Nabiloski De Pellegrini

2 April 2022—Puasa pertama di tahun ini dipenuhi dengan uji nyali yang bertubi.

Sejak sebelum kedatang ke Lombok untuk Pelatihan Kader Paripurna Taruna Melati Utama, aku memutuskan untuk menantang diri dengan ber-ramadan di sini sementara yang lain pulang lebih dulu. Percakapan soal bagaimana menghabiskan Ramadan sebetulnya udah terjadi beberapa bulan dengan seorang teman, “Kayaknya seru kalau Ramadan-nya bisa di lain tempat!”

Dengan hati yang berusaha legawa karena hape terpaksa harus ditidurkan sementara di tukang service di Mataram, aku menenangkan diri dengan; aku pikir ini akan jadi awal Ramadan yang tenang dengan tanpa internet sama sekali. Menjelang tarawih pertama aku juga cukup gila, dengan melakukan pendakian ke Bukit Pergasingan di Sembalun, kembali ke Mataram dengan beragam drama, dan malam tarawih dengan tangisan kebingungan.

Subuh di Islamic Center

Tidur sebelum sahur pertama, aku menginap di sekretariat PW IPM NTB di Jalan Anyelir. Tepat dekat pertigaan menuju Islamic Center Mataram, tidur dengan badan kesakitan pasca mendaki dan persiapan roti dan susu kotak untuk sahur. Aku berbagi dengan Mbak Ahimsa, setelah sahur kami; aku, Yasir, Mas Mumtaz, Imam, dan Mbak Ahimsa memutuskan salat subuh di Islamic Center yang gagah menjulang tinggi dengan arsitektur yang menakjubkan, perpaduan antara Islam dan ikon-ikon khas Nusa Tenggara Barat.

Langitnya cukup bikin menganga. Gradasi biru, oren, ungu, putih, dan sayup-sayup langit pagi dengan angin yang segar serta miskin polusi. Syukur pertama di awal puasa.

Dengan pagi yang gundah karena belum kunjung menemukan service hape dan pikiran melayang kemana-mana karena di sisi lain harus pergi ke Desa Bayan di Lombok Utara, aku lagi-lagi keliling Mataram kota disusul Kak Rama di tempat service kedua, berakhir menunggu di service ketiga sembari menunggu dan rapat via hape Mbak Ahimsa. Di tengah hari, ternyata hapeku harus direlakan sebentar untuk dikorek-korek selama dua hari.

Lagi-lagi aku cukup kebingungan dengan perasaan yang semakin ‘udah rela’ bismillah.

“Nggak papa, kamu tetep bisa ke Bayan dulu, nanti kita cari cara buat WhatsApp,” meskipun dicoba setelah itu dan hasilnya nihil. Me-yaudah-kan ke Bayan tanpa hape dan menerima kalau nggak ada wifi sama sekali di Bayan.

Tarawih di bawah Taburan Bintang Langit Bayan

Selepas berpamitan dan bakal jadi peserta yang pulang paling akhir di tanggal 5 aku memutuskan tetap ke Bayan diantar Bang Haris siang bolong di hari pertama Ramadan. Perasaan was-was dan penasaran sebenernya gimana bentuk Desa Bayan dari dongeng Mas Kendal salah seorang alumni di Antropologi yang turut serta di program UNESCO untuk pendampingan di Desa Bayan. Katanya, desa ini kerap didatangi antropolog, salah satunya van Baal tentang Pesta Alip Bayan. Selain itu, bukunya soal teori kebudayaan jadi bacaan wajib mahasiswa antropologi UGM di tahun pertama.

Kami menyisir Gunung Sari, salah satu susuk dari Gunung Rinjani. Bekas tanah longsor yang bikin merinding serta pelebaran jalan yang bikin para monyet trauma, cerita Bang Haris di motor. Deras dan gerimis hujan tetap kami terjang sampai bertemu di gerbang menuju Desa Bayan yang pemandangannya cukup melegakan hati.

Rinjani, why are you so pretty?

“Ini bakal jadi pemandangan kamu Bil bayangin,” kata Bang Haris.

Sesampainya di Bayan aku turun tepat di depan Masjid Kuno Bayan yang berusia 1400-an tahun dari jaman Majapahit, di depannya ada Artshop dan Sanggar Tenun Fetung tempat Kak Elin—seorang kenalan Mas Kendal. Tanpa babibu Bang Haris langsung pulang dan aku diantar Kak Elin ke homestay milik sepupunya, Mas Efta. Kamar kecil berbentuk rumah panggung tepat di sebelah rumah Mas Efta, dekat dengan Sanggar Tenun Jajaq Bayan milik ibunya.

Mulanya aku cukup takut dan merasa asing, tapi keramahan Mas Efta dan Mbak Sandra instrinya bikin aku nggak merasa takut lagi. Ba’da maghrib aku betulan disuguh Sate Luluh Ikan Laut dan Baduk disertai olahan Komak, makanan khas Bayan. Keramahan ini buat aku merasa semakin berani, malamnya kami bebarengan ke masjid yang masih direnovasi dan dipenuhi bambu, walhasil kami harus bawa tikar.

Langit di tarawih kedua buat aku dan pertama untuk mereka betul-betul penuh syukur. Gemerlap bintangnya nggak pernah bohong, aku salat di pelataran. Beradu dengan bahasa Bayan yang nggak aku mengerti sama sekali, ramai dan renyah! Anak kecil bertebaran dimana-mana! Sepulang tarawih, aku diajak ngobrol Mas Efta dan keluarganya serta seorang Bibinya.

Aku bak didongengi miliaran cerita keterbukaan Bayan, para antropolog yang datang silih berganti dari Belanda dan Swedia, lalu arsitektur dari Jepang, pengunjung-pengunjung dari Prancis, dan mahasiswa KKN yang betah berlama-lama serta mahasiswa yang penelitian di sini. Dari cerita mereka, aku jadi merasakan buah kebaikan dan keramahan dari Mas Kendal selama beliau singgah di sini, tanpa rentetan kebaikan mungkin awal Ramadanku akan cukup menakutkan haha.

Banyak hal dari rekomendasi Mas Efta yang akhirnya aku lakukan di hari kedua puasa!

Terima kasih semuanya, Nabila nggak akan setegar ini melewati segenap roller coaster menjelang Ramadan. Selamat berpuasa! Sampai jumpa di surga, aamiin!

Bayan, 3 April 2022

22.23 (asumsi-selama di Bayan tanpa hape aku nggak bisa menengok jam sama sekali)



Hari-hari di bulan Januari dilalui dengan sedikit melihat layar laptop. Bulan permulaan yang sekaligus jadi permulaan pergantian fase Nabila yang mulanya nggak bisa lepas dari urusan duniawi di dunia pertemuan daring—menjadi Nabila yang berhasil uninstall zoom untuk beberapa pekan.

Menuliskan Januari di Februari yang cukup membingungkan, buat aku sedikit kesulitan mereka ulang kejadian-kejadian seru yang sebetulnya cukup membahagiakan, melegakan, dan menenangkan serta super duper menguras hati. Bertemu dan melakukan perjalanan lagi bersama Fadhi dan Oyi—di Italia empat tahun lalu kami sempat plesir di liburan paskah semasa pertukaran pelajar. Kali ini, nggak ada Izza tapi ada Shintya dan Jason yang turut jadi satu tim perjalanan. Sayang seribu saying beberapa teman kami membatalkan ikut.

Menyapa Kamal di Tegal

Motifnya sederhana, kami sepakat berjumpa di Tegal dan kembali ke Jakarta bersama. Kami pingin ziarah ke makam almarhum teman kami, Kamal Syueb—sekaligus silaturahmi ke keluarga Kamal. Aku yang mudah terenyuh begini jelas nggak kuat menahan air mata sewaktu liat Abi Kamal dari jendela mobil sesampai di depan rumah Kamal yang nggak jauh dari pusat Kota Tegal. Terlebih lagi, sewaktu Mama Kamal keluar menyapa kami dengan linangan air mata yang bikin suasana bertambah haru biru.

“Maafin Kamal ya,” sambil berusaha sekuat tenaga menyapa kami.

Kunjungan ke rumah Kamal ini cukup ironis, kami bisa ketawa menceritakan kisah-kisah lucu almarhum Kamal, tapi sesekali aku melihat Oyi yang matanya berlinang selepas dia ketawa. Sore hari ditemani mendungnya Tegal kami ke makam Kamal. Spontan kami nggak bisa menahan air mata dan hening seketika. Rasanya ini aneh, pertemanan di AFS yang terbiasa LDR begini bikin kami sulit menyadari dan meyakini bahwa Kamal bener-bener udah pergi secara mengagetkan akibat kecelakan di Tol Cipali Juni 2020 lalu. Kita kangen Mal.

Abi Kamal menceritakan siapa saja yang berjajar di sana, masih keluarga besar Kamal. Kamal ini keturunan Arab jadi masih tinggal di Kampung Arab. Sepulang dari makam Kamal, kami pulang ke rumah Kamal dan harus menunggu hujan reda. Kami disuguh brownies, tahu goreng, buavita, dan disambut hangat dengan teh poci tegal yang diseduhkan langsung sama Abi Kamal. Sementara kami ngobrol dan tertawa lepas sama empat sepupu Kamal dan adik bungsu Kamal Ading yang baru kelas satu SD dan lucu sekali.

      

Beberapa kali Kamal menceritakan soal Ading, meskipun aku nggak begitu dekat dengan Kamal—tapi Kamal ini menyisakan kesan-kesan yang baik karena Kamal adalah sosok pribadi yang ramah dan lucu.

Malamnya kami pamit pulang dan istirahat sebentar di homestay. Kata Fadhi, “Yok besok jalan-jalan biar kita nggak sedih doang,” walhasil malam itu kami googling penginapan murah di Cirebon. Menyempatkan keluar makan Sate Ayam Tegal di dekat alun-alun. Nggak lupa sepulang dari makan, kami menghabiskan malam buat berbagi cerita kesana-kemari, main kartu remi yang agak bikin ngakak berkali-kali.

Soto Taucho dan Kuningan

Paginya, kami bergegas pamitan ke rumah Kamal. Abi Kamal menceritakan kisah hidup Kamal di mata teman, guru, dan keluarga semasa almarhum masih hidup. Betapa lucunya Kamal yang punya mimpi transplantasi rambut di Turki serta segenap keambisan Kamal dibumbui sosok tangguh nan mandiri sejak Kamal SD sampai les persiapan kuliah yang mengharuskan Kamal mondar-mandir Tegal-Semarang seminggu sekali. Kami juga bersyukur menceritakan liburan terakhir Kamal ke Mesir sebelum meninggal, alhamdulillah ya Mal.

Sebelum beranjak ke Cirebon, keluarga Kamal mempersiapkan oleh-oleh teh poci dan gula batu serta brownies dan tahu aci khas Tegal. Wah, keluargamu sungguh baik dan hangat, Mal!

Beruntungnya aku punya teman perjalanan yang suka kulineran. Kami menyempatkan makan soto taucho di depan Klenteng Tegal. Soto yang khas dan nggak pernah kami temui dimanapun. Rasa tauchonya nancap dan segar di tengah siang bolong yang cukup terik. Meskipun nggak dipungkiri kalau 25K untuk harga semangkuk soto cukup melambung di kantong.  

         

Akibat beberapa urusan dunia perdaringan, sesampainya di Tegal kami memutuskan istirahat di AirBnB yang udah kami pesan. Malamnya menyempatkan makan Nasi Jinggo yang juga cukup melambung di kantong, tapi rasa lauknya yang dibaluri aroma rempah yang pas bikin kami nggak cukup menyesal. Paginya, jam setengah 5 di saat Cirebon masih gelap kami tancap gas ke Kuningan. Niatnya mau lihat sunrise di Sukageuri View Rasanya eksklusif karena betulan cuma kami tanpa ada orang lain.

                                


Buat aku sendiri, aku cukup bersyukur diberi kesempatan liat Gunung Ciremai dan segenap lautan awan serta deretan pegunungan yang punya nuansa beda dari pegunungan lainnya. Kami berlanjut ke Curug Putri yang satu kilometer dari area view sunrise. Lagi-lagi cuma kami dan airnya bener-bener jernih! Nggak lama setelah itu kami beranjak pulang ke Jakarta dan mampir dulu di Jatiwaringin rumah Shintya. Mama dan Papa Shintya bikin kami betah dan disuguhi Kopi Susu Pandan, Shintya’s parents is the role model whom I wanna be in the future!

Persoalan kopi susu pandan dan teh poci ini kata Jason sama Fadhi akibat respon Nabila yang kepedean dan kurang sopan hahaha. Pasalnya, ya kalau ada kebaikan dari orangtua teman ya kali ditolak? Berujung dengan aku harus balik ke Pamulang dan diburu waktu presentasi serta Fadhi yang jadi kebirit-birit agak ngebut di Tol Bekasi menuju Gandaria ditemenin Oyi yang juga jadi ikut riweh. Hari itu diakhiri dengan sesi presentasi sore Tandem-seminar yang cukup membagongkan.

Cerita Januari belum selesai!

Temanggung, 15 Februari 2022

 

This is to that little dreamer from that little town of Temanggung, Central Java, who literally, literally started from nothing. It’s been 22 years of constant growth, adjustment and many lessons learned. My biggest blessings this past year were finding amazing people around me, nothing else is more valuable. But there were also some unexpected milestones in this year. 

In 2021, starting the year with no expectation leads me to flow like water. At the same time, I was constantly running, working really hard, and feeling so lucky to see everything in balance. It’s not only sunshine and butterflies. I personally faced numerous amounts of thunderstorms and hurricanes.


I can say that 2021 is a hell of an emotional roller coaster. 


So many things happened this year. I feel reconnected with my past and it helps me to re-thinking about my own space in this world. I learned that I could be in a world that often feels unlivable, that it is possible to usher in little parts of the future, of liberation, into the despair of presence of domination. It’s a long journey, 2021 feels so long way to pass. The day-to-day reality of stressness, the presence of life-threatening diseases that cause unexpected deaths of relatives and loved ones, there is much that brings everyone to the brink of despair. 


So many things I’ve never done before, while running to strive for what I choose this year I learn about life phases, remembering the hardness that I’ve been facing the years before. I learn how to stay sane while leading myself and others. 


If 2021 is a book, the topics that’s been on my mind lately are love, friendship, and journey. This year I allowed myself to fly and go somewhere where no one could stop me. Those phases were incredibly surprised me on how I manage everything in one hand; leading KEMANT, volunteering in Bina Antarbudaya Chapter Jogja, academic life, Kristen Gray research in PKM, first time joining two international conferences on refugee and gender topic, coming back twice to Bali, first time visiting Lombok and Sumbawa, first time joining AFS Global Training, first time working with the lectures, and first time leading a national media team. It was a hell of a roller coaster ride. 


Everything that happens in 2021 is like challenging me to put everything I've learned over the years into practice, especially how to lead in this pandemic era. 


In 2021, I physically move places after one and a half years only moving between Jogja and Temanggung. When everyday is about learning, leading in 2021 gives me more autonomy over who gets to be in my circle or whether I care less about shit that doesn’t matter. I give it all and do the extra miles for everything while sometimes I have fallen into bed for a couple days. That's the phase that I learned so much, knowing how to navigate myself; where and when do I have to walk, stop, and run. 


During my quarantine with my nuclear family in the middle of this year I found the magic book that was written by A. Helwa “The Secrets of Divine Love”. It moved me physically and spiritually. I resonate with the book entirely. It also led me to questioning the presence of love. It’s not only in a romantic way but also how to live with the presence of love when everything seems so cruel. Questions about love were blasphemous to my parents and everyone who has ever loved me, but actually this awakening and reclaiming has been so necessary in navigating so much of my emotions that I can’t control my overall journey. Knowing love or the hope of knowing love is the anchor that keeps us from falling into that sea of despair. Everytime I sniff the pages of the book it brings me back to the good old days in Italy, where everything was put into a loving place and space.


But then I came to the point where I reflected upon my romantic life where some people in 2021 questioned me, “Do you even have a love life?” “Your life is super duper fun, but the only sad part is about love life right?” “Everything is complete for you this year, but I guess you’re not falling in love this year.”


Omg. It depressed me sometimes. Am I deserve to be loved? This question sucked me for months.


I used to think that because I hadn’t experienced a romantic relationship, I was missing out on a crucial experience of love. I thought I hadn’t had my heart broken and then realized I did, just not romantically and it *really* stung! It was humiliating when I really think about it. But then a friend of mine reminded me that I shouldn’t think about it seriously, none of them deserve me. It is just not the right time. I’ve moved on now and I feel better in terms of keeping myself socially charged and sufficiently connected now. 


Okay, let’s move on.


I also reflected upon my friendships when someone questioned me during our ride back home in Pamulang, he suddenly asked, “How do you maintain your plural social life?” I shocked but then I remember quotes from someone’s story whom I feel the same way with her, she said; 


As I become older, I get more familiarized with the “the more we get old, the fewer friends we get” narrative. It’s definitely a sorrowful truth, especially with the pandemic, it’s harder to set a date even for virtual meetings.


Time is blurry and our eyes are getting dry from seeing the screens non-stop. It’s difficult to see eye to eye in these circumstances. So we get detached slowly, forget to check-in, and start to remember birthdays from social media updates instead of by heart. This does make me sad, but for me, it’s a truth to make peace with.


This year, I am good with small circles or with one-on-one friendship dates. There was a period when I felt so terrible with big groups. It drained me so much. But at the end of the day it created clearer boundaries with less petty dramas. Friendships are hard to manage as an adult when in reality it’s a struggle for a lot of us. It’s shitty to come forward and acknowledge a problem.


All those reflections led me being extremely blessed to enter the most adventurous year in life. On a side note, it’s the truth that I've been feeling lost and overwhelmed lately. At the end of the day I’m glad I wrote this reflection as I had forgotten half of all I did this year, as the struggles were much more than the achievements, visited a few cities, met amazing human beings that became like family, parted away from others, grew a lot, saw my family rarely this year and I can’t wait to hug them again soon.


Life is a balance and even as I decide to focus on the positive, it is not to forget that not all is about successes, failures were many too and toughened me up. Unbreakable and stronger than I have ever been.


Everything changed dramatically. So, to stay sane and let myself believe that I am on the right way, the words that help me and I remember the most these past two years are; you grow as you go little girl.


That little girl keeps dreaming. Thank you to all the people I met this year, for my parents who have given me the world, for those whom I call midnight for only listening to me crying. Cheers to my team in 2021. Much love!


Temanggung, December 31, 2021


Segala kepadatan di akhir Oktober bikin aku mendambakan banyak hal, salah satunya pistacchio yang udah diramu jadi salah satu cita rasa gelato. Maka, pelan-pelan aku berdoa supaya bisa makan gelato italia sembari meraba-raba ingatan ice cream legend di Jakarta yang aku lupa banget namanya.

Ternyata si nadila, kak rizka, mbak laila, dan kak kholida ke ice cream itu! Ohya RAGUSA ICE CREAM GAMBIR! Sejak di Bandung aku menerka, kira-kira bakal kesana sama siapa, akhirnya dengan lapang dada Kak Rama juga kepingin ke sana, kami menyepakati hari Minggu buat kulineran di Jakpus.

Dengan kondisi yang sebenernya capek banget sepulang dari Bandung dan babak belur karena beberapa hal yang cukup menyesakkan dada, pilihan di hari Minggu aku jadikan "escape mechanism" disertai nge-arsip semua pesan WA kecuali yang lagi berurusan sama aku di hari Minggu. Aku yang biasanya semangat jalan kaki, request untuk, "Kalau motoran aja gimana kak?" dijawab Kak Rama dengan penuh keheranan,

"Tumben.. oke motoran juga okesih. Sepi jalanan. Banyak jalan kaki po kemarin??"

__ 

Walaupun aku nggak bisa tidur dan mata sembab aku tetep semangat bangun pagi.

Setelah riweh se-rumah di Pamulang ngebantuin sepupuku Naiya yang lagi ujian online masuk MBS, jam 11an kami otw. Suasana musim hujan ini bikin aku bersyukur karena tentunya nggak bikin gerah, walaupun di beberapa titik macet, sesampainya di jalanan Jakarta cukup sepi dan bikin ngobrol di motor nggak bising.

Aku cukup impresif, ini Kak Rama hafal banget jalanan Jakarta. Apesnya, kurang 3 km lagi sampai hujan tiba-tiba deras setengah jam-an dan kami berteduh di halte dekat Menteng dengan kondisi perut yang udah meronta-ronta. Sampai di Ragusa, aku dan Kak Rama pasang ekspektasi yang cukup tinggi, aku yang berharap ketemu nona blasteran Italia dan ngobrol pakai bahasa italia, ternyata toko legend ice cream semenjak 1930-an ini cukup konyol. Antriannya sungguh panjang.

"Lucu juga ya, ice cream Italia, tokonya di Jakarta, tapi yang jual orang Cina," kata Kak Rama di sela lampu remang yang kedap-kedip. Aku cukup ngekek ya, tapi menikmati ice crean special mix dan Kak Rama beli banana split.

Selain itu, sambil makan dan ngetawain ekspektasi, kata dia lagi, "Nggak kebayang juga sih ada orang benerin lampu," aduh he sees it so detail😅

Seselesainya makan ice cream kami ke Istiqlal, menurutku ada suatu  masa tertentu di hidup aku yang lagi kepingin banget solat di masjid. Jakarta yang mendung mendukung sekali buat menikmati semilirnya Istiqlal yang lagi sepi, angin yang masuk perlahan dari serambi di sisi kiri bikin aku cukup tenang. Hari itu aku tutup gawai, janjian lagi selepas salat sama Kak Rama juga tanpa saling kirim pesan wasap.

Naasnya, hujan deres banget jadi gagal jalan ke Katedral sebrang Istiqlal. Kami cuma nunggu hujan reda sejam-an sambil ngobrolin hal random tapi salah satu pertanyaan yg cukup aku pikirin dari Kak Rama adalah, "Terus sekarang kira-kira orang kenalnya kamu sebagai apa Din?" Duh aku nggak ngerti banget wgwgw tapi ternyata aplikasi getcontact bisa nge-track kita dikenal sebagai siapa.

Hujan reda menjelang jam 16-an. Kami bertolak ke Pasar Baru yang ngelewatin Santa Ursula, cuma buat makan Bakmi Gang Kelinci atas rekomendasi Tatyana yang betulan di gang kecil di antara gedung-gedung toko Pasar Baru yang cukup menjulang tinggi.

Tenang, lengang, dan dingin karena udara begini sama sekali di luar ekspektasi alias Jakarta yang dekat dengan kata sesak dan panas sama sekali nggak aku rasakan di hari itu. Warung bakminya cukup luas nan ramai, aku super duper yakin kalau ini pasti enak tanpa memasang ekspektasi setinggi makan ice cream Ragusa.

"Karena kesini mau makan bakmi, jadi kita pesen bakmi aja," kata Kak Rama habis liat aku cukup bingung ngeliat ternyata menunya beragam. Oke bakmi spesial aja. Cepat dan tangkas serta bayar langsung di meja makan kita dengan si abangnya yang nyamperin.

Bakminya sungguhan enak banget. Aku lahap. Dengan harga 28K di area Jakarta Pusat ini bakminya worth it, porsinya juga banyak dan sesuai dengan perut kita yang lapar. Kami nggak bisa berhenti memuji bakmi yang seenak ini, "Asli seriusan ini enak sih kak, mirip sama mie & mie Jakarta-nya Kansas FIB. Kalau ke Jogja besok harus coba juga!"

Sambil ludes cepet ngelahapnya Kak Rama bilang, "Sumpah ini enak dan harus dicoba lagi sih. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan," ngakak sekali wahai Tuhan.

Makan bakmi dan lagi-lagi ngobrol sejam-an bikin aku mensyukuri hari Minggu dengan perasaan bahagia, escape mechanism-nya sukses. Walaupun pulang juga dihantam hujan gerimis yang awet dan (lagi-lagi) berteduh di suatu halte diiringi puteran lagu keroncong dari speaker halte busway tabrakan sama azan maghrib bikin langit senja Jakarta kala itu epik.

Sebagai orang yang sama-sama suka makan, aku ingin bilang terima kasih Kak Rama. A well spent sunday👍

Pamulang-Jakarta, 9-11 November 2021 








 

  

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Cari Blog Ini

POPULAR POSTS

  • Di Kereta Pasundan
  • Unfinished Dress
  • Mendekati Kepulangan
  • Singgah di Singkawang

Categories

AFS Italy 2017-2018 Self Talk Hijrah Malaysia Ramadhan di Italia
Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • Januari 2026 (1)
  • November 2025 (2)
  • April 2025 (1)
  • Desember 2024 (1)
  • Juni 2024 (5)
  • Januari 2024 (1)
  • Desember 2023 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (3)
  • Februari 2023 (1)
  • Januari 2023 (1)
  • Desember 2022 (1)
  • November 2022 (1)
  • September 2022 (1)
  • Agustus 2022 (3)
  • Mei 2022 (3)
  • April 2022 (10)
  • Februari 2022 (1)
  • Desember 2021 (2)
  • November 2021 (1)
  • Oktober 2021 (2)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (2)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (2)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (2)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (11)
  • September 2020 (1)
  • Agustus 2020 (2)
  • Juli 2020 (2)
  • Juni 2020 (1)
  • Mei 2020 (19)
  • April 2020 (7)
  • Maret 2020 (2)
  • Januari 2020 (1)
  • Oktober 2019 (1)
  • September 2019 (1)
  • Agustus 2019 (1)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (1)
  • November 2018 (1)
  • Agustus 2018 (1)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (4)
  • Februari 2018 (5)
  • Januari 2018 (7)
  • Desember 2017 (9)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (6)
  • September 2017 (7)
  • Agustus 2017 (2)
  • Juni 2017 (12)
  • Mei 2017 (11)
  • April 2017 (6)
  • Maret 2017 (3)
  • Februari 2017 (4)
  • Januari 2017 (2)
  • Desember 2016 (5)
  • November 2016 (6)
  • Oktober 2016 (6)
  • September 2016 (5)
  • Agustus 2016 (1)
  • Juli 2016 (1)
  • Juni 2016 (6)
  • April 2016 (2)
  • Februari 2016 (1)
  • Januari 2016 (2)
  • Desember 2015 (1)
  • November 2015 (3)
  • Agustus 2015 (1)
  • Juli 2015 (1)
  • Juni 2015 (4)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Februari 2015 (6)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (4)
  • November 2014 (14)
  • Oktober 2014 (2)
  • Agustus 2014 (3)
  • Juni 2014 (12)

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates