak kunjung menemukan teman yang mau kuajak dengan niat yang mantab. Kamu yang baca ini, kalau mau dan bersedia diajak ribet cari peralatan, langsung hit me up ya?

Kelima,

Kumpul bareng sepupu-sepupu dan pakde bude bulek om, momen ini sungguhan bisa buat aku bersyukur berkali lipat menjadi bagian dari mereka. Melepas jeda dari rumitnya hidup yang biasanya, kalau sama mereka aku bisa seutuhnya 'nyaman' dan jadi apa adanya seorang 'nabila' disaksikan saksi-saksi kehidupan sejak aku bayik dan main di kali sampai kulit menghitam dan kuat panjat batu tebing pinggir kali atau main ninja warrior-an. Nostalgia sekaligus merekatkan kerabatan, bertemu sama akar yang sangat dekat dan berasa dipeluk erat lalu dibisiki dengan kata yang tersirat, "Kamu berarti Nabila buat kami."

Ommoooo i feel loved.

Keenam,

Melakukan perjalanan sambil asik sendiri atau nyanyi sekencang-kencangnya sambil membayangkan kalau aku beneran lagi joget dengan headset di telinga. Memutarkan playlist kesukaan aku, dari musik indie, latin, dangdut, kuno jadul sampai yang terkini. Rasanya ini private space yang berharga karena aku punya ruang untuk melepas lara.

Ketujuh,

Diberi love letter sama kamu, ciecie. Apa aja, love letter bukan melulu soal cinta atau rasa suka yang semacamnya yang terbatas "dari orang yang aku suka" (tentu kalau beneran dapet ini aku bisa melayang ke udara ya, hehe) tapi dari teman-temanku yang tersayang. Makanya momen ulang tahun ini aku suka banget karena teman-teman atau rekan jauhku yang lain jadi punya "momen yang pas" yang mungkin sulit dicari untuk memberikan aku doa-doa yang panjang. Pas aja gitu kan ya momennya kalau pas ulang tahun itu? Apalagi dunia maya memberikan kita banyak tempat buat berkreasi.

Ini salah satu momen untuk re-connecting lives. Tentu hal sebaliknya juga aku lakukan ke ulang tahun teman-temanku.

Tujuh ini cukup mewakili, tapi sebenernya bisa bernafas dengan lega tanpa sesak dan beban berat di dalamnya aja udah buat aku bahagia.  Mungkin nggak cukup kalau aku tuliskan semua di sini. But those are seven things that make me happy for who I am now. Thankyou my loved ones.

Semoga kita semua bisa menjadi manusia yang tumbuh bahagia dan membahagiakan bersama-sama. Your presence matters in my life🖤

love,


nabiladinta.

Temanggung, 2-3 Oktober 2020


 Hello World!

Sekitar tiga minggu lalu  tiba-tiba sekali aku menemukan challenge yang amat menantang di TL twitter. Yaiyalah menantang Bil namanya juga challenge, tapi sengaja aku tunda sampai di tanggal 1 Oktober biar “30 Days Writing Challenge” ini bisa runtut dan lebih terukur dalam hitungan bulan. 

Mungkin ada tema di hari-hari tertentu yang akan aku ubah, I think it’s too personal (hehe) ada privasi-privasi tertentu yang sengaja aku simpan sendiri. Hari pertama ini bertajuk Describe Your Personality. Kalau bicara tentang personalitas, ini mungkin salah satu cara untuk mengenali diri seorang Ulima Nabila Adinta lebih dalem. Bagiku, mengenali diri itu nggak bisa cuma sekali atau dua kali, karena seharusnya terjadi setiap hari.

It’s all about identity. Every individual carries multiple identities: family, religion, ethnicity, region, nationality, gender, language, etc.

Di dalam periode perjalananku tumbuh dan mendewasa sampai usia 21 tahun ini, banyak banget pergolakan batin atau pun peperangan kehidupan yang udah aku lewatin. Aku seorang anak sulung dari empat bersaudara. Datang dari keluarga yang biasa-biasa saja dan juga seorang yang biasa-biasa saja. Yang aku tau, lahir di Temanggung adalah suatu bentuk syukur tanpa jeda. Menjadi seorang perempuan sulung, aku merasa pernah ada di titik yang ‘sangat egois’ dalam lingkaran terkecil ke adik-adikku. Karena Bapak dan sahabat-sahabat SD yang dulu gemar membaca KKPK aku tumbuh menjadi seorang gadis yang candu membaca Ada titik-titik hidup tertentu yang membentuk seorang 'aku'.

Banyak orang bilang, seharusnya aku lahir menjadi seorang laki-laki, haha. Emang sifat yang ke-laki-laki-an dan ke-perempuan-an itu paten ya? Lantas kalau aku punya identitas seksual sebagai seorang perempuan apakah nggak boleh untuk melakukan sesuatu yang kebanyakan laki-laki lakukan? Tentu nggak kan. Bapak dan Ibu nggak pernah membedakan perlakuan ke aku dan adik-adikku. Kata ‘mampu’ ya ukuran kemampuan diri, bukan soal kamu perempuan atau laki-laki. Aku seseorang yang punya kebebasan tapi juga nggak jarang mempertanyakan kebebasan.

Kalau ditanya suka apa, aku hobi melakukan yang aneh-aneh seperti misalkan mengoleksi batu dan pasir. Jadi kalau kamu dari negara mana gitu, mau bawain aku oleh-oleh dibawain batu pasir aja aku dah seneng. Apalagi dikirimin postcard hehe. Mengabadikan memori dan momentum adalah hobi abadiku, sesederhana menulis random dan menyimpan foto yang sekedar screenshoot-an remeh atau pap-an teman. Mengeksplorasi bumi dan segala isinya adalah skill yang sedang aku tingkatkan setiap harinya, biar bisa menjelajah sama kamu suatu hari nanti, kan ya? 

Mahasiswa yang nggak maha-maha amat seperti aku ini udah betah nongkrong di kelas-kelas antropologi sembari membaca karya-karya etnografi. Bicara topik-topik yang menggedor-gedor dan memporakporandakan pikiran. Gemar bercerita, berkawan dan berceloteh ria di akun sosmed dari penting sampai nggak penting. Namanya juga nabiladinta, merayakan hal kecil itu penting banget meskipun sekedar bikin senyum-senyum sendiri aja (hehe)

Bercita-cita jadi orang kaya, sebenernya motivasinya biar bisa terus merayakan hobi dan lagi-lagi biar bisa jalan-jalan bareng kamu.

sending love,

nabiladinta.

Temanggung, 1 Oktober 2020



 "Oh ya kamu tau darimana aku dulu pinginnya begitu"

Sebuah perjalanan singkat dengan seorang teman.

-

sambil menyembunyikan rasa malu keras-keras, tapi tak bisa.


"Kamu dulu pinginnya sekolah di pesantren yang berjilbab besar kan Nabila"


"Loh loh darimana kamu tau. Kok kamu tau."


Sejenak menghela nafas kencang. Dan baru ingat, ohiya ibu kita saling bercerita satu sama lain. 


Beberapa tahun silam.


Cepat sekali. Kamu tumbuh dan aku pun tumbuh, perbincangan kita melanglang buana jauh sekali. Dari yang biasa saja, sok-sok an, sampai menertawakan sekaligus menangisi hidup. Mengkhawatirkan masa depan dan bermimpi menjadi orang kaya.


"Aku harus kaya Nabila," katamu tahun lalu. 


Naasnya, aku membalas dengan tawa kencang yang sebenarnya di dalam hati mendengungkan amin paling serius untukmu. Bualan-bualan manismu sangat ampuh. Meluluhkan seorang aku yang sepertinya berhati keras untuk sekedar membuka hati. Lucu sekali, sekejap dunia berhenti dan diriku seperti berputar pada porosmu. 


Sempat oleng beberapa waktu lalu, tapi ternyata aku tetap ingin kembali menyentuh radarmu. Memelukmu kencang-kencang. Tolong, jangan sampai pergi Tuhan.


Biarkan aku mencium aroma dunia bersama manusia ini. Menjadi apa adanya sebagaimana Nabila yang semestinya. Menemanimu memenuhi panggilan-panggilan petualangan, mengobrak-abrik diskusi bersama teman kita yang lain. Yang berakhir dengan tawa kencang lalu disambut keinginan tulus ingin bertemu terus menerus.


Tapi tak bisa. Belum pernah bisa, ingin kuperlambat tapi malah semakin cepat. Selamat berpetualang, semoga kamu menemui radarku.

Secepatnya, sampai jumpa.


Temanggung, 12 September 2020

nabiladinta.

It's been a rollercoaster of emotions and a series of tests but it has all been worth it. I am forever grateful to my parents who have (literally) given me the world and to my friends who have been there always. Excited to see what the new semester will bring!

Satu tahun menjadi mahasiswa antropologi buatku seperti belajar seni bercerita, mencintai dan memaknai setiap yang kita miliki dan menghargai kehadiran manusia-manusia di sekitar kita yang dekat maupun jauh dan mungkin baru kita sadari belakangan ini.


Mungkin memang banyak yang bertanya kenapa akhirnya aku memilih antropologi sebagai jalan ninjaku, jalan 'nyentrik' yang masih banyak orang belum ketahui. Sedikit menggelitik memang. Dulu, aku sempat idealis sekali, eh mungkin sekarang juga masih (hehe). Ingin mengembara dan keluar dari Jogja, zona yang sudah amat nyaman. Ke Jakarta, meneruskan karir lomba di debat, masuk ke jurusan bergengsi: Hubungan Internasional.


Tapi ternyata itu semua sungguh semu. Dunia dan orang lain tidak akan bisa diminta supaya berhenti menyiasati kita, kecuali merubah diri kita sendiri sehingga tidak bisa diperdaya olehnya.


Percakapan kurang lebih dua tahun lalu di bulan Juli, satu minggu sepulang dari Italia, Izzy dan Ariel datang dari Amerika menjalani program dari VIA (Volunteer in Asia). Waktu itu, Izzy masih menjadi director program for Asia dan Ariel ceritanya lagi internship di salah satu program di Jogja kala itu. Mereka baik sekali, entah sengaja atau ngga aku diajak makan di Nanamia Pizzeria. Pas aku masih panas kangen-kangennya sama Italia. Di sela makan pizza margeritha yang mayan lah rasanya mirip dengan porsi orang Indonesia yang kecil sekali, Izzy melontarkan pertanyaan yang masih aku ragukan jawabannya.


"Nabila mau ambil jurusan apa besok kuliahnya?"


Ha ha. Pas itu aku masih ingin HI, tapi aku udah menggeser idealisme-ku yang awalnya kekeh pingin di Jakarta jadi ingin tetap di Jogja. Alasannya sederhana, hidup di pegunungan Italia yang kecil, nyaman, tentram, dan damai bikin aku mikir, "Wah kayaknya aku ngga bakal betah tinggal di kota besar."


Aku bakal tetap memilih Jogja, dekat dengan rumah di Temanggung dan bapak ibu, juga aku tetap bisa untuk turut merayakan hobi-ku. Yang ngga bisa jauh-jauh dari alam, mbolang kesana kemari menghirup udara segar. 


Izzy dan Ariel spontan merayuku untuk jangan ambil HI, "Lulusan HI suka bingung Nabila mau ngapain," kata Ariel.


Izzy nambahin, "Mending ambil antropologi yang beneran disiplin ilmu, di HI ilmunya nyomot-nyomot dari ekonomi, hukum, dan lain-lain jadi ngga utuh."


Ohya mereka ini lancar sekali bahasa Indonesia, apalagi Ariel memang blaster Bali-Virginia. Jadi percakapan kami campur aduk inggris dan indonesia. Aku jadi semakin mikir dan mendatangi Izzy kembali setelah malam itu. Beruntungnya, juga ada John, pacar Izzy. Mereka juga semangat menggodaku supaya turut memilih jalan ninja antropologi, 


"Waktu kami seusia kamu, kami juga suka dunia internasional ya sama inginnya ambil HI. Tapi akhirnya jelas kupilih antropologi, kamu bahkan bisa loh meneliti makanan Italia dengan ilmu antropologi," kata John.


"Semua ilmu itu bisa diinternasionalkan Nabila, jangan kuatir. Tergantung kamunya."


Well, mulai ada getaran yang menyentuh radar keyakinan buat ambil antropologi haha.


Karena ingin lebih tau perihal antropologi di Indonesia kucolek Mbak Hal. Kakak kelas di sekolah yang sudah lebih dulu di antropologi UGM. Duduk sesorean di awal tahun 2019, Mbak Hal baru banget pulang dari Petungkriyono. Aku semakin yakin! Dan yes, ini pilihanku yeay!


Antropologi adalah Antara Aku, Kamu, dan Kita Semua


Setelah menembus sekian ribu waktu dan upaya masuk pilihan satu-satunya. Intinya segala babibu itu yang cukup menyenangkan tapi juga ngga dipungkiri ada nangis darahnya (hehe). Pastinya nggak semua hal didapatkan dengan spontan, pasti proses yang panjang teman-teman.


Aku mungkin belum jago dan sepenuhnya memahami seluk beluk antropologi, juga masih belajar menulis dengan cantik di banyak topik seperti kating dan dosen-dosenku. Syukurnya kian hari aku semakin merasa cocok dan menjalaninya dengan sepenuh hati. Belajar antropologi, buat aku juga belajar tentang manusia-manusia di sekitar kita. Belajar merawat kekerabatan sampai ke akar-akarnya, dengan keluarga, masyarakat sekitar, dan masyarakat dunia. Sama seperti kata temanku Ariel Santikarma, 


"When I took my first anthropology class, it was everything I talked about to my friends, to my parents, all the things I was truly interested in engaging in outside of school, in an institution that was considered valid."


Mungkin jurusan HI memang tetap kelihatan amat bergengsi, tapi entah kenapa aku 'merasa lebih keren' masuk antropologi ha ha. Gaya banget dasar. Karena di antropologi aku bertemu manusia-manusia keren yang bersuara lantang membela kaum-kaum marginal, bersuara dengan lihai dan elegan tentang persoalan pasar, jalanan, gengsi, agama, politik, alam dan segala lini lain yang bersangkutan dengan manusia. 


Aku masih terus mengagumi kating-katingku yang suka unik sekali dalam menuliskan dan mengeskpresikan sesuatu. Bahkan sesuatu yang mungkin ngga pernah terlintas di kepala. Akhirnya aku juga turut merasakan apa yang diceritakan Mbak Hal, pergi berkelana dan hidup selama dua pekan di Petungkriyono kemarin. Rasanya sama-sama menantangnya ketika aku harus pergi ke Kedah, Malaysia dan hidup di tengah anak-anak yatim maupun piatu tiga tahun lalu. Rentang lama waktunya pun hampir sama. 


Hanya bedanya, kacamata yang aku gunakan lebih mendalam ketika aku udah bener-bener jadi mahasiswa antropologi. Mengenali, bercakap dan mengamati kehidupan di Petungkriyono dari bangun hingga tidur lagi (tentunya, masih terus belajar wkwk, belum jago). Bahkan kalau bisa, aku berusaha bisa tau hal-hal yang tidak terlihat, menyelami alam pikiran minimal induk semangku. Syukurnya, masyarakat di desa Tlogohendro. Kali pertama di momentum Tim Penelitian Lapangan (TPL) Petungkriyono di bawah bimbingan Mas Pujo ini masih latihan pertama yang harus terus diuji, harus jadi pemicu buat menantang diri sendiri kalau seriusan mau jadi antropolog seperti Izzy.


Mimpi-mimpi Bersama Antropologi


Role model-ku ngga jauh-jauh dari Izzy, seperti kakak sekaligus guruku. Aku mengikuti dan mencari tau apa yang Izzy lakukan, termasuk penelitian terakhirnya di Myanmar selepas lulus dari International Law di London. Kalau ditanya mau fokus apa, aku belum menemukan jawabannya teman-teman. Karena aku suka banyak hal, ha ha. Tapi aku turut mengamini contoh sederhana dari Izzy dan John, kalau suatu hari nanti aku bisa bermukim dan meneliti makanan Italia. Sekaligus kembali ke akar keluarga non-biologisku semasa pertukaran pelajar 2-3 tahun lalu. 


Mungkin juga aku mengambil Studi Perdamaian, sungguh bener-bener masih abu-abu. Ngga papa, pelan-pelan. Aku juga menyukai isu-isu konflik internasional, berkelana dan belajar antropologi di Timur Tengah misalkan. Sungguh aku beneran penasaran gimana antropologi di sana. Pasti kebanyakan masih antropolog barat yang berkeliaran. Hidup berdampingan dengan Syrian-Palestinian Refugees, isu begini juga aku suka karena Ahmed Badr temanku yang sukses sekali bikin platform narratio.org Ahmed ini juga imigran, dulunya refugee asalnya Irak. Dia juga barusan banget lulus jadi sarjana antropologi! 


Karena satu dan banyak hal, aku jadi belajar mengerti lalu merasa dekat dan akrab dengan antropologi. Masih harus terus belajar dan tentunya tancap gas kencang-kencang buat berkelana lagi dan lagi. Isu-isu yang dekat denganku juga aku suka, saking luasnya jangkauan antropologi bikin aku sangat sayang tapi juga kadang pusing bukan kepalang, ha ha. Terimakasih teman-teman yang sedikit banyak membantuku menyusun sudut pandang bersama-sama. Terutama teman-teman di antropologi yang membersamai di hari-hari perkuliahan dua semester kemarin, yang perlahan membuat suatu pengertian bahwa belajar bukan hanya soal kamu mau jadi dan kerja apa. Bahwa belajar antropologi harus serius tapi juga tetap harus bercanda sambil berpesta ria. Karena kalian, aku jadi belajar dan menikmati setiap detik yang berjalan satu tahun kemarin dan semoga di tiga tahun mendepan. 


Meskipun di awal perkuliahan aku ngga memungkiri pingin masuk ke fisipol yang dunia organisasi kampusnya lebih berjalan semestinya, pernah merasa kalau di FIB memang lebih banyak ngga jelasnya kalau cerita soal suasana. Entah gimana semesta bekerja, bisa-bisanya aku juga didekatkan dengan Azrial yang ngegandeng aku buat bersama-sama menakhkodai Kemant, Keluarga Mahasiswa Antropologi. Asik sekali, beneran aku semacam jatuh hati dan berjalan dengan sepenuh hati di Kemant. Bareng teman-teman antropologi yang 'nyentrik' juga nyeni, aku akan berjuang terus bareng kalian karena di Kemant aku juga bertumbuh dan belajar mengenal antropologi du luar bangku kelas.


Perlahan aku juga menyusun keambisanku sendiri dengan jalan ninja yang harus disusun rapi. Haha dasar aku penuh kepentingan. Karena emang aku suka iri sendiri kalau liat Ariel berceloteh di instagram dan selalu terlihat menawan karena dia membaca banyak buku dan literatur keren. Ayo Bila harus semangat belajar bahasa inggrisnya biar bisa sekolah di luar sana, eh bahasa arab juga kalau mau belajar di Timur Tengah! Dan semangat juga belajar bahasa baru lainnya, siapa tau nanti kamu ditempatkan di tempat ngga terduga, mungkin jauh lebih menantang dari hidup di Italia dan belajar bahasanya dari nol.


Terimakasih semwa, apalagi yang sudah membaca sampai di penghujung sini. Semoga kita sama-sama menemukan jalan masing-masing yang mengantarkan kita pada cita, dan dipertemukan dengan cinta yang mendukung mimpi-mimpi kita. Tentunya aku juga berdoa, kalau aku menikah dan jadi istrinya seorang lelaki, dia juga mendukung mimpi-mimpiku dan menemani aku berkelana kesana kemari, jangan kuatir kamu juga bakalan kutemani kok (he he)!


Anyway,


I don’t have all the answers today, and I’m still learning and searching for what that might look like.


Jadi, mau ya kalau sama-sama mendoakan?


with love, nabiladinta.

Temanggung, 14 Agustus 2020



Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Cari Blog Ini

POPULAR POSTS

  • Di Kereta Pasundan
  • Unfinished Dress
  • Mendekati Kepulangan
  • Singgah di Singkawang

Categories

AFS Italy 2017-2018 Self Talk Hijrah Malaysia Ramadhan di Italia
Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2026 (1)
  • Januari 2026 (1)
  • November 2025 (2)
  • April 2025 (1)
  • Desember 2024 (1)
  • Juni 2024 (5)
  • Januari 2024 (1)
  • Desember 2023 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (3)
  • Februari 2023 (1)
  • Januari 2023 (1)
  • Desember 2022 (1)
  • November 2022 (1)
  • September 2022 (1)
  • Agustus 2022 (3)
  • Mei 2022 (3)
  • April 2022 (10)
  • Februari 2022 (1)
  • Desember 2021 (2)
  • November 2021 (1)
  • Oktober 2021 (2)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (2)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (2)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (2)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (11)
  • September 2020 (1)
  • Agustus 2020 (2)
  • Juli 2020 (2)
  • Juni 2020 (1)
  • Mei 2020 (19)
  • April 2020 (7)
  • Maret 2020 (2)
  • Januari 2020 (1)
  • Oktober 2019 (1)
  • September 2019 (1)
  • Agustus 2019 (1)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (1)
  • November 2018 (1)
  • Agustus 2018 (1)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (4)
  • Februari 2018 (5)
  • Januari 2018 (7)
  • Desember 2017 (9)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (6)
  • September 2017 (7)
  • Agustus 2017 (2)
  • Juni 2017 (12)
  • Mei 2017 (11)
  • April 2017 (6)
  • Maret 2017 (3)
  • Februari 2017 (4)
  • Januari 2017 (2)
  • Desember 2016 (5)
  • November 2016 (6)
  • Oktober 2016 (6)
  • September 2016 (5)
  • Agustus 2016 (1)
  • Juli 2016 (1)
  • Juni 2016 (6)
  • April 2016 (2)
  • Februari 2016 (1)
  • Januari 2016 (2)
  • Desember 2015 (1)
  • November 2015 (3)
  • Agustus 2015 (1)
  • Juli 2015 (1)
  • Juni 2015 (4)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Februari 2015 (6)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (4)
  • November 2014 (14)
  • Oktober 2014 (2)
  • Agustus 2014 (3)
  • Juni 2014 (12)

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates