Nabiloski De Pellegrini

Mengingatkan bahwa waktu lebih pas ditakar bukan dengan hari, melainkan dengan hati

Jagad. Begitu aku mengingat semesta yang mengelilingiku. Hampir tiga bulan masa kepergian untuk pertukaran pelajarku, di Italia. Negeri yang hampir sejagad dunia tau, kalo ini negeri Pizza. Aku jadi teringat di sela-sela makanku, berjalan, naik bus dan keotomatisan lainnya yang dilakukan indra kita supaya tetap bisa disebut hidup, bahwa hidupku terbagi menjadi dua potong. Satu potong di khatulistiwa, satu potong lagi di Eropa.

Aku punya dua kehidupan yang aku merasa wajibun menyeimbangkan keduanya, supaya tidak jomplang. Berjalan di jalanan Eropa dulu semacam bayangan. Berjalan memeluk dingin dengan terjaga jaket tebal dan syal di leher atau dengan sepatu boots dan berbulu. Suhu yang tidak menentu yang tetap dingin, menanjak atau turun tidak ada bedanya.

Pagi-pagi yang gelap sebelum matahari terbit kugendong tas ranselku, yang menjadi kebiasaan baru ‘sekolah pake ransel’. Madrasah menuju seabad di Jogja menyulap kebiasaan baru dengan buku-buku berat digendong tangan. Aku yang berlari terburu takut tertinggal bus yang sama saja lari tidak kunjung mengubah suhu tubuhku sedikit memanas. Rasanya tetap sama, dingin.

Deretan gunung menjulang yang aku percaya bahwa mereka bertasbih kepada Tuhan dengan cara alam seperti berbicara denganku setiap pagi lewat jendela bis,

“Nabila, kamu tidak sendiri coba ingat Tuhan seperti aku yang tidak luput mengingat-Nya. Nantinya kamu akan jadi manusia kuat. Kalau kamu lelah berbicara dengan mulut, berbicaralah dengan hati seperti aku yang berbica dengan menggugurkan daun pada musim gugur atau bersemi dan tumbuh lagi pada musim semi”

Menjadi asing, bukan terasing di tengah banyak suara yang saling membagi bising sebelum harus banyak memperhatikan guru di sekolah. Dan aku diam, musik yang menenangkan hati sekaligus menemani berfikir menjadi temanku setiap pagi. Begitu setiap pagi, kecuali akhir pekan. Pagi yang berjasad seperti sendirian di bis tapi melaju dengan waktu dan sedang bercengkerama dengan hati. Mengingatkan bahwa waktu lebih pas ditakar bukan dengan hari, melainkan dengan hati.

Menjadi mengerti, setelah sebelumnya menolak untuk bertoleransi. Karena ini aku bukan menulis tentang rumah, aku sedang menulis tentang berirama dengan hati, bermelodi dengan waktu. Menjadi warga bumi yang berdiri dengan hati dimana pun sedang menepi. Kepada negeri yang aku rindukan, tetap ada sepotong kehidupan lain yang telah terbangun 18 tahun.

Kepada waktu yang sedang melaju sampai berhenti 7 bulan nanti, tetap selalu dekatkan hatiku disini supaya aku semakin menyadari. Sekali lagi, bahwa waktu lebih pas ditakar bukan dengan hari, melainkan dengan hati.

Kata gunung-gunung yang teguh berdiri, kamu akan menjadi manusia kuat Nabila.
Kamu tidak sendiri, seluruh warga bumi adalah temanmu.

di depan perapian yang menghangatkan di tengah dingin yang tanpa henti,
Ulima Nabila Adinta. -3°

Longarone, 3-4 Desember 2017




Tulisan ini dibuat berdasar kemangkelan ku karena hampir semua temen cowokku berdalih,

“Bil kamu transgender aja jadi cowo”
“Bil kamu masih cewek ? Kirain”
“Bil kamu pantesnya jadi cowok”

Sampe temen exchange si Tike dari Thailand juga bilang gini di suatu siang sewaktu Italian Course,

“You’re man not woman. Woman always having many problems but you’re like never. Your life sooo perfect. You’re not like my woman friends who always having problem. Trust me !”

Yeee enak bangett ye ngomongnya, ‘Your Life Soo Perfecttt’, damn. Padahal yaa ada darah dan peluh sampe akhirnya aing bisa ketemu ente disini.

Oke. Lemme tell, kerasa banget siapa yang dekat dan setia dalam pertemanan sewaktu aku mau caw dari Jogja ke Jakarta sebelum ke Italia. Mengharukan, tanpa mereka itu kaya hidupku cuma dikelilingi wanita. HAHA

--

Hayo siapa hayo, siapa ya ?

Danggg !! mereka ini kebanyakan dekat dengan aku sejak bangku aliyah sebelumnya nih aku anti banget sama anak sekolah sebrang yang kedengerannya nyakitin cewe mulu. But, salah ternyata waktu bergulir mendewasa tercipta. Hei, my body guard(s) wahaha, sedikit pede nggapapalah ya toh juga ndak ada yang pernah marah sama aku. Entah kenapa ketika bergaul bareng temen-temen cowoku bukan hanya dengan mereka tapi lebih luas lagi aku lebih merasa utuh jadi diriku sendiri, lebih bisa ngga jaim dan sakpenake dewe. 

So what I would is nyeritain beberapa hal yang masih cukup terngiang dan amat sangat sampe sepuh juga ndaak lupa semoga ya. Berawal dari siapa dulu yang aku kenal yee

1.      Tiang 1 = RIZAL 


Lihatlah manusia lelaki baju item putih tanpa topi yang hitam di tengah

Lengkapnya sih Ichsanul Rizal Husen tapi bisa dipanggil Sanul atau siapa pun tapi buat aku tetaplah ‘Rizal’. Baru juga kenal kita udah bareng di ekspedisi pendakian pertama ke Gunung Prau, merayakan kebahagiaan lepas dari ujian kelas tiga. Wahaha berawal juga dari sahabatku Qorry sepupunya dia. Dia ini termasuk yang beberapa kali ke rumahku biasanya sama Rafid atau Avicena.

Beberapa momen liburan banyak aku berlaga sama Rizal belum lagi kita satu organisasi daerah Ammaksda. Hobi banget dulu tukeran buku, dan dia ini termasuk yang cukup perhatian, semuanya perhatian sih wkwkwk. Karena aku sok-sok an engga capek gitu terus Rizal bilang,

“Yowes nek sayah ra dirasakke saiki dirasakke ben gelem istirahat Bil”

Heuu tapi ya saya tetep ngotot ndak mau istirahat. Kalo ngobrol soal sekolah kita wuihh bisa ampuh tukeran logikanya Rizal. Tulisannya juga ber-feeling, dia perasa yang cukup baik dan bukan pengecut. Speechless kalo diskusi sama Rizal mah, sudaa berasa kalah duluan, haha. Ngga bakal bosen dan bisa kuat berjam-jam ngobrol sama Rizal.


kupilih foto ini karena Rizal terlihat plengeh


Sampai takdir mengantarkannya jadi Kapten Pasukan Jurnalis Madrasah a.k.a Lembaga Pers Mu’allimin dan ketika itu sudaa jarang ngobrol karena sama-sama tenggelam di aktivitas masing-masing :(. Yang paling teringat perjalanan ke Surabaya bareng Rizal dan juga Fakhrul Mas Ulin.  Finally, sebelum kepergianku ke Italy aku beri Rizal hadiah dua bolpen Amerika warna hitam dan merah. Anyway dia minta sejak dua tahun lalu sewaktu aku ke Amerika tapi yah maaf ndak kubawain, Alex yang bawakan sewaktu Juli ini ke Jogja.

Tulisan nya Rizal tuu bersastra banget ada disini :
sanulrizal.tumblr.com

Sukses terus nggih, dinanti ngobrol serius sampe koplonya lagi !


Tiang 2 = APIS


Tuh badannya sudaa kaya atlet bangeett pis. Cuocookk jadi pendekar !


Nah ini dia si abang abang kabarat yang cuocok sekali kalo ngobrolin soal remaja. Yang kalo diajak curhat beehh mantab haha. Dia ini tempat bertanya soal dunianya yang kadang sulit dimengerti, eh ceilah. Saling tau karena kita sama sama pernah memimpin pasukan satu angkatan masa esempe, gaulnya sih sering disebut Big Bos but I am too males to disebut kek begitu. 

Terus kita sami-sami juga di bidang menggodok kader-kader sekolah pemimpin katanya, insyaAllah iya emang bener kok. Buktinya melahirkan Apis yang menjadi sosok pendekar yang udah berlaga kemana-mana sekaligus tetep bisa berdedikasi memimpin di pasukan berjas kuning, IPM. Beberapa kali perjalananku juga melibatkan Apis sebagai temen ngobrol, yang aku sukakk banget gaya ngomongnya dia, secara langsung maupun enggak.

Apis ini salah satu orang yang aku percaya,  yang berasa satu nasib gitu di perjalanan organisasi maupun prestasi walaupun kita beda ladang.But, you have to know Apis selalu nunjukin kelegawaannya, tulisannya juga cukup ampuh dan lugu. Semoga kamu menemukan rusukmu yang selalu dinanti dan diharapkan dalam doa eh sekaligus diperjuangkan selalu pada waktu nanti ya pis ya, sampe dia dateng ke bandara cepet-cepet padahal mo latihan ya Allah. Pis makasih ya janlup trakti martabak kesukaan ente ke ane, dan kutraktir pempek selepas pulang dari Italy besok. Deal !

Tetep jadi pendekar yang mekar hati dan besar jiwanya bosquuhh ! Tetep jadi Teman Baik Sekali yak

Tulisan Apis bisa ditemui disini : https://pemudasetempat.tumblr.com/ 

Ngga kalah ampuh liat foto sama kepsyen kecenya di 
 https://www.instagram.com/mochaff/

Tiang 3 = RIDLO






Aaa kalo inget Ridlo bawaannya ndak pernah dan ndak bakal sedih ya Allah. Honestly sudaa ketemu sejak kelas tiga esempe tapi ya gitu ketemu aja. Terus pas aliyah ternyata WAAW NGAKAKNYA, aku kira bakal yang cool dan cuke boy be like ee ternyata nggak samsek. bukan sejenis mamgkeli or nganyeli tapi sejenis plengah plengeh kalo bahasa jawanya. tapi dia juos juga kalo mimpin acara. 

Jadi kita nih bertemu dan sering gojek nggak jelas kalo di organisasi daerah kaya Rizal juga. dan Ridlo suka nunjukin kepolosannya yang sebenernya ngga polos. hebatnya gini, nggak pernah bisa bikin marah saya tapi bikin gereget. Ridlo berhasil berkunjung ke rumahku yeee sewaktu survey sanlat di esdeku tercintah yang ngga jadi disana akhirnya. Ketuanya Ridlo loh ! That's why I am saying dia keren. 

Atas miracle kendadakan dan dia pingin banget naik Merbabu dia ikutan aku di Ekpedisi Mendaki Merbabu bareng kakak sepupu laki-lakiku dan Adek Daffa + Ocik (yang aku tulis disini : Muthia Zakky ) + Nana (temen ndaki di Gunung Prau juga sama Rizal). Tiba-tiba muncul aja gitu di daerah sebelum pos pendakian via Selo Merbabu. he's the only temen cowo yang kok mau-maunya ikutan tanpa ada temen cowo yang lain which is cowonya cuma sepupu-sepupuku.



Selepas aku sampai di Jakarta setelah terbang dari Jogja dia bilang,

"Kita yang antar besok kita yang jempuut" ((kaan temen yang sweet banget dlo hikss)) engga sabar loh ketemu kamu yang semoga engga semakin kaya tiang bendera tingginya, hehe.

Bonus deh dlo, betewe kita lagi ngapain ya dlo ?


Tiang 4 = ANHAR

"Anhar nggak ke TPA ?" kata temen-temen cewe aku kalo kita lagi kumpul IPM

Jahad tapi lucu emang haha. Berhubung Anhar ini memang masih kelihatan lugu dan bersih sekali wajahnya kaya masih SD gitu, eh tapi kan awet muda ya har ya. Jadi kita udah ketemu sejak kumpul Tim Formatur IPM 15/16 di PP Gedoeng Muhammadiyah, tapi kayanya Anhar ngga inget. semakin kenal karena 2016 dia jadi peserta jambore pelajar aku jadi fasilitator. Anhar ini super caring sekali, suka nanyain kabar dan ngobrol diskusi banyak.



Suatu waktu kumpul panitia persiapan TM 2 sekolah kita aku batuk keras serak dan hampir ngga bisa bicara, Anhar ambilin air putih di kantor radio. Terimakasih Anhar :) terus karena kita juga sering ketemu di PP sekedar habis kumpul di PP atau aku cuma main aja kesana. Nah suatu waktu di perjalanan bolak-balik Jogja-temanggung buat melengkapi persiapan sebelum berangkat ke Italy aku maen ke PP. Ada Anahr deh.

Di kantor IPM semua udah pada pesen makanan go-food dari ALDAN. Anhar dateng pas makanan udah dateng, aku tanya dia udah makan belom, bilangnya sih belom haha. Sama satu orang teman lagi yang bakal aku ceritain di part dua. Finally aku tanya sambil maksa ,

"Ihh gausah bohong udah makan belom ? Belom kaan ? Ngaku deh ? Kalo belom ayo kita barengan makannya bertiga nih sama aku"

Nah kan hahahehe mereka, laper aslinya tapi malu mengakui. makanlah kita bertiga pake ayam goreng dan sambal khasnya ALDAN. Eh yang lainnya juga pada bagiin nasi ke kita karena kita bertiga :") Nice moment besok habis aku pulang kalian sudaa lulus hiks belom tentu di Jogja lagi kan.

--

Nah begitu deh teman-teman berarti yang menemani beberapa tahun belakangan ini. Masih ada empat orang lagi anyway yang aku ceritakan di part selanjutnya yaa. Rizal, Apis, Ridlo, sama Anhar jangan lupa bahagia dan sukses di akhir tahun kalian. Semoga aku dan kalian jadi kader dan teman sejati. Ci vediamo prossima anno ! mi mancano i nostri momenti ohh:(


Temanmu,

Longarone Italia, 1 Desember 2017







Yakyaak setelah bertravel ria di Venice alhamdulillah diberi kesempatan buat ngerasain lagi kehangatan keluarga di Italia. Posting ini ngga akan berceloteh banyak sih anyway karena udah diborong dibagian Venice. Eh tapi ada satu hal yang lumayan menyenangkan di awal hari Jum’at.

Pelajaran English di sekolah Italia bakal lebih masuk ke literature ketimbang kita di Indonesia yang biasanya bahasa grammar cara ngomong talk active dan lain sebagainya. So that’s why engga banyak anak Italia yang bisa speaking english  but beda sama kelasku yang Lingusitico so almost everyone can speak english. Fortunata me // Lucky me.

The most thing that I like is ketika nonton film The Scarlet Letter yang bercerita tentang seorang perempuan Inggris yang ke Massachutes Amerika dikirim suaminya sewaktu penjajahan Inggris ke Amerika, nah dibalik itu juga menceritakan sejarah kaum Puritan. So bisa sekaligus belajar sejarah, yang aku suka dari film ini adalah ketangguhan perempuan yang memulai hidup sendiri di negeri orang lalu punya anak dengan seorang Pastor bernama Arthur. menyesakkan filmnya hikss.

--
Oke. Balik ke Ulang Tahun Mamma Linda atau di bahasa Italia itu Compleanno di Mamma Linda. Aku berusaha nyiapin sesuatu hal yang berkesan, karena saking bingungnya dan mepet. Mau cetak foto juga belum nemu harus dimana finally aku bikin surat ucapan tapi pake bahasa Italia yang dibantu Alice buat translate-nya. I did as simple as creative as I can but also hopefully that would be meaningful.

Gimana ya isinya ?



Sampe Anna host sister-ku mbrambangi, ngga sampe netes tapi. But sebuah kebahagiaan sendiri bisa bikin itu means a lot. Sekaligus aku beri dompet batik, biar still ala-ala Indonesia gitu. Kakak laki-laki Mamma Linda dan istrinya tingga di Emilia-Romagna (Kota Babi karena saking banyaknya babi) dateng ke rumah dari siang. Talk active sekali om-om ini, haha. 

Perayaannya pun sederhana, kita pergi ke daerah lebih atas lagi ke ALPAGO. Masya Allah salah satu fav place bangett ini, berasa bisa lihat negeri di awal kalo sampe atas Alpago. Makan malam yang selalu dengan porsi sangat banyak, makan domba khas Alpago saia. Belum lagi dessert-nya beehh. Dua jam lebih kita disana, di Italia sesi makan malam selalu diutamakan dan waktu untuk saling berbincang setelah satu hari full dengan kegiatan masing-masing. Maka, aku ngga pernah melewatkan momen makan malam.



Baru pas mau balik I give my gift, and everyone just shocked. I did it !

--
Yaahh begitulah sedikit cerita yang semoga menceritakan Tentang Italia yang sedang aku singgahi. Exchange is not a vacation, is life when you can feel home, family, learn and school.
Ci vediamo Ragaaa !!

Di tulis di komputer perpustakaan sekolah Liceo State Giustina Renier, pengobat suntuk.
Belluno, 27 November 2017


YOU SHOULD GET LOST IN VENICE



Where to Go ?


Mimpi seribu mimpi
Terbayang hanya melalui dokumentasi
Tentang manusia-manusia yang menyinggahi
Lalu angin tiba-tiba membawaku pergi
Dengan keajaiban yang terealisasi
Sampai pada aku melihat sendiri
Aku pergi, lalu biarkan ini menjadi kenangan abadi


Venice, 1 November 2017        
                   
di kala libur Ogni Ssanti (biasanya 31 malam perayaan Halloween)
Cerita tentang kota ini sengaja aku beri tempat sendiri, karena International City yang jadi idaman penduduk bumi, mungkin. Terlebih kalau kita tau sejarah di masa lampau, jalan di kota ini hampir membayangkan terus apa yang pernah terjadi di masa silam. 

AFSers Triveneto sebenernya beberapa udah ada yang punya rencana untuk meet up di Venice dan aku engga ikut, karena pasti spending a lot of money ,ahaha apalah daya sudah semakin menipis menjelang dua bulan di negeri ini. What a miracle tiba-tiba Mamma Linda di sela dinner karena sebelum libur mulai selalu tanya, “Cosa fai domani ?” kiranya tanya mau ngapain lah, reflek aku jawab, “Boh, Non lo so,” Ngga ngerti mau ngapain. Sukanya diberi kejutan karena aku ngga pernah tanya detail mau di ajak kemana, biar surprise gitu ceritanya. 

“Andiamo a Venezia”

“Venezia ?? Davvero // Really ?”

No reason buat menolak. Who knows bisa meet up juga sama temen AFS yang lainnya. Hopefully yeaah.

---
Pagi, ± 09.00
Setelah membalas rindu dengan makan indomie di pagi hari. Aku memang lelet Allahu, jadi aku sangka bakal nunggu Papà Aurelio balik dari gunung eh ternyata just me and Mamma. Dengan apa adanya ber-dress up tapi semoga ngga kalah cantik sama kotanya, eh. Hahaha

Menjelang matahari yang semakin meninggi aku caw menuju Venezia yang ternyata ngga jauh banget, cukup satu setengah jam. Kalo begini adanya doyan pergi ke sana terus meskipun engga beli apa-apa, buat irit bawa bekal karena makan sebagai orang asing bisa dimahalin di restoran atau di bar kecil. 

Spending dengan makan setengah apel di mobil sampailah kita di Mestre, anyway bakal mahal banget parkir di Venezia St. Lucia behenti lalu parkir dan ambil kereta menuju Venezia St. Lucia is the best way perhaps. Ngga mahal kok sekitar 7 euro. It takes about 10 minutes. Disambut dengan laut luas, ngga sabar ingin cepat sampai.

IT’S REAL VENICE !!!



Sinyal langsung berubah 4G, setelah berkutat dengan sinyal H di kediaman tengah gunung. Banyak celetukan berbahasa inggris, ngga tau kenapa ketemu bahasa inggris adalah surga di Italy gimana ketemu bahasa indonesia ya (?)

Yang biasanya Cuma dibayangin dan ngeliatin vlog Returnee ITA taun lalu finally bisa nginjakin kaki sendiri, mesra berdua dengan Mamma Linda uhuuu. Aku putuskan untuk off dari handphone, sebuah perjalanan ngga akan bisa menikmati totally kalo masih berkutat dengan dunia lain. The people, the places, the situation that would be really precious time when you might be get back it’ll no be the same situation. You should get lost while you’re traveling. 



Kanal besarnya di depan stasiun, gondola-gondola yang banyak macamnya, tourist manca negara, burung-burung dara, pengamen berlagu indah yang italy banget, it just so amazing.Aku langsung ngebayangin gimana indahnya warna-warni Venice menjelang Valentine Day karena pasti bakal banyak yang macak indah dengan topeng khas Venice. Harus beli ya kalo ke Venice !

Beberapa detik setelah nginjakin kaki dan berjalan di Venice Mamma Linda cerita soal masa kejayaan Venice di masa lampau yang juga aku udah pernah baca sekilas di beberapa artikel. Apa aja ya ? Yuk ditengok,

MASA EKSPANSI REMPAH

Nah kalo denger kalimat ini pasti langsung terlempar gimana bangsa Eropa menjajah habis-habisan negara-negara Asia. Apalagi Belanda yang tanpa ampun tiga abad lebih.  Sedih dan selalu menyesakkan kalo diinget. Padahal aku ingin selalu menulis dengan hati selembut denyut nadi tapi nyatanya menulis butuh ketajaman hati. Apalagi soal gejolak kemanusiaan dan peradaban yang kadang sulit dimaafkan kecuali hanya dengan waktu. Eh kok sampe sini, haha balik lagi ya tentang Venice.



Venice pernah menjadi salah satu jalur pusat perdagangan di Eropa yang mengalir dari Asia. Ketika Turki Konstatinopel menutup pelabuhannya, bangsa Eropa baru bisa mendapat rempah melalui jalur yang lebih panjang dan pasti bakal lebih mahal. Venice menjadi salah satu yang dilewati sebelum tersebar di wilayah Eropa lain. Pengaruh para pedagang Arab menguat kala itu. 

Venice menjadi kaya dan jaya masa itu sebelum kemudia Portugia-Spanyol-Belanda berinisiatif mencari jalan sendiri menuju Asia, setelah ditemukan kompas. Vasco da Gama, Bartolomeuz Dias, D’Alburqueque beberapa yang memimpin pelayaran. Mereka tidak lagi pergi ke Venice, seketika Venice mulai kehilangan banyak pembeli dan jadilah Venice colapse atau bangkrut.

--

Setiap sudut Venice punya sejarah, nama jalan kecil atau besar di Venice pun beda dengan nama Casso. Rasanya di kota cantik ini no one life with home, semua berasa tourist di mataku haha. Yang aku kira kanal-kanal di Venice itu Cuma bebeapa ternyata ada BANYAK ! Wah. Kalo naik gondola yang bagus dan spesial hanya untuk kita engga berame-rame bisa sampe 80 Euro Oh My duitnya setara sejuta-an rupiah cuma buat keliling kanal. It might be once in a life, but seriously I don’t have much money. If you’d like to try and you have money Just Try ! bisa aje kan sekali doang seumur hidup.


Lalu hal yang pasti dibawa Mamma Linda adalah ke Museum, namanya SCUOLA GRANDE DI SAN ROCCO. Mewah pantes, namanya aja juga Grande alias Big, jadi ini sebuah sekolah tapi didirikan sama orang kaya. Setiap sudutnya berseni, hall nya pun gede banget dan kalo mau liat atapnya yang juga ngga Cuma sekedar atap harus pake kaca, jadi engga ndangak gitu kepalanya kan pegel, ehe.

Salah satu pelukisnya ada yang dari Pieve di Cadore comune atau kota yang ngga jauh dari kotaku, Longarone.

Selepas dari Museum kita berjalan terus, entah engga kerasa capeknya karena mataku ngga ada lelahnya lihat sekeliling yang rasanya butuh lebih dari sekali buat menyambangi. Banyak banget toko cantik yang jual pernik dari bahan glass-topeng yang rasanya pingin banget buat beli banyak, cuma rasanya.

--
Hampir setiap kota di Italy punya gereja yang super mewah dengan arsitektur dan seninya. Apalagi di Venice beeehh selain seni yang mahal tapi juga punya makna filosofis. Aku ke gereja itu, ada pahatan di lantai, orang-orang berpengaruh dan istimewa di kubur di dalamnya.

Anyway di beberapa bangunan Venice ada arsitektur semacam jendela tapi ada bentuk kubah masjid. Subhanallah, seni emang cantik mengabadikan kedatangan manusia ke suatu negeri, terlihat cuma dateng tapi ternyata punya pengaruh sesederhana bangunan jendela.

Ada banyak piazza atau square kecil di Venice yang di tengahnya punya semacam pusat air, menjulang berbentuk tabung di tengahnya. Aku belum begitu paham fungsinya tapi mungkin ada hubungannya dengan Venice yang kalo hujan seluruh daratannya dibanjiri air. Jadi pasti ada papan-papan yang tersedia buat antisipasi dan memudahkan berjalan di kala banjir air.

Syukur kota secantik ini diisi manusia yang kreatif juga, bagaimana dengan kondisi banyak air tetep bisa membangun karya seni yang bertahan berabad-abad lamanya. Selepas itu kita berdua makan siang dulu, anyway lagi nih kalo jadi real tourist tanpa bawa orang Italia bisa di mahal in berpuluh euro, misalkan orang Italia habis 40 Euro di Bar yang sama, nah orang Prancis atau yang masih kawasan Eropa bakal ditarik 60 Euro-an kalo orang Asia katakanlah Jepang, bisa sampe 100 Euro. Bukan main mahalnya, untung aku orang Asia dibawa orang Italia.



NAIK GONDOLA KE PIAZZA SAN MARCO

Sampe akhirnya kita berjalan ke kanal pusat yang paling gede, naik gondola umum buat ke SAN MARCO YEAAAYY, Piazza yang terkenal dari Venice. Sewaktu naik gondola aku lihat bangunan rumah emas dan model rumah yang unik banget. San Marco punya bangunan gereja yang indah dan gede banget but sayang antrean masuknya super panjang mengingat waktu semakin sore. 



Disambut alunan musik bergaya amerika di coffe shop. Bukan main kuyy beli kopi disana bisa habis berpuluh euro. Piazza ini gede dan banyak burungnya ahaay, pingin foto bareng mereka sayang engga bawa roti buat dibagi biar pada mendekat :(



Jalan lagi jalan terus jalan sampe beli TOPENG ahaaayy dan engga pernah lupa buat beli postcard. Because traveling makes me love to collecting postcard. Aku beli topeng kecil buat Dek Raline eh malah hilang entah dimana, yasudah besok ke Venice beli lagi haha. Gondolanya ngga ada habisnya ampun, seberapa kreatif dan cerdasnya manusia masa lampau sampe bangun seni seindah ini.  

--
Ada kejutan yang lain, yang aku cari hampir dua bulan ini ngga nemu di Italia, hikss. 


“NABILA; QUESTA PICANTE !!” // “NABILA INI CABEEE,” Mamma Linda spontan lemme know.



Aaaa kaya terobati banyak rindu lidah ini. Ada cabe yang dijual orang India, orang Indonesia ngga makan pedes dan nyeplos cabe dibarengi makan gorengan tuh nyesek di hati. Eh alay kan haha. But you have to know something saddd yang I cant help banget adalah ngelihat stories instagram temen-temen di Indonesia makan soto, tempe, bakso beeehh pingin deh ada teknologi baru tanpa perantara pos bisa langsung sampe Italia. Eitt, stop, udah melenceng jauh ini.

Oke.

Kita beli segelondong cabe rawit dan makan cemilan di BAR lalu pulanggg disambut kanal besar dekat staisun dengan sunset yang istimewah. Ingin 24 jam tanpa tidur dan nikmatin romantisme Venice.



Sayonara ! Mari pulang marilah pulang marilah pulang beramai-ramai


Dadadaaaa Ci Vediamo !


Longarone, 24 November 2017
Nabiladinta 5° ((anget sumvaahh))
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Cari Blog Ini

POPULAR POSTS

  • Di Kereta Pasundan
  • Unfinished Dress
  • Mendekati Kepulangan
  • Singgah di Singkawang

Categories

AFS Italy 2017-2018 Self Talk Hijrah Malaysia Ramadhan di Italia
Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • Januari 2026 (1)
  • November 2025 (2)
  • April 2025 (1)
  • Desember 2024 (1)
  • Juni 2024 (5)
  • Januari 2024 (1)
  • Desember 2023 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (3)
  • Februari 2023 (1)
  • Januari 2023 (1)
  • Desember 2022 (1)
  • November 2022 (1)
  • September 2022 (1)
  • Agustus 2022 (3)
  • Mei 2022 (3)
  • April 2022 (10)
  • Februari 2022 (1)
  • Desember 2021 (2)
  • November 2021 (1)
  • Oktober 2021 (2)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (2)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (2)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (2)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (11)
  • September 2020 (1)
  • Agustus 2020 (2)
  • Juli 2020 (2)
  • Juni 2020 (1)
  • Mei 2020 (19)
  • April 2020 (7)
  • Maret 2020 (2)
  • Januari 2020 (1)
  • Oktober 2019 (1)
  • September 2019 (1)
  • Agustus 2019 (1)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (1)
  • November 2018 (1)
  • Agustus 2018 (1)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (4)
  • Februari 2018 (5)
  • Januari 2018 (7)
  • Desember 2017 (9)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (6)
  • September 2017 (7)
  • Agustus 2017 (2)
  • Juni 2017 (12)
  • Mei 2017 (11)
  • April 2017 (6)
  • Maret 2017 (3)
  • Februari 2017 (4)
  • Januari 2017 (2)
  • Desember 2016 (5)
  • November 2016 (6)
  • Oktober 2016 (6)
  • September 2016 (5)
  • Agustus 2016 (1)
  • Juli 2016 (1)
  • Juni 2016 (6)
  • April 2016 (2)
  • Februari 2016 (1)
  • Januari 2016 (2)
  • Desember 2015 (1)
  • November 2015 (3)
  • Agustus 2015 (1)
  • Juli 2015 (1)
  • Juni 2015 (4)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Februari 2015 (6)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (4)
  • November 2014 (14)
  • Oktober 2014 (2)
  • Agustus 2014 (3)
  • Juni 2014 (12)

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates