Nabiloski De Pellegrini


"Tetaplah bermelodi dengan kekuatan nadimu yang jangan sampai mati", kataku kepada diriku sendiri.

Di jurnal ramadhan kali ini, entah kenapa aku pingin cerita banyak banget tentang segala hal yang kembali ‘menyadarkanku’.

Ramadhan hari ke-4 banyak lagi yang membuatku risau karena ada kata-kata yang cukup mengusik batinku. Selain karena keberadaanku di Malaysia dan segala cerita tentangnya aku kembali mengingat adek pertamaku, Dek Daffa.

Yang pertama adalah tentang adekku,

Sudah hampir setengah tahun kita tidak bertatap muka, berkomunikasi pun tidak. Perantauannya ke Solo banyak merubah adekku, setelah dia mencoba kuat untuk berada di Jogja tapi Allah membawanya ke Solo, lebih jauh lagi dariku. Adekku ini adalah yang paling sederhana diantara kami empat bersaudara. Aku yakin dia sudah mulai matang dan bertambah dewasa menyongsong umur 16-nya di penghujung November nanti. Ada komunikasi berjarak cukup lama dengannya dibanding dengan adek yang lainnya.

Dek Daffa banyak menyadarkanku arti menerima. Banyak tantangan batin yang dihadapi adekku sejak dia kecil. Terlebih kejadian pada lebaran empat tahun lalu, kejadian terbakarnya seorang anak kecil di rumahku, kejutan batin ini tidak akan pernah hilang di mata Dek Daffa bahkan sampai dia memasuki usia senja. Bersamaan dengan itu dia diharuskan untuk merantau seorang diri di pesantren di pinggir Kota Jogja. Waktu itu aku tidak bisa berhenti membayangkan, di tengah kekalutan bagaimana kesendirian bisa menyebabkan dia bertahan. Naluri seorang perempuan, aku hanya bisa mendoakan dan kadang menangis kalau mengingat kejadian mengejutkan itu.

Dek Daffa selalu dihantam dengan kejutan batin, yang kedua adalah dengan meninggalnya teman dekatnya di pesantren, tidak lain dan tidak bukan dia ternyata adalah  adek dari teman satu sekolah di  Jogja. Kami tidak sengaja bertemu di rumah duka. Aku sampai terharu dengan kisah pertemanan kedua adek lelakiku dengan teman dekatnya yang lebih cepat kembali ke surga, semoga. Dek Gibran (adekku yang terakhir) masuk dalam igauan seorang kecil yang terbakar tadi di masa kritisnya,

“Baan bal-e baan,” sahutnya dalam bahasa Jawa.

“Daf tolong laundry-in bajuku di lemari,” sahut teman Dek Daffa di masa kritis temannya di rumah sakit.

Seberapa mereka berarti buat teman mereka, sampai disebut namanya di masa kritis menjemput maut.

Dan kali ini memang harus ku akui, aku merindukan sosok Dek Daffa yang penghujung tahun lalu memboncengku di desa di pucuk bukit untuk pijat syaraf karena keadaan tubuhku yang meminta setelah kegiatan banyak menghujam waktuku. Dalam waktu itu aku juga tidak banyak bercakap dengan adekku. Dek Daffa sudah terlampau jauh lebih tinggi daripada aku.

Dia adalah lelaki yang tidak pernah takut melawan batas, terlampau nekad di masa perantauannya dan seorang yang tidak kehabisan akal untuk berkreasi. Adekku punya kekuatan non-akademik yang kata Bapak dalam hal teknik. Mulai dari bahan kayu sampai mesin, kelenturan tangannya membuat egrang, kursi, membenahi sepeda, membuat sangkar burung, petasan dengan spirtus dan masih banyak lagi, tidak bisa disebutkan satu per satu. Jika ditanya perihal masa depan, tidak akan dijawabnya melainkan dengan karya nyata. Aku selalu memupuk keyakinan, dia akan jadi lelaki tangguh berbekal banyak kejutan batin di hidupnya, kejutan fisik pun pernah. Semasa kecil dia pernah ketumpahan air panas di dadanya sampai kulitnya melepuh parah.

Adekku selalu terlihat yang paling tulus, sederhana dan berusaha menjadi teman setia kawan-kawannya. Dia bisa merangkul banyak jenis kawan. Sejak dia merantau sudah banyak yang dia sambangi untuk menjalin rahim yang semoga ini menjadi kekuatan andalanmu hingga masa senja nanti ya dek.

Nilai ketulusan dan kebermanfaatan yang kini menjadi modal penguatku di Negeri Kedah.

Yang kedua adalah melihat teman-temanku,

Hal yang aku yakinkan ke diriku sendiri adalah mungkin kamu butuh dua kali atau lebih kesabaran buat memberi kebermanfaatan di tempat berpijakmu sekarang. Ada kata temanku yang cukup mengusikku, “Fix, Ketok sek MH ndi. Sek dolan ndi.” Kata ini muncul selagi aku sampai di Book Store Alor Star Kedah. Padahal aku juga tidak pernah menyangka bakal sampai sejauh ini. Sebagai bentuk berbagi kebahagiaan aku menawarkan ke beberapa temanku barangkali ada yang mau menitip buku.

Kata-kata itu menghujamku. See. Aku juga tidak mau begini. Asal kamu tau, mensyukuri adalah kekuatanku sekarang.

Dari kemarin naluri IRI tentunya tak kunjung berhenti melihat kawan Sabah yang sudah mendarat, kawan Pahang yang asik dengan anak Rumah Kebajikan, kawan Wardah Klang Selangor yang bisa bertemu manusia super dan harus steril dari media di Rumah Perlindungan, kawan Selangor yang sudah punya 3 sesi buat mengajarkan harfun, kawan Kelantan yang sepagi ini berhasil membuatku menangis karena takjub dan bangga punya sesosok teman seperti Bira yang selalu tampil sederhana diantara kita. Bira yang selalu punya kekuatan beda dan paling tangguh menghadapi banyak kejutan di Malaysia. Bira yang tidak sungkan mengajarkan ilmu silatnya bak Pendekar Srikandi. Bira yang berjalan menuju 6 tahun berkawan bahkan berpartner selalu tampil apa adanya tanpa dusta.

Naluri IRI seorang Nabila yang secara alamiah aku ini, Please dear I can’t stop move, I can’t stand if just sit down and live in comfort zone. Dan hari-hari di Malaysia ini aku berfikir, buat apa sih kalo hanya bahagia buat diri sendiri.

Tapi kemudian sejak tengah malam hingga pagi ini aku mulai mengambil jeda sejenak untuk menyadari, bahwa mungkin kamu butuh dua kali lebih kesabaran, ada masa yang terbagi dan ada masa untuk mengumpulkan kekuatan mengabdi bukan berarti dalam penantianmu kamu hanya berdiam diri tanpa arti. Mungkin kamu butuh menghimpun energi baru untuk disemai tanpa tapi. Buat apa kalau kamu hanya menyesali, buat apa mencari-cari toh bahagia hanya soal menyadari.

Dalam perjalanan di Malaysia hingga kini aku tidak kehabisan energi untuk mengumpulkan jurnal teman-teman supaya semua menyadari banyak kisah yang perlu diabadikan tanpa henti. Ibaratnya buat apa jauh sampai bulan kalau hanya seorang diri. Cerita mereka mampu meneguhkanku sampa sejauh ini. Nyaass, terharu, bangga, salut punya teman seperjuangan yang punya semangat memberdayakan yang tidak dibatasi oleh apapun, memberdayakan dengan ketulusan tanpa sekat.

Kalau perjalanan ini tanpa rintangan batin dan fisik, kita tidak akan pernah belajar bahwa sebenarnya kecewa dan sesal itu sangat menguatkan, lalu penantian itu sungguh menyesakkan jika hanya mengaung dan menyesali.

Tentang menyadari ini aku tulis dengan sepenuh hati, jangan pernah lupa ya kalau kita pernah sampai disini, jangan berhenti berjalan sampai nafas berhenti berhembus

“Tetaplah bermelodi dengan kekuatan nadimu yang jangan sampai mati.”

See. Then you’ll realize that the most powerful thing is sharing and moving with no stopping.

08.20 WM

Salam Kawan,

Kampung Charuk Kudong
5 Ramadhan 1438 H




Jadi hari ke-3 Ramadhan tak seperti biasanya, kami sholat subuh pun di rumah karena Pak Lung Suhaimi mendadak tidak enak badan. Kami pun melakukan pekerjaan rumah yang sekiranya bisa meringankan tugas Mak Lung. Sedikit bingung juga, karena kami hari itu juga tidak akan berbuka puasa di sanak saudara Pak Lung. Tapi kabar bahagianya Mak Lung mengetuk pintu kamar dan mengajak kami untuk ke bazar di sore hari. Yeeeee ! We will go out again um :))

Keluarga Haji Suhaimi mendapat giliran MOREH, yaitu memberi semacam takjil untuk Surau tapi ba'da tarawih. Jadilah kami merasakan sholat tarawih di banyak tempat, mulai rumah - surau - masjid di beberapa daerah di Kedah pula. Kami bertolak dari rumah sekitar ashar karena kami akan menunaikan sholat di Masjid Ar Rahman, jalanan Kedah mulai ramai dengan penjual makanan di waktu menuju berbuka.



Sesampai di bazar, aku menghela nafas ternyata tidak banyak berbeda dengan di Indonesia, tenda-tenda berdiri dengan terpal sebagai atapnya. Ramai penjual mulai dari pakaian, makanan, sayuran, alat rumah tangga, dan perlengkapan harian lainnya. Kami langsung diboyong ke penjual tepung talam, srimuka dan keladi, sederhananya rasanya mirip kue lapis di Indonesia. Kami dibelikan ketiga jenisnya sekaligus.

Sedangkan untuk makanan MOREH Mak Lung memilih untuk membeli 2 jenis apel dan 1 buah jeruk tiap bungkus. Naluri ibu seluruh dunia pastinya membeli sayuran, tapi alangkah baiknya beliau berdua membelikan kami ayam panggang sebagai lauk makan malam ini.

Tak lama kemudian kami kembali ke rumah, membungkus buah-buah tersebut ke dalam plastik daur ulang berwarna hijau.

TIGA PANJI NEGERI



Selepas dari bazar aku memilih melakukan sesuatu yang berfaedah. Aku bawa alat menulis menuju meja makan sambil ngobrol dengan Pak Lung. Pak Lung gemar sekali bercakap tentang Indonesia dan Malaysia, kali ini beliau mengenalkan kami dengan tiga ulama yang tinggal di mekkah pada sekitar Abad 19, ketiganya berasal dari Nusantara : Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (ulama asal Banjarmasin), Syekh Daud Bin Abdullah Al Fatani (ulama asal Patani Thailand Selatan) dan Syekh Abdusshomad Al Palimbani (ulama asal Palembang). Kata Pak Lung mereka bertiga bersahabat dan bersepakat untuk menjaga perdamaian Tanah Melayu.

Namun suatu ketika Thailand menjajah Kedah (tempat singgahku sekarang) dan banyak membunuh manusia. Berita ini sampai ke Mekkah. Akhirnya mereka bertiga resah dan kembali bersama ke Bumi Kedah. Ikatan persaudaraan ini tidak ikut mengikat Thailand dan Bumi Kedah. Naasnya, Syekh Abdusshomad Al Palimbani terbunuh di Bumi Kedah. Yang ingin mendamaikan justru terbinasakan.

Kisah serupa seperti ini tidak pernah berhenti bergulir di dunia dari zaman ke zaman. Pertumpahan daerah dan perdamaian akan berjalan beriringan layaknya api dan air yang tetap ada di bumi manusia. Perjalanan kemanusiaan di Tanah Melayu yang cukup menggetarkan. Rasanya berbeda ketika hanya belajar sejarah di kelas formal, padahal aku telah kenal tiga panji Nusantara ini sejak lama dari mapel Sejarah Kebudayaan Islam. Tapi kisah dari Pak Lung menuai beda bagi aku dan Umma sampai beliau mengeluarkan biografi Syekh Al Banjari dan karya-karya ketiga ulama ini.

Tidak berhenti sampai disitu, Pak Lung juga mengeluarkan buku Buya Hamka yang berkisah tentang Ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah. Ayahnya segenerasi dalam membumikan gerakan Muhammadiyah bersama Ahmad Dahlan bedanya Ayah Buya Hamka berfokus di Bumi Minangkabau. Sedang Buya Hamka generasi setelah itu yang amat masyhur di Tanah Melayu, masyarakat Malaysia sangat mengagumi beliau. Sesosok yang penuh pembuktian akan kekuatan ilmu, bahwa tidak menempuh pendidikan formal tetapi diakui banyak manusia hingga mendapat gelar 'Profesor'.

***
Begitulah senja itu dibangun di Kampung Charuk Kudong Sik Kedah. Malamnya kami menikmati tarawih di Surau dekat rumah sekaligus memenuhi giliran Pak Lung dan Mak Lung, MOREH. Surau yang penuh sampai shaf belakang dan aku bertemu puteri kecil Kedah yang lucu, cantik dan syahdu.

Hari itu juga ada hal yang menggetarkan Ramadhanku dengan pesan Bapak dari rumah, yang tidak pernah berhenti dengan petuah bijak yang berpengaruh besar terhadap perjalanan kedewasaanku.

"Tetaplah menjadi penjaga Al Qur'an"


Salam Kawan,

Perjalanan Alor Star menuju Kampung Churok
5 Ramadhan 1438 H

Ramadhan ke dua ini aku mulai penasaran, hey bagaimana kabar Indonesia ?
Selepas chat dengan kawan se-perjuangan pertukaran dari tanah sumatera dan Indonesia, pun dengan kawan se-perjuangan dari sekolah kader. Karena mereka banyak mengomentari jurnalku. Banyak yang perhatian Bil, terlebih lagi selepas chat dengan dua kakak penguatku di bulan-bulan belakangan ini sebagai pengendali ekspektasi, Kak Putra di Italy yang kerasa sepi banget terus sahur masak sendiri makan sendiri dengan indomie yang dijual bebas di tokonya orang India, yang terakhir dengan Kak Oase yang habis berpetualang ke Shanghai. Chat-ku baru dibales dan aku juga ngga sabar cerita ke mereka berdua. Ngga sabar juga ketemu mereka di pertengahan tahun ini, yang hari kemarin malah ngga sahur.

Itu cerita mereka di negeri nun jauh disana, let me tell yeaa di negeri seberang Nusantara


#TADARUSS BERSAMA MAK CIK


Sahur makan nasi goreng Malaysia dan seseduh kopi sisa semalam yang disediakan sepenuh hati oleh Mak Lung. Kami sahur pukul 5 WM dan adzan shubuh berkumandang sekitar pukul setengah 6 lebih. Berlanjut waktu sholat subuh di Masjid Ar Rahman, yang berbeda sepagi itu adalah kami hendak ikut kelompok tadarrus Ibu-Ibu Sik Kedah ba’da shubuh. Masing-masing akan membaca satu halaman bermula dari awal Juz 3, tapi uniknya di setiap akhir ayat yang dibaca salah seorang semua yang ada disitu akan membaca bersamaan tanda bagian seorang tadi sudah selesai. Semakin lama semakin bertambah, aku kira barang satu jam kami tadarrus, ternyata hampir 2 jam. Mata pun sudah kupaksa supaya mau berkompromi.

Aku juga harus melebih lambatkan nada mengajiku, ibu-ibu membaca dengan perlahan sekali. Ada satu pemimpin mereka, yaitu Ibu berkacamata yang memang kelihatan berkharisma, pantas saja. Kiranya pukul setengah 9 Mak Lung memberi kode supaya kami pulang dulu. Selepas itu di mobil atau lebih tepat dsebut kereta kalau disini. Kami istirahat sejenak di rumah, karena jam 9 lebih kami akan diajak ke Rumah Yatim Gemilang. Finally :’)


#RUMAH GEMILANG

Kami berkunjung dan diajak keliling sama Pak Lung, dikenalkan bagian-bagian di sana dan diceritakan kebiasaan budak-budak panti. Sewaktu duduk berkumpul di office Rumah Gemilang Pak Lung bercerita kalau masyarakat Malaysia seumuran beliau paham tokoh-tokoh Indonesia terutama sastra. Karena semasa beliau sekolah ada pelajaran kesastraan Melayu, seperti Siti Nurbaya karya Meurah Silu, Tan Malaka, Pangeran Diponegoro banyak yang paham. Namun generasi sekarang tidak sedetail itu dalam belajar kesastraan. Sedang disitu ada Kak Bahijah yang cantik putih anggun sekali, dia pandai cakap bahasa arab ikut tertawa, bahasa melayunya dia lebih ‘nggremeng’, di mengiyakan pernyataan Pak Lung. Masyarakat Malaysia paham kalau orang Indonesia bercakap dengan bahasa Indonesia karena banyak sinetron Indonesia yang tayang di Malaysia.

Bagian terunik saat berkunjung ke sana adalah saat bertemu Pak Cik Hazizan. Logat melayunya semakin membingungkan apalagi kalau mereka cakap satu sama lain. Aku kadang memandang dengan melongo sampai Pak Lung tanya, “Paham tak,” apalah daya cuma bisa meringis. Pak Cik Hazizan terlihat sebagai penjelajah yang bikin aku merinding terlebih waktu beliau bertanya soal pesantren di Indonesia sumber dananya dari mana, lalu bertanya kami sudah tadarrus berapa jauh ? diberengi cerita beliau yang sudah khatam 20 kali. Setiap harinya ba’da shubuh 1 juz dan begitupun ba’da dhuhur. Aku tersentuh, aku yang rasanya hanya kenceng tadarrusnya kalau ramadhan meskipun di hari biasa aku tetap mengaji namun tak sebanyak kala ramadhan.

Dialog kami yang lainnya adalah mengenai Ahok, beliau selalu mengikuti kabar via kompas. Ahok yang sudah melambung ketenarannya gara-gara Al Maidah 51 yang menjadi trending di Indonesia dan membuat umat islam semakin bersatu itu. Aku bercerita, kalau kawan kami yang ke Malaysia juga da yang pernah mengikuti salah satu demo karena Ahok seorang. Lebih jauh lagi kami berdialog soal Cina, ekonomi di Malaysia pun sudah di kuasai Cina. Pak Cik Hazizan juga bercerita sewaktu berkunjung ke Iran, Cina pun yang menguasai perekonomian rakyat. Kami juga bercerita hal yang sama tentang keadaan ekonomi di Indonesia. Pak Cik satu ini kaya wawasan, gaya berbicaranya pun mampu menarik banyak orang supaya ikut mendengarkan kisah beliau.

Beliau pernah bekerja di Pulau Pinang, kawasan pecinan yang lekat sekitar tahun 1990-an. Karena itu beliau tahu banyak soal kegesitan Cina dalam ekonomi. Kalau kata Ibnu Batutta,
“Kita tidak akan pernah menemukan Bangsa Cina yang tidak kaya di dunia”
Kurang lebih begitu seingatku.

Kami berlanjut menengok ruko milik Rumah Gemilang. Pak Lung Suhaimi mempersilahkan kami untuk memilih cemilan yang kami suka. How pleasure I am dear.
Sekembali ke kereta Pak Lung menunjukkan buku Syekh Daud Abdullah Al Fatani, pencipta arab pegon. Lalu Pak Lung meminta kami membaca tulisan arab yang kecil dan ruwet itu. Sering sekali beliau bertanya tentang sastrawan, buku-buku, sampai pernah menunjukkan video puisi Gus Mus yang judulnya AKU HARUS BAGAIMANA saat masa 1998 di Indonesia. Ekspresi kemarahan terhadap Soeharto. Jadi semakin terpacu belajar dari Pak Lung.


#BER-RAHIM

Sehari itu kami tak sabar bertemu Umi Unnik, Kak Nia dan rombongannya. Mereka bertolak dari Kelantan. Kira-kira pukul tiga mereka sampai. Sebagai bentuk rindu dan bakti ke Umi dan Kak Nia, aku dan Umma memijet satu-satu. Kedua ibu kami ini punya ketulusan super yang tidak bisa diukur dengan materi, dua hari berturut keliling Malaysia demi menengok kami yang ber-mubaligh ria, prinsipnya sudah bertatap muka saja meskipun sekejap itu sangat cukup. Ketulusan dan rasa ke-ibu-an yang tidak pernah lepas dari beliau berdua. Perjalananku bermula diasuh Umi Unnik dulu di Asrama Siti Aisyah dan tidak pernah lepas dari ber-rahim dengan beliau.

Setelah beberapa saat kami bertolak ke tempat Wafiq dan Fauzi di salah satu pesantren putra. Aku meminta bertukaran dengan Kak Erik dan Ustadz Anton, supaya aku dan Umma di kereta yang dibawa dari KL supaya bisa tetap bersama Umi dan Kak Nia, sedang beliau berdua di kereta milik Pak Lung. Wafiq dan Fauzi tinggal di homestay, kira-kira berjarak 8 km dari kami. Kami pun tidak berlama-lama disana. Awalnya berharap bisa singgah bermalam di Kedah eh ternyata harus mengejar waktu. Rasanya ditinggal Ibu itu kan sedih ya.


#BERBUKA PUASA RIA DI FELDA, SUNGAI TIANG PENDANG

Pak Lung sudah menyampaikan di pagi hari jika ustadz dan ustadzah balik awal kita nak jalan-jalan lagi ke rumah Mak Teh keluarga Mak Lung. Bedanya Wafiq dan Fauzi juga akan diajak. Kasian mereka tidak seberuntung kami, haha. Kami pulang dulu ke rumah lalu balik menjemput Wafiq dan Fauzi, sempit-sempit di kereta yang minimalis milik Pak Lung. Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit. Kanan-kiri yang kami lihat masih sama, lembah-lembah dan tebing yang curam. Pada suatu waktu kami melewat kawasan Patung Buddha, harap-harap semoga ada kesempatan berkunjung ya Um.

Setiba di rumah Mak Teh, sederhana nampak dari luar, rumah bertingkat. Tapi kalau sudah masuk, subhanallah klasik rapi bagus pokoknya. Mak Teh sedang mempersiapkan menu berbuka. Aku dan Umma berkeliling sekitar rumah dulu. Menuju berbuka, kami berempat (Aku, Umma, Wafiq dan Fauzi) menunggu dengan ber-tadarrus, mengejar target khatam kami. Ketika waktu berbuka, kami berkumpul di meja makan.



Lalu sholat maghrib bersama dengan Pak Lung sebagai imam di rumah.

Menjelang sholat tarawih kami mempercepat makan supaya terkejar bisa ke masjid. Setengah kilometer dari rumah, Masjid Al Falah Sungai Tiang. Kami yang muslimah sholat di lantai dua, aku dan Umma baru menyadari ternyata ada Al Quran besar yang terpasang di depan imam, jadi imam bisa sambil membaca, bacaan tarawihnya pun kelihatannya berurut dari hari pertama dan bermula dari surah Al Baqarah. Tapi kami hanya sholat 8 rakaat lalu witir di rumah.

Balik ke rumah lalu tadarrus sejenak dan bersiap kembali ke rumah di Kampung Churok.



Salam Kawan,

Sik Kedah, 19.28 WM
3 Ramadhan 1438 H




DAY ONE OF RAMADHAN, KEDAH – PULAU PINANG ON THE ROAD

Sejak semalam yang kami berdua, aku dan Umma sholat tarawih 23 rakaat dan juga ikut ber-qunud. Awalnya kami bingung mau 11 rakaat seperti biasanya atau tetap mengikuti imam, ya sudahlah kata Umma, “ikut ibu aja, besok kita 11 aja tapi.” Haha okedee Um. Bismillah, dengan nahan kantuk yang ketahan banget demi malam pertama Ramadhan Mubarrok di Negeri Jiran yang ngga boleh terlepas begitu saja. Kami tarawih di Masjid Ar Rahman, awalnya karena kami terlalu lama bersiap mau sholat di rumah tapi demi jamaah di masjid kami tetap ikut Pak Lung Suhaimi ke masjid, harus naik mobil.

Usai tarawih kami nak diajak makan kwetiau. Allahu sudah banyak rumah makan yang kami putari tapi kalau nggak penuh, tutup atau habis. Kami keliling semakin jauh dari rumah dengan perut yang kok bisa laper lagi dan ngantuk super. Ibu dan Pak Lung memperlihatkan Bank khusus tabungan haji, Dinas Kesehatan, lalu ketika tiba di kawasan yang katanya banyak kaum Buddha beliau menceritakan kalau di Malaysia orang Islam semuanya berjilbab kalau tak pakai jilbab berarti dia jelas bukan islam, beda kan ya dengan Indonesia ? Pada akhirnya cari kwetiau sampe larut ngga ketemu, nyari burger juga engga. Kita pun minum susu milo dan sandwich sederhana di rumah. Batinku, hal itu kayaknya akan jadi rutinitas kami lepas tarawih.

Sholat shubuh pun tak mau kami lewatkan kalau hanya menghamba di rumah, sholatlah kami di Masjid Ar Rahman, selalu ramai. Sehari kedatangan kami, kami mulai membaca ‘how the Malaysia Culture, there is always the different one’ kaan dengan Indonesia. Pagi kami hanya bisa cuci baju dengan banyak resah sewaktu kembali nimbrung di grup Pasukan MHI, semuanya berkabar ria sudah bisa mengajar HARFUN, membuat jadwal di panti, Kawan Sabah yang tak kunjung dapat kepastian, Wardah Klan yang sibuk di Rumah Perlindungan, Kawan Pahang yang pusing-pusing mulu. The feeling of ‘iri’ kami muncul seketika, karena kami masih duduk di rumah. Kami berfikir ulang, tetap bisa produktif kok. Kami masih punya Al Qur’an dan penunjang buat menggoreskan pena supaya setidaknya tetap bisa berbagi kebahagiaan dengan explore journal.

Sampai waktu kami berkabar dengan Sabrina di Kuantan, ada ide terbesit muncul buat izin ke Pak Lung Suhaimi dan Mak Lung, “Boleh tak kami keliling sekitar kampung ?”. “Boleh laa, apa mau naek motor,” balasku seketika menunjukkan kesanggupanku buat naek motor, mencoba meyakinkan kalau biasanya kami di Indonesia juga pun berpusing-pusing dengan motor. Umma langsung kegirangan. Kami segera bekemas.

Aku pun keluar, Pak Lung sudah mempersiapkan motornya. Waduuh kok besar dan berat begini, ada keranjang di bagian bawah stang. Bisalah dicoba, aku memasang wajah yakin supaya Pak Lung tidak khawatir. Kami ngga akan jatuh kok Pak Lung, take it slow. Kami mengarah ke arah kanan, karena kiri adalah jalan arah kami datang kemarin dan jalan menuju masjid. Melaju terus ke kanan, banyak rumah ala semacam di Upin Ipin yang biasa kami lihat sebagai gambaran Malaysia (sederhananya).



Melaju terus dan ada papan KOLEJ KEDA 100 meter ke kiri, jelas kami pilih kiri. Ternyata emang ada sekolah disitu. Rasa-rasanya emang harus berhenti dulu, aku terus bawa Tas gratis dari Jurnalisme Maarif di Jogja kemarin. Pingin aja mem-branding-kan Indonesia dari hal yang sesederhana itu haha. Kampung itu cukup hening, melaju terus ke atas dan ada taman bermain sedihnya ada kucing yang super nyebelin, karena jujur ‘Phobia Kucing Sangat’. Kami berfoto ria di bagian-bagian yang menunjukkan identitas kawasan itu.



Kami berlanjut ke arah bawah, di jalan sebelum persimpangan kami bertemu Pak Lung, ‘ngga jatuh kan Pak Lung,’ itu yang rasanya pingin tak teriakin biar Pak Lung dengar haha. Dari tadi jalan yang ke kiri akhirnya kami lewati, di kanan jalan saat kami melaju serentak kami berteriak, “MARALINER !”. Jadi Maraliner adalah merk bus yang mengantar kami sejauh KL-Kedah. Ternyata mentok sudah jalan besar, belum berani gas lagi. Balik lah kami akhirnya, ke arah jalan menuju rumah. Tapi kami berbelok jalan-jalan kecil di kanan dan kiri.




KAMPUNG CHARUK KUDONG

Menyisir Kampung Charuk Kudong. Jalannya ya tanah dan banyak pohon di sekitar. Kalau meghadap atas adalah bukit-bukit. Ada anak kampung yang sedang berkumpul di semacam pos kamling juga ada. Kami juga mencoba yang ada tulisan sumber air, ternyata bendungan. Warna mesinnya juga sama seperti di Indonesia, biru tapi disini lebih tua. Ada dua lelaki yang juga bertambat, agak takut. “Putar balik yuk Bil,” kata Umma, “Kita masih keliatan kaya orang Malaysia kan Um,”jawabku. “iya tapi kalau kita diajak cakap Melayu kan nggak bisa.” Allaahuu Malik, eh iya Umma.

Kami juga lewat makam di Kampung ini, “Makamnya sesuai syari’at banget ya Bil. Nggak ada kotakan yang berlebihan macam di Indonesia.”

Kami cukup heran dengan kesederhanaan masyarakat di sini. Rumah-rumahnya tampak biasa saja dari luar, tapi kalau sudah masuk ke dalam. Bagusss banget. Setiap rumah hampir punya mobil rata-rata dua. Rumahnya sederhana sekali, tapi kategori menengah ke atas, dugaan kami. Ada satu rumah yang menarik perhatianku, singgahlah sekejap dengan Umma. Hal yang penting, mengabadikan momen.

Umma pun mengabadikan kawasan momen dengan lensa sederhana gadget nya.


BUKA PERTAMA DI PULAU PINANG




Akhirnya kami balik rumah. Pak Lung dan Mak Lung tampak sudah rapi, ada Kak Sarah juga yang sedang bersiap. Kami disuruh cepat-cepat berkemas, kami akan ke rumah mertua kata Mak Lung. Sayangnya Kak Sarah hendak kerja atau ada tugas apa lah kurang paham. Kami pun hanya berempat.

Aku kira hanya sekejap. Ternyata cukup lama hampir 1,5 jam menuju Pulau Pinang. Tapi waktu ashar kami beranjak dulu untuk sholat di Masjid Jamek Kuala Ketil. Setelah itu langsung berlanjut melaju. Sesampainya di perbatasan Kedah-Pinang Pak Lung memberi tau kami. Aku jadi ingat sewaktu naik Maraliner, disini memang kawasan Pecinan. Saat tiba di daerah toko dan penjual takjil, kami berdua dan Mak Lung turun. Membeli takjil, syukur sekali sumpah. Terus Mak Lung hendak beli tempat makan plastik di toko alat-alat semacam Progo kalau di Jogja. Butuh 10 tempat saja beliau.



Beberapa saat kemudian terus melaju dan sampailah kami di rumah mertua, di tengah kampung dan sekitarnya juga ada pesantren. Rumah mertua kalau bagi Mak Lung tapi Rumah Nenek kalau bagi kami berdua. Ternyata bibi dan beberapa orang keluarga sedang sibuk mempersiapkan buka. Bibi sedang menggoreng kue ubi. Ada nenek, yang aku tanya ke Mak Lung harus panggil apa, kalau di KL dipanggil Nenek tapi kalau disini “Tuk” , begitu katanya.

Mereka semua sooo welcoming sekali dengan kami. Kami benar diperlakukan seperti duo keponakan Mak Cik Siti dan duo cucu Tuk Biah. Sedang ada Kak Yanti yang sedang meracik minum dengan daun Pudina katanya, ada di Medan saja kata Kak Yanti. Tapi aku kira itu daun mint, dan ternyata benar saja Pudina adalah nama lain mint, hmm. Ternyata Kak Yanti dari Solo sudah tak bisa cakap bahasa Jawa karena sejak 9 tahun sudah di Malaysia dan terakhir ke Indonesia pada tahun 2010, sekarang belum dapat izin dari suami untuk berkunjung lagi.



Makanan-makanan berbuka tersusun rapi di meja yang ada kayu putarnya. Ada semangka, ubi gandum, martabak Malaysia, teh hangat, saus kacang dan banyak lagi. Barangkali kawan MHI yang lain tidak merasakan berada di tengah keluarga kecil Melayu semacam ini. Bagian ini yang menjadi poin rasa syukur kami.

Sholat maghrib aku sebagai imam sedang imam tarawih adalah rumah. Kami yang muslimah sholat di rumah sedang Pak Lung ada Pak Cik lainnya pergi ke masjid. Rasanya benar-benar tidak menyangka berada di tengah keluarga Melayu. Kampung-kampung di Malaysia terususn rapi. Rumah Nenek pun sederhana tapi rapi sangat.

Selepas tadarrus ba’da tarawih kami harus pulang. Rasanya sedih, kapan lagi bisa berkunjung. Kami meminta untuk berfoto bersama. Nenek titip salam untuk keluarga. Kami diajarkan panggilan-panggilan di bahasa Malaysia, antara KL dan Pinang pun berbeda, Kedah bahasanya lebih baku.



Mak Cik Siti yang baik hati dan tetap kelihatan masih muda padahal sudah berusia 50 ke atas. Kami disuruh memanggil beliau Nenek, aku bilang, “Tapi Mak Cik masih kelihatan muda,” Mak Cik kegirangan, “Wah , nanti kite belanja-belanja, makan-makan” haha selepas dapat pujian. Beliau kasih kami angpau 20 RM, wah lumayan bangeeet. Berasa emang beliau sudah tante super kami. Kami berpelukan dan harus berputus hubungan (sebutan di bahasa Malaysia).

Kami tertidur pulas di mobil. Pak Lung dan Mak Lung masih sempat membelikan kami kopi untuk diseduh sebelum tidur. Benar kan ini akan jadi rutinitas sebelum tidur kami.

Ada satu keresahan kami hingga saat ini, sebelum kami bertemu Majelis tempat dimana kami bisa berbagi ilmu kami belum tenang. Menyisakan pengharapan banyak di sisa Ramadhan ini.


Jurnal ini masih terus berlanjut ya, tentang Kedah dan segala penghamparannya :)


Salam Kawan
Kedah, 01.28 WM



3 Ramadhan 1438 H
29 Mei 2017 M
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Cari Blog Ini

POPULAR POSTS

  • Di Kereta Pasundan
  • Unfinished Dress
  • Mendekati Kepulangan
  • Singgah di Singkawang

Categories

AFS Italy 2017-2018 Self Talk Hijrah Malaysia Ramadhan di Italia
Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • Januari 2026 (1)
  • November 2025 (2)
  • April 2025 (1)
  • Desember 2024 (1)
  • Juni 2024 (5)
  • Januari 2024 (1)
  • Desember 2023 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (3)
  • Februari 2023 (1)
  • Januari 2023 (1)
  • Desember 2022 (1)
  • November 2022 (1)
  • September 2022 (1)
  • Agustus 2022 (3)
  • Mei 2022 (3)
  • April 2022 (10)
  • Februari 2022 (1)
  • Desember 2021 (2)
  • November 2021 (1)
  • Oktober 2021 (2)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (2)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (2)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (2)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (11)
  • September 2020 (1)
  • Agustus 2020 (2)
  • Juli 2020 (2)
  • Juni 2020 (1)
  • Mei 2020 (19)
  • April 2020 (7)
  • Maret 2020 (2)
  • Januari 2020 (1)
  • Oktober 2019 (1)
  • September 2019 (1)
  • Agustus 2019 (1)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (1)
  • November 2018 (1)
  • Agustus 2018 (1)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (4)
  • Februari 2018 (5)
  • Januari 2018 (7)
  • Desember 2017 (9)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (6)
  • September 2017 (7)
  • Agustus 2017 (2)
  • Juni 2017 (12)
  • Mei 2017 (11)
  • April 2017 (6)
  • Maret 2017 (3)
  • Februari 2017 (4)
  • Januari 2017 (2)
  • Desember 2016 (5)
  • November 2016 (6)
  • Oktober 2016 (6)
  • September 2016 (5)
  • Agustus 2016 (1)
  • Juli 2016 (1)
  • Juni 2016 (6)
  • April 2016 (2)
  • Februari 2016 (1)
  • Januari 2016 (2)
  • Desember 2015 (1)
  • November 2015 (3)
  • Agustus 2015 (1)
  • Juli 2015 (1)
  • Juni 2015 (4)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Februari 2015 (6)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (4)
  • November 2014 (14)
  • Oktober 2014 (2)
  • Agustus 2014 (3)
  • Juni 2014 (12)

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates