Nabiloski De Pellegrini

9April 2022—Ada beberapa hal yang menyenangkan di tengah perasaan yang cukup gusrah-gusruh menunggu kepulangan informan. Ada perasaan ingin pulang ke pangkuan Bapak dan Ibu. Hari ini perasaan itu muncul tanpa permisi. Beberapa ketakutan hinggap (lagi) pelan-pelan. 

Hari-hari di Pamulang aku habiskan diam di rumah, mengerjakan tugas, menulis jurnal, dan bersiklus sama; buka dan sahur bersama di rumah dengan kudapan wajib es buah, teh panas, dan gorengan yang dimakan sama kuah pecel dan lontong oncom/sayuran, cara makan khas Betawi. Syukurnya, ada sebuah interaksi menyenangkan yang menutupi hal-hal tersebut, yaitu berkunjung ke rumah baru Kak Abid, Kak Shira, dan putri mungilnya Shahia di Taman Serua. Kalau dari google maps, kurang lebih 3.5 kilometer dari rumah Pamulang.

Aku dijemput Brilliant, sampai di rumah mereka kami harus menunggu kedua kakak panutan kami beli bahan kue. Hujan disertai angin besar ke arah selatan datang tanpa tanda, di beberapa jam kemudian langit cerah, menyisakan aroma petrikor dari tanah rumput di halaman depan. 

Dari perpindahan rumah mereka ini aku belajar, kalau kita benar-benar tidak bisa memegang kendali perihal masa depan. Pasalnya rumah kontrakan mereka tepat di depan rumah Kak Rama, aku masih nggak habis pikir kalau semuanya lucu, sempit, dan dunia suka bikin kejutan. Sesederhana karena hebatnya pertemanan yang bahkan tanpa ikatan darah. Maka, aku selalu percaya satu hal; bahwa pertemuan antar manusia itu nggak pernah ada yang sia-sia.

Aku dan Brilliant bergantian main sama Shahia, diselingi Shahia yang main sama anak-anak kecil di komplek perumahan. Shahia kamu harus tau, kalau kamu sungguh beruntung dikelilingi saudara dari mana-mana. Perangaimu yang betah dengan siapa saja serta nggak mudah rewel bikin kamu disayangi banyak orang. Termasuk aku Nabila :)

Sayangnya Brilliant harus pulang lebih dulu. Bersiap ke Menteng buat merayakan ulang tahun kakaknya sekeluarga. Jadi tinggal aku seorang yang memutuskan buat buka puasa di rumah Kak Abid. Tawaran ini mahal karena pada akhirnya aku bisa punya intimate conversation dengan Kak Shira dan Kak Abid sembari menengok proses pembuatan brownies "Nah! Buat Kamu" yang aromanya sampai ke kerongkongan. Belum lagi momentum Kak Abid membuat adonan buka puasa yang bercampur banyak bahan makanan semacam kentant, wortel, daun bawang, kari, dan beragam rempah yang nggak aku ingat semua.

                


Di sela itu, aku mungkin cukup menyebalkan karena banyak tanya (hehe). Bertanya apa namanya, isinya, dan cara memasaknya. Kudapannya buat aku semakin merasa kelaparan, "Berbaring dulu Nabila," tawaran Kak Shira berkali-kali. Masalahnya berbaring menjelang berbuka itu rasanya aneh kak haha, bukan persoalan aku jaim dan merasa nggak enak. Jadi lebih baik aku ngobrol sama kalian berdua.

Minuman melegakan yang aku suka adalah teh panas yang dicampur kayu manis dan cengkeh. Selain itu, akhirnya aku mencecap brownies yang udah dikudap sebagian besar anak IPM Banten, atau beberapa senior IPM yang singgah ke Jakarta, "Ini Nabila brownies yang pingin kamu rasain," siap grak Kak Abid! 

This hospitality warms my heart.

Di waktu berbuka kami membicarakan banyak hal, mulai dari ocehanku soal PKPTMU, makanan ala keluarga Kak Abid, bahkan sampai lumpia enak depan PP Dahlan Jogja. Ba'da isya' kami berpacu ke Pasar Kita buat beli di kedai kopi TUKU yang Kak Shira kepoin. Aku pakai motor Brilliant sama Aisyah adik Kak Rama yang bakal bawa pulang motornya. Shahia yang lucu digendong Kak Shira, mungil banget kamu nak di tengah Ayah Bundamu kalau di motor.


Di TUKU aku pesan "kopi susu tetangga", cuma Kak Shira yang pesan coklat. Ramai dan renyah di tengah ingar bingar suasana Pasar Kita. Aku banyak belajar dari kesederhanaan dan ketenangan Kak Abid Kak Shira. Terima kasih banyak! Semoga di lain kesempatan kalian bisa main ke Temanggung. Menjelang pukul 10 malam kami pulang, antar aku lebih dulu ke Perumahan Al Falah Pamulang.

The intimate conversation can lead you to the unexpected.

Pamulang, 9 April 2022
23.50

5 April 2022—Di hari ini aku harus pulang dan terbang ke Jakarta. Keputusanku memilih Jakarta eh Tangerang Selatan lebih tepatnya untuk pulang adalah karena aku harus menuntaskan tugas praktik penelitian etnografi. Sialnya aku udah terlanjur mengusulkan judul ethnic intermarriage—gagal ke Sumbawa aku beralih ke Bekasi. Tepatnya ke keluarga Shintya salah seorang teman returnee KL-YES 2017-2018, marga Sembiring. Papanya seorang Batak Karo yang menikah dengan Tante Sri Lestari, aku belum memastikan beliau seorang Jawa atau Betawi.

Izin ke Shintya dan mama papanya dulu tentunya. Doakeun lancar jaya yah!

__

Dari rumah Jidi ke bandara, aku dijemput Kak Aziz, seniorku satu tahun di atasku yang sama-sama returnee AFS Italia. Kak Aziz mungkin ngerasa bersalah karena selalu gagal ketemu aku sampai hari kedua terakhir di Lombok haha. Jadilah dia menawarkan buat antar aku ke bandara. Kebetulan pas sekali karena Jidi harus antar Imam lebih pagi jam 6-an ke bandara. Aku dan Kak Aziz komunikasi lewat DM Instagram dan untuk shareloct berlanjut lewat WA Jidi. Terima kasih Jidi dan Kak Aziz!

Ada banyak hal yang kita berdua obrolin di mobil. Sebagian adalah refleksi soal gimana kita terbiasa punya pertemanan berjarak di keluarga besar AFS seluruh dunia, once we meet, it feels like we already met yesterday—it is a form of a long lasting friendship!

Beberapa kali kita juga flashback to the good old days when we were exchange students in Italy. Dulu aku sempat bermalam di rumah Kak Arifi, chapter sebelah, dia teman angkatan Kak Aziz. Beberapa AFS Italia angkatan mereka sempat main dan nginep berhari-hari di sana. See? Dunia kerasa sempit sekali dengan persaudaraan tanpa batas.

“Aku seneng dengernya,” kata Kak Aziz selepas aku cerita soal sempat reunian dan menyempatkan silaturrahim ke rumah almarhum Kamal di Tegal bulan Januari lalu. Kak Aziz juga cerita gimana dia dan beberapa teman angkatannya menyempatkan tahun baru-an bareng dengan waktu yang sedikit. Pertemanan di AFS ini sungguh mahal harganya. Dari Kak Aziz aku juga lebih dapat gambaran soal apa aja yang harus aku persiapkan untuk bisa pulang lagi ke Italia, “Wow ini reasonable banget kak, makasih banyak aku jadi dapet gambaran harus saving money berapa banyak,” sahutku sumringah ke Kak Aziz.

--

Sialnya giliran aku pulang, tanggal 5 adalah hari keputusan baru buat tetap antigen sebelum terbang. Setelah diantar Kak Aziz, aku caw masuk sendiri ke bandara dan menyempatkan kursi pijak 20K selama 10 menit di lokasi boarding :). Super duper enak banget! Akhirnya setelah mengharapkan kursi pijat dan selalu gagal aku bisa betulan berjodoh! Rasanya nggak puas dan pingin nambah lagi.

Di Pesawat kerjaanku cuma tidur. Sedikit menyesal nggak bawa koper karena harus nggotong banyak printilan barang, untung ada teknologi namanya troller. Dari bandara aku ambil bis yang menuju Intermark BSD. Tidur juga jadi pekerjaan utamaku di bis. Sampai di Intermark BSD, aku sempat kebingungan pesan gojek, beruntungnya ada bapak-bapak gosend baik hati yang mau meminjamkan akunnya untuk pesan gojek huhu.

Di Pamulang, aku cukup kaget karena rumah udah direnovasi. Tapi nasibku makin sial lagi karena pas buka laptop, ini juga ikut nge-hang dan cuma booting not found for two hours. Kebingunganku ini bermuara ke DM Mas Nimal dan Kak Rama, sayangnya Mas Nimal cukup bingung memandu. Aku lumayan asal klik dan berujung membingungkan, selang berapa menit zoom call sama Kak Rama. Lucunya ini juga dibantu sama teman Kak Rama yang dia hubungi.

Rasanya pingin nangis ribuan kali tapi nggak bisa keluar karena air mataku terlanjur habis sehari sebelumnya. Jalan terakhir atas saran Kak Rama adalah menghubungi Bang Audi, yang entah mungkin ini mestakung Bang Audi juga mau ke arah Pamulang. Di tengah hujan deras dengan tangan ajaib Bang Audi akhirnya bisa nyala dalam beberapa menit :)

I thank you sooo muchhh! I couldn’t be more grateful eventhough that was another chaotic day for me. What’s wrong with me?

Malam setelah buka puasa bareng keluarga kecil Mas Pujo dan Mbak Defa serta menanggung kelelahan yang tetap datang walau menyempatkan kursi pijat aku diantar sepupuku ke Samsung Service Center di ITC Fatmawati. Harap-harap cemas dan pasrah berserah :)

Mohon doanya semuanya, semoga kita tetap semangat puasa!

Pamulang, 7 April 2022
23.45

4 April 2022—Di hari ini aku pulang dari Bayan setelah dagdigdug nunggu Bang Haris yang ternyata ketiduran, aku menenangkan diri dengan nulis beberapa essay, jurnal harian, ngerjain review mingguan, dan ngobrol sama Bibi yang lagi nenun.

Sekitar siang baru aku caw dengan agak ngebut serta matahari yang menyengat dan panas Lombok melewati pesisir Lombok Utara yang biru cerah. Aku langsung menuju tempat servis di Cakranegara. Setelah sejam menunggu, berita mengejutkan perihal hapeku yang nggak kunjung bisa diservis bikin aku cukup mengeluarkan agak banyak air mata dari sore menjelang buka puasa.

I really had no idea at that moment.

Pikiranku berkecamuk, menunggu sebentar di Sekre IPM Jalan Anyelir bergantung ke wifi sekolah yang datang-hilang-datang-hilang setelah betulan ditinggal Bang Haris dan menunggu Jidi. Jidi sampai dan aku masih resah serta nggak bisa menahan tangisku, Jidi yang tenang dan kalem berusaha pegang hapeku, “Udah Jid udah nggak bisa banget itu,” sahutku putus asa.

Sembari ngebayangin bahwa besok aku harus terbang ke Jakarta tanpa alat komunikasi sama sekali. Pikiranku mengawang kemana-mana dengan tubuh yang semakin lunglai selepas menembus jalanan yang panas. Sesampai di rumah Jidi, ada Imam yang bersantai ria menunggu berbuka. Aku masih memikirkan cara menenangkan diri dan me-nggakpapa-kan nasib yang apes dan lagi-lagi harus tetap dijalani sendiri.

Hidangan buka puasa yang disiapkan Ibu Jidi juga nggak bikin aku berhenti menangis dan bersemangat makan atau minum yang segar. Tapi Imam dan Jidi berusaha menenangkan, “Tenang mbak ayo buka dulu ini diminum, mau coba log in WA lewat hapeku?” tawaran Imam. Barangkali WA ku bisa terkoneksi ke WA Beta.

Selepas menikmati hidangan urap, plecing, ikan goreng, es kelapa, dan kerupuk yang renyah lalu salat maghrib, kami bertiga mencoba menghubungkan WA ke WA Beta di laptopku. Sayangnya hasilnya nihil :) Keapesan ini udah aku coba terima dengan lapang dada. Harap-harap cemas Samsung Service Center di Jakarta bisa menggarap lebih baik dan cepat.

Malam itu, selain aku merasa jauh lebih lega dan menerima kenyataan, Imam bantu print-out tiket dan sertifikat vaksinku. It helped me a lot. Jidi menawarkan buat nobar bareng film India Three Idiots. Wow this made my day! I can laugh after hours of crying. Thank you Jidi and Imam, I couldn’t be more grateful for having both of you as friend.

Pamulang, 7 April 2022

11.15 WIB

3 April 2022—Puasa kedua, masih di Bayan! 

“Sahurnya nanti di sini mbak,” kata Mas Efta sebelum tidur.

“Mbak nanti boleh minta tolong dibanguninkah karena saya nggak bisa alarm nggak ada hape,” permohonanku ke Mbak Sandra istri Mas Efta.

“Iya mbak nanti saya bangunin,” jawab Mbak Sandra ramah sekali.

Naik ke kamarku yang di bangunan panggung langsung bergegas tidur, nggak kerasa dipanggil sahur Mas Efta aku langsung kebangun dan sahur di rumah mereka, masih dengan edisi per-sate-an Bayan. Mbak Sandra ini nggak pernah luput sama buah, jadi aku super duper cocok :)

__

Setelah matahari agak muncul aku memutuskan jalan kaki pagi ke arah timur. Seger bukan kepalang, sawah hijau melintang dan terasering serta hamparan Rinjani di sisi selatan buat aku semakin bersyukur. Beruntungnya aku masih bawa kamera mirrorless meskipun tanpa hape. Melintasi jalanan naik turun menuju arah matahari pagi, akhirnya aku memutuskan putar balik dan menuju ke atas, ke arah selatan tepat Gunung Rinjani jadi pemandangan di depan mata.

Mungkin satu jam lebih aku jalan kaki pagi.

Setelah kembali dan mandi pagi aku jalan kaki ke utara menuju Masjid Kuno Bayan, disapa Ibu pemilik Sanggar Tenun Fetung yang juga masih sanak dari Kak Elin, “Pakaikan dia kain Elin, boleh sana kalau mau pakai kain,” Kak Elin ambilkan aku kain tenun bermotif kotak-kotak khas Bayan. Masjid Kuno ini betulan kuno, berbahan batu, alang-alang, kayu, bambu, dan segenap bahan lain yang mungkin aku nggak paham menjelaskan.

Berada agak atas di area tanah yang tinggi dan dikelilingi beberapa makam tetua/kyai adat sepertinya. Tepat menghadap ke timur aku bisa menikmati terasering persawahan Bayan. Di hari kedua atau ketiga masjid ini sebenernya bakal dipakai tarawih, tapi khusus untuk kyai-kyai atau keturunan khusus bukan untuk masyarakat umum. Sayang seribu sayang.

Selepas berkeliling masjid kuno aku ke sanggar untuk ngeliat Ibu, Kak Elin, dan dua orang perempuan lain menenun. Ternyata aktivitas menenun betul-betul dikerjakan setiap hari oleh sebagian perempuan Bayan. Sebetulnya dari dulu, tapi memang kehadiran Artshop ini baru muncul di 2004—saat Ibu kebingungan ketika ada orang pengen beli tapi pembuat tenunnya bersebaran.

Kak Elin ajak ke Senaru, daerah di mana masih ada sekumpulan rumah adat.

Mengintip Rumah-Rumah Adat di Senaru

Dibonceng Kak Elin, jalanan cukup berkelok ke Senaru, di sisi sebelah timur atau kiriku deretan perbukitan hijau keliatan super duper seger.

This is a blessing.

Baru pertama kali di hidupku datang langsung ke pemukiman rumah adat di Indonesia serta nggak pernah melakukan list khusus mana yang akan dikunjungi. Kata Kak Elin, ini termasuk yang nggak begitu ketat karena ada yang lebih ketat—salah satunya adalah harus banget pakai kain tanpa tambahan pernak-pernik apapun. Areanya nggak begitu lebar, tapi setiap rumah pasti punya beruduk atau semacam gubug atau saung dan kandang hewan. Di dalamnya, cuma ada satu ruangan luas, tempat tidur, dapur, dan lain-lain semuanya bercampur.

Kak Elin masih semangat ajak aku liat kebun kopi. Ternyata di area agak atas lagi dari kebun yang sekaligus ada warungnya itu kita bisa liat air terjun! Sebelum gempa di sana ada kolam, tapi karena gempa hebat tahun 2018, lembah yang di bawah dekat air terjun ikut longsor. In that time, I only live with calm and peace, thank you Kak Elin.

Ketenangan: Resep Hidup Ala Raden Gedarip

Sepulang dari Senaru dan duduk-duduk di beruduk depan sanggar aku ketemu pendaki dari Jawa Timur. Tiga orang mas-masnya cukup kaget pas aku sapa pakai bahasa Jawa serta makin kaget sewaktu tau aku nggak bawa hape, mereka beli kain dan salah seorang masnya menyayangkan aku yang nggak menyempatkan naik Rinjani. Nggih pripun maleh mas hahaha.

“Jadi ketemu kakek,” tanya Kak Elin. Wah jelas jadi dong kak! Aku diantar ke tempat kakek—akrabnya disamap Bapuk di sini. Bapuk ini berpengalaman sekali dan keliling kemana-mana berkat persahabatnya dengan seorang antropolog dari Swedia, bahkan Bapuk sampai bisa bahasa Swedia dan sempat tiga bulan di sana. Membantu sidang, katanya kalau di Swedia harus mendatangkan native yang diteliti. Bapuk keren banget! Ini bikin aku makin bersyukur belajar antropologi; it teaches us how to be human and to save our life in peace. We are all brothers after all, no matter what.

Kalau kata adik kandung Bapuk yang tinggal dekat rumah Mas Efta, “Ngobrol aja sama kakek pakai bahasa Inggris dia bisa walaupun lulusan SD kakek udah kemana-mana,” cerita Bibi yang juga baik hati sekali. Aku berasa dirumat jadi cucunya.

Di usia senja beliau masih segar, “Resepnya apa Bapuk?”

“Ketenangan,” jawab Bapuk sederhana. Bapuk juga cerita kalau Bayan memang sangat terbuka dengan para peneliti bahkan memuji ilmu antropologi yang sangat detail. Bapuk juga menceritakan beberapa tradisi di Bayan serta mengatakan kalau rumah adat di Bayan ini tahan gempa sampai-sampai arsitek dari Jepang dan mahasiswa dari ITB datang ke Bayan. Keheranan.

Bapuk kelihatan kelelahan jadi aku persilakan kalau Bapuk memang lelah biar istirahat dulu.

Sekembalinya dari Bapuk aku mampir Sanggar Jajaq Bayan, tempat ibu Mas Efta. Diberi kesempatan buat dipakaikan pakaian adat ala Bayan, ramah betul ibu ini. selepas tau Bang Haris nggak bisa jemput hari itu, aku memutuskan istirahat dan mengumpulkan amunisi menikmati sore.

Buka Puasa Ala Bayan dan Tarawih Bareng Widya

“Buka puasanya nanti di sini mbak,” ajak Mas Efta.

Aku bergegas mengiyakan dan pamit sebentar keliling Bayan di sore hari. Aku menuju arah selatan, kea rah kerumunan di perempatan, tempat Bibi juga menjual makanan, “Sini duduk sini dulu,” ajak Bibi. Selang berapa menit kemudian aku mampir ke Sanggar Tenun Fetung Bayan dan beli beberapa tas tenun kecil untuk Dek Hanun dan Ibu, diberi diskon banyak sama Ibu pemilik. It is just wow!

Pulang menjelang berbuka dan disuguh es kelapa muda campur susu sekaligus bakwan jagung ala Lombok yang enaknya nggak usah diragukan lagi serta sate lilit yang nggigit parah. Mbak Sandra juga buatkan salad! Menjelang salat tarawih aku menuju masjid sama Sesa dan sepupu perempuannya sambil bawa tikar.

Di masjid, Widya merapat di sebelahku. Widya ini tuna rungu jadi kami berkomunikasi dengan isyarat dan senyum. Di sela salat, Widya pegang tangan kiriku yang terpasang cincin handmade dari Dayu. Widya kelihatan suka! Dengan senang hati aku kasih ke Widya dan dia senyum kegirangan, beberapa kali kita berdua tengok ke atas langit liat bintang-bintang yang cerah meskipun siang sempat hujan. Kata Mas Efta, “Mas Kendal kalau kesini pasti cari Widya.”

Malam itu ditutup dengan duduk-duduk di beruduk sama seorang nenek dan Bibi, disusul Mas Efta dan Sesa. Bibi tiba-tiba masuk ke rumah dan keluar bawa dua buah makanan cemilan berbahan kelapa dan manis, makanan khas Bayan untuk aku.

Lamat-lamat aku coba menyimak percakapan mereka yang nggak bisa aku pahami sama sekali haha, tapi sekali waktu Bibi menyempatkan menanyakan aku beberapa hal, soal cuaca di rumahku, Jogja, dan Sembalun.

“Besok kesini lagi ya kapan-kapan, salam untuk Mas Kendal.”

Siap grak! Terima kasih Bayan, dua malam penuh anugerah, ketenangan, dan penerimaan.

 

Pamulang, 6 April 2022

Siang – 22.27 WIB

 

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Cari Blog Ini

POPULAR POSTS

  • Di Kereta Pasundan
  • Unfinished Dress
  • Mendekati Kepulangan
  • Singgah di Singkawang

Categories

AFS Italy 2017-2018 Self Talk Hijrah Malaysia Ramadhan di Italia
Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • Januari 2026 (1)
  • November 2025 (2)
  • April 2025 (1)
  • Desember 2024 (1)
  • Juni 2024 (5)
  • Januari 2024 (1)
  • Desember 2023 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (3)
  • Februari 2023 (1)
  • Januari 2023 (1)
  • Desember 2022 (1)
  • November 2022 (1)
  • September 2022 (1)
  • Agustus 2022 (3)
  • Mei 2022 (3)
  • April 2022 (10)
  • Februari 2022 (1)
  • Desember 2021 (2)
  • November 2021 (1)
  • Oktober 2021 (2)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (2)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (2)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (2)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (11)
  • September 2020 (1)
  • Agustus 2020 (2)
  • Juli 2020 (2)
  • Juni 2020 (1)
  • Mei 2020 (19)
  • April 2020 (7)
  • Maret 2020 (2)
  • Januari 2020 (1)
  • Oktober 2019 (1)
  • September 2019 (1)
  • Agustus 2019 (1)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (1)
  • November 2018 (1)
  • Agustus 2018 (1)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (4)
  • Februari 2018 (5)
  • Januari 2018 (7)
  • Desember 2017 (9)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (6)
  • September 2017 (7)
  • Agustus 2017 (2)
  • Juni 2017 (12)
  • Mei 2017 (11)
  • April 2017 (6)
  • Maret 2017 (3)
  • Februari 2017 (4)
  • Januari 2017 (2)
  • Desember 2016 (5)
  • November 2016 (6)
  • Oktober 2016 (6)
  • September 2016 (5)
  • Agustus 2016 (1)
  • Juli 2016 (1)
  • Juni 2016 (6)
  • April 2016 (2)
  • Februari 2016 (1)
  • Januari 2016 (2)
  • Desember 2015 (1)
  • November 2015 (3)
  • Agustus 2015 (1)
  • Juli 2015 (1)
  • Juni 2015 (4)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Februari 2015 (6)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (4)
  • November 2014 (14)
  • Oktober 2014 (2)
  • Agustus 2014 (3)
  • Juni 2014 (12)

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates