Nabiloski De Pellegrini
Dear semesta yang aku sayangi,

Ada banyak hal yang sudah terlewati. Ratusan kali bumi berotasi, sampai-sampai aku tidak sadar sendiri sudah sampai disini. Sampai-sampai aku tidak menyadari ada banyak hari terlewati tanpa menyisakan jemari.

Daaan plis Nabila come on, kemana aja kamu selama ini ?

Seperti roda berputar yang mungkin luput aku sadari, aku lebih banyak mengutuk takdir dan menangis sendiri. Lagi-lagi kenapa harus begini. Lalu suatu ruang romantis selepas kedua salam kusalami kepada Malaikat Raqib Atid pada suatu petang, aku menangis tersedu

Ada banyak orang yang super duper aku rindukan. Yang dekat terasa jauh, yang jauh terasa sangat melekat di nadi, tapi nyatanya ya tetap aja jauh.

Intinya sudah ribuan kali aku sesak sendiri, mengeluh sendiri- mungkin kalian juga gemas karena 8 bulan tetap belum bisa bikin Nabila totally move on. Move on dari Italy.

Boleh dibilang menangisku masih dalam batas wajar, belum sesesak ketika malam terakhir di rumah nun jauh disana. Iya, aku takut sekali bertemu semesta lain di khatulistiwa.

Sampai-sampai Mamma bilang, "Nabila kamu kenapa takut? Kamu berhasil bikin super good relations sama setiap orang disini. Inget kan, dulu kamu dateng tanpa bahasa sama sekali, kamu ngga kenal siapa pun."

"Inget, semua nunggu kamu di sana. Kamu udah bisa bahasamu, kamu dah kenal orang-orang disana. Kamu pasti bisa punya relations yang lebih baikk lagi."

Kiranya begitu, tafsiran singkat dari bahasa Italia.

Masih sambil menangis sesak, sesak, dan hanya sesak.

Aku buka lagi catatan-catatan lama. Surat dari Mamma. Katanya, aku masih dengan wajah yang sama, penuh rasa lelah seperti kali pertama aku sampai di Italia. È così la vita Nabila, dobbiamo vivere ogni giorno.

Terimakasih Mamma :)

Catatan kecil, akibat rindu akut Mamma yang setiap waktu berusaha memastikan aku baik-baik saja. Mamma yang rela bangun kapan pun di tengah malam, waktu tubuh sedang tidak bisa berkompromi.

Selamat siang semuaaa,
Terimakasih yang sudaa mau baca curhat mewek ala-ala ini~


di Jogja yang penuh teka teki,

Nabiladinta

“My soul honors your soul. I honor the place in you when the entire universe resides. I honor the light, love, truth, beauty, and peace within you. Because it is also within me. In sharing these things we are united, we are the same, we are one. LEGAMI – We are dreamers.”

Hey, how’s life going on ?

New year eve in my life; nothing special thing happen except one year ago. It just different because I was on my exchange year in Italy so yeah I was so curious how’s new year eve there, in Italian they call il capodanno. So, I will say Buon Nuovo Anno that means Happy New Year!

It’s true if, in every part in the earth where we live in, each people has their own life. As a human being, we try to make a remarkable path right, and we’ll divide it in years. What’s your resolution and hopes in the year ahead? 

January 1st, 2018 to January 1st, 2019 

I lived in a bunch of emotions. I passed a roller coaster, there’s no stopping until the end of the day where I have to release my breath in the earth then change into a different kind of after life. I met new people, they all have a place in my heart. I learned so many life lessons. How’s exchange changed me in life. I learned how to look deep beneath my self. In life, it is how we’re grateful and makes every second of our breath meaningful with people surrounding us. 

I can say, in each month I have a particular story to tell me my self (so I can reflect) or well to you too. One thing that I am still afraid of simple thing maybe on your eyes but not to me, or might be you’ll agree with me;

I’m still, I couldn’t open my exchange year diary, I miss about last month to write in it. It is how all emotions every single day in Italy I wrote in. But no, I am still afraid, damn! Well in the other side of Italy, here in Indonesia, couple days ago I decided to start to welcome one book as my diary. A pink book with particular indian icon was given to me by Alice Tormen. My Italian plus indian girl ahahaha. Written in the cover of the book, 

“My soul honors your soul. I honor the place in you when the entire universe resides. I honor the light, love, truth, beauty, and peace within you. Because it is also within me. In sharing these things we are united, we are the same, we are one. LEGAMI – We are dreamers.”

Ahh, Alice, you’re more than just sweet amore. I do really miss you. The words are super duper marvelous right? It is like the voice of her heart. I do believe she wanted me to know that we’re still near and will always be her best friend even millions of kilometers desperate us physically. Ti voglio bene Alice.

By this short story, I am telling you a piece of my life that full of beautiful emotions and peace. Life is not always easy breezy as what Instagram feed says, those all emotions in past years and everything ahead, being thankful is the key to everything. There will always a bright side. May life lead your way to a better future!

Buon Nuovo Anno a tutti!


Khansa dormitory,
January 1st, 2019

Ulima Nabila Adinta



“It is better to walk around and defend yourself with your prepared equipment as long as you're with Allah.. Rather than you walk with many of your friends but they're actually really keen to hurt you upon your journey bcs they see what you don't see in which those what they saw first is the thing that will benefit you.” -Savinaaw-

Bercerita Masa Lalu

Beberapa waktu sejak tulisan terakhir saya tiga bulan lebih lalu, saya bungkam. Tangan, hati dan pikiran saya serasa kikuk. Atas terkaan saya, mungkin ini karena empat bulan ini dan seterusnya akan berjalan ke depan saya masih merasa butuh menyetel kembali frekuensi hidup saya di negeri saya sendiri. Tentunya, lima bulan lebih lagi ‘setelan’ ini akan melaju lagi masuk ke tempat yang berbeda, dunia perkuliahan yang di semogakan.

Dunia itu yang sekarang sedang saya khawatirkan dan saya usahakan menyusun dengan baik mimpi-mimpi saya. Tapi tak apalah, saya sedang ingin membicarakan masa sekarang bukan kekhawatiran dunia yang belum sampai itu.

Lalu bagaimana berjalannya penyetelan saya sejauh ini ?

Mungkin kalau saya memilih mengeluh karena kerinduan saya tentang Italia ke setiap orang yang saya temui, mereka akan bosan mendengarnya. Tapi toh tanpa saya bercerita, kawan-kawan terdekat saya yang melihat bagaimana kerinduan yang semacam ini kerap kali membuat saya benar-benar cemas dan menangis tersedu. Saya pikir, daripada menangisnya saya ini alih-alih hanya akan membuat sia-sia lebih baik saya haturkan kepada Yang Maha Memberi Hidup di setiap sujud saya.

Penyetelan ini sungguh bukan perkara mudah, ruang tempat hembusan nafas saya sepersekian detik setiap waktunya banyak saya habiskan di Kota Jogja.

Bercerita tentang Jogja juga tersambung tentang bagaimana saya kembali belajar mencintai Jogja di setiap sudutnya. Eh, Jogja sudah lama saya cintai tapi kalo yang ini semacam ingin mendetail lagi menikmati setiap sudutnya, hehe. Saya tergerak lagi menulis karena kawan saya, Hidanul Achwan yang sejak setahun lebih lalu berhijrah ke Mesir untuk belajar.

“Kangen tulisanmu. Tulisanmu macet lama puol. Terlalu banyak yang bisa dibacakan dan diceritakan sebetulnya, take and give. I hope kita bisa bertukar cerita dan pikiran di media dan tempat yang efekttiifff, Aku butuh cerita dan perjalanan-perjalanan orang lain. Makanya aku berharap bisa baca tulisanmu. See you on top bils!” katanya penuh harap lewat pesan WhatsApp yang dihubungkan satelit di langit melintasi jarak dan waktu, Jogja dan Kairo.

Saya menyadari, menggerakkan tangan buat menulis bukan hanya perkara mood dan tidak mood, tapi harus ada impuls-impuls lain yang saya harapkan mampu memicu saya buat mensinkronkan perkara-perkara yang sulit diceritakan lewat suara. Setelah banyak perjalanan dan perpindahan tempat yang beberapa kali saya lalui, muncul kegelisahan tersendiri. Ada hal-hal yang tidak selesai kalau cuma saya pikirkan.

Sebagai akibat entah dari kesulitan saya menyetel frekuensi hidup saya di Jogja, banyak kali saya mencari cela supaya bisa keluar dan menghirup nafas di lain kota. Sampai-sampai ada kawan baru yang dulu berlabel ‘adek kelas’ haha, berfikir agak ngaco yang diceritakan ke kawan lain, “Mbak Nabila ngga betah po di angkatan kita, kok sering-sering pergi.”

Atau celotehan lainnya begini, “Perasaan dulu Mbak Nabila taat dan ngga pernah ngelanggar, kok sekarang sering banget ngelanggar.”

Saya tersenyum simpul, padahal dalam hati saya tertawa keras, hahaha. Bukan, bukan, bukan soal kalian tidak mengenakan kawan :), tapi sering pergi-pergi memang tabiat saya sejak dulu. Kalian sangat menyenangkan dan baik hati, masih mau menerima saya di angkatan kalian dan mungkin berusaha sekuat tenaga menjadikan saya seorang ‘teman’, bukan lagi ‘kakak kelas’. Meskipun masih terasanya saya tetap kakak kelas kalian. Tapi kalau siapa pun dari kalian mungkin baca tulisan ini, saya santai kok malah seneng banget kalo pakenya ‘aku’ bukan ‘saya’ kalau lagi sama Ulima Nabila Adinta.

Nah, that’s why…

Penyetelan frekuensi saya yang sekarang ini ber-title ‘down grade’ ke orang-orang sekitar saya. Setelah berhasil melewati 10 bulan di Italia yang berusaha menghadirkan ‘eksistensi’ di tengah segerombolan manusia asing yang bahasanya pun harus saya pelajari dari nol. Ketika itu saya seperti diminta oleh alam untuk menunjukkan grade saya yang seorang perempuan dari negara berkembang juga berkemajuan di tengah kehidupan negara maju, Italia.

Saat kembali, down grade yang saya ceritakan tadi menantang saya untuk menghadirkan diri saya yang ‘biasa-biasa aja kok saya mah’ di tengah orang-orang yang selalu sibuk berfikir kalau saya itu ‘tinggi’, “Wah dia kan habis pulang dari Italia, udah dulu ke Amerika terus ke Italia,” dan kalimat pujian lainnya yang justru itu ujian dari langit buat saya. Yang justru serasa jadi tabir di antara saya dan mereka, nah itu titik poinnya.

Saya harus tetap optimis dan bertingkah sesederhana mungkin untuk menembus tabir-tabir atas spekulasi dan ekspektasi orang-orang terhadap diri saya atas apa yang saya lakukan. Tentunya itu terjadi secara tidak langsung bukan ?

Ada orang-orang yang selalu menjadi pusat bertanya saya dari beberapa tahun lalu, salah satunya Ustadzah Nur Hasanah. Dulunya beliau musyrifah saya dua tahun di asrama dari kelas 7-8 tsanawiyah. Berganti, sekarang beliau jadi pamong asrama adek saya. Saya mampir ke asrama Ustadzah Nur.

Singkat cerita, beliau menyampaikan kekhawatirannya atas diri saya. Takut kalau saya jadi liberal haha, takut karena kelihatannya saya berubah drastis dari dulu yang ustadzah kenal. Saya mah ketawa aja ya, lalu saya menceritakan pergolakan batin atas perjalanan-perjalanan saya selama ini. Hasil obrolan itu, ustadzah berniat ngajak saya nongkrong suatu saat, hehe. Tapi belum kelakon.

“Bagi ustadzah ke luar negeri itu ya peluang aja, yang penting itu akhlaknya. Kalo akhlaknya menurun ya dia ngga ada hasil apa-apa dong,” ujar ustadzah santai ke saya sambal bercanda, haha.

Pulang dan kembali itu ternyata bukan sesuatu yang hanya ‘sederhana’, ada nilai-nilai yang kita bawa dan temukan. Sebenernya, yak arena berbeda tempat aja. Tetapi kalau dalam jangka waktu yang lama, bisa jadi beberapa hal terlihat kacau haha.

Kalau yang saya rasakan sekarang, sebagian besar dari saya dari awal serasa sudah menolak kembali ke kehidupan asrama. Tapi itu sebuah keharusan, sayangnya. Sebenernya juga, saya pikir saya masih tergolong ‘biasa saja’, tapi karena mungkin watak kawan-kawan baru saya berbeda cara penolakannya. Saya bisa dibilang, suka banget mencuri-curi keluar asrama sampe malam. Asli, cuma pingin maen aja kok.

Sedikit dari diri saya juga menolak untuk berontak kok, tapi itu sedikit aja. Dua kali saya diloloskan Wakil Direktur III untuk ke luar kota, ikut kerja tim yang baru saja saya ikuti sejak September awal. Pertama kali, saya ke Sidoarjo. Motif lainnya sih juga biar bisa ketemu kawan akrab saya, Savina Returnee AFS Jepang yang belum ketemu face to face. Kalau saya nggak ‘ngeyel’ mungkin saya pasrah karena ngga dibolehin. Tapi walhasil bisa juga kan. Dalih yang bunyinya begini, “Sudah kelas 12 Nabila udah dicukupin melalang buananya,” sudah sejak lama saya tolak di alam bawah sadar saya.

Apa salahnya coba ? Asal tetep bertanggung jawab ?

Kali kedua, saya berhasil menembus izin buat ke Jakarta ikut acara ASEAN- IPR Youth Conference di Sheraton Grand Hotel di kawasan elit Gandaria City. Lagi-lagi saya butuh ‘eyel-eyelan’ dulu buat meloloskan diri saya, gold chance ini berhasil bikin saya bisa ketemu AFS friends lainnya di Jakarta; Fadhi, Maysa, Gandhi, Farah, Shella, dan Shintya. Beuh, it was one of the best day after exchange. Berbagi cerita dan bercandaan tantangan-tantangan as exchange students. Hadiah kecilnya, dapet foto gratis dari photo booth yang disediain waktu exhibition. Intinya sih, selain dapet relasi baru saya diuntungkan karena pas apesnya lagi kantong kering, Yang di Atas kasih kasa pintu rejeki ngga terduga.

Setelah kawan-kawan baca sekilas cerita saya, entah mungkin kalian berpresepsi lain tentang diri saya sebelum dan sesudah ke Italia. Tapi memang itu lahir dari banyak pergolakan batin yang saya lewatin. Pertemanan saya berjalan sangat dinamis, banyak juga yang mungkin di luar ekspektasi saya. Terkadang saya jadi lebih suka go alone karena bisa nikmatin me-time, tapi kadang saya juga mikir, “sometime I'm thinking, "gapapa apa ngga sih kalo sering sendiri begini kalo jalan (?) Apa aku kudu reach some people that will take a lots of my time (?)”

Tiba-tiba kata-kata Savina jadi bikin saya merasa “ngga papa” setelah dia kirim super words melalui WhatsApp,

 “It is better to walk around and defend yourself with your prepared equipment as long as you're with Allah.. Rather than you walk with many of your friends but they're actually really keen to hurt you upon your journey bcs they see what you don't see in which those what they saw first is the thing that will benefit you.”

Awww thank you Savina, it’s make me realize. Lastly, I’d like to say thank you to Mirza and Thariq, yang baik hati dan tidak sombong mau nemenin Nabila bikin quality times,  yang jelas kami bertiga sejak dulu hamper satu frekuensi :)

 It was life changing, so life has changed me. Tapi ada satu pertanyaan yang selalu bikin resah di diri saya, kadang juga saya tanyakan ke orang lain,

If you were me, what will you do ?


Salam Ciao !
Temanggung-Yogyakarta, 9 – 14 November 2018

Ulima Nabila Adinta






You build a life for 18 years and leave it for 10 months. You build a life for 10 months and leave it forever. Which one is harder (?)

Tepat satu bulan lalu lintasan jarak dan waktu yang menembus langit Eropa kembali ke Asia memberhentikan putaran kehidupan yang aku jalani di Italia. Satu tahun, bukan waktu singkat yang bisa dihitung seperti perjalanan biasa seorang manusia. Kalau ditarik mundur lagi ke belakang, ternyata the hardest years and full of challenges sekejap terlewati. Putaran roller-coaster dari menjadi perempuan pemimpi - kandidat AFS - officially an AFSer - and now FRESH RETURNEE AFS. It was like, wow finally I did - cheers people ! And it is now where I am, in Indonesia. I’m back yeah !

Ternyata eh ternyata once AFSer, always an AFSer. It’s true, this is not the end.

One month passed - it stucks really.

Menunggu-nunggu waktu yang tepat untuk berbagi, setelah sekian lama dari sejak hari-hari sebelum pulang di Italia sampai di Indonesia olahraga hati yang kudu terus dipompa tanpa henti. “Olahraga hati menahan rindu berkali-kali dengan banyak orang baru yang masuk ke dalam kehidupan dan sangat berbekas di jiwa,” Maura Sekar bilang gitu lewat cuitan tweet-nya. It might be so hard to pass these hard years, again and again kerasa exchange-nya bukan cuma setahun di Italia. Back, my school friends has already gone, left me alone. Teringat selalu, pertama kali sampai di ‘rumah’ Italia I was alone, it’s almost same.

Olahraga hati semacam apa ini. But really tho, exchange year makes me realize that nothing’s gonna be the same forever. It feels like, I will do one year of exchange again after back to Indonesia. Reverse Culture Shock is real to say.

Behind everything that happens or you guys see on my instagram. There are always concern that comes most of the times. Remember how lonely it was in Italy. Well, when I back to Indonesia it is lonely too, but a different kind of lonely. I realize that the relationship I had with people in Indonesia were basically stagnant for a year.

I couldn’t speak much. 

Menceritakan tentang exchange year serasa stuck di lidah. Kalau pun ingin, terasa berat untuk diungkapkan karena pendengar-pendengar terbaikku sebelum exchange were totally changed. Aku harus mencari lagi. It’s hard to feel strange in a country where I was born. Aku ngga membayangkan kalau reverse culture shock ini ternyata nyata adanya. My life has changed so big in one year. 

Aku pernah di titik merasa ‘tidak bebas’ di negaraku sendiri, seberapa takut dan khawatirnya aku kembali ke kehidupan asrama. Empat tahun SMA dan punya banyak angkatan; angkatan sebelum pergi di SMA Genetrix 92, angkatan AFS Indonesia Gelora Garuda Muda, angkatan di Italia, dan angkatan setelah pulang Belixiont 93. How many people on my high school’s life dude ?

Sampai sekarang aku masih belum berani membuka galery fotoku di Italia, seberani-beraninya aku hanya membuka scrapbook yang isinya kumpulan daun-daun yang aku kumpulkan dari musim gugur sampai musim semi tanpa ada banyak foto di dalamnya atau surat dari Mamma Papà. Surat adalah yang paling kuat bikin aku nangis. How hard it is, I left Italy forever. I back, it wouldn’t be the same anymore.

——

Kekhawatiran kami para AFSers Indonesia lainnya adalah ; masuk sekolah dan takut dikira sombong karena betapa masih excited nya kami dengan jiwa host country yang melekat kuat (as simple as keceplosan pake bahasa sana)

It happens to me OMG.

Beberapa kali aku keceplosan menanggapi percakapan pake bahasa italia. Bukan bermaksud sombong, tapi ‘satu tahun’ bukan waktu yang cepat buat kemudian mengubah 100% kehidupan kita dan bahasa sehari-hari. Tapi memang fakta berdasar realita yang terjadi; Returnee AFS gabisa kalo ngga ngegas hahaha, dan cerewet. It might be because we speak again our mother language.

Yang aku lakukan di Temanggung setelah pulang adalah pergi ke daerah Gunung Sindoro buat refleksi atau sekedar quality time bareng Salsa dan Dek Daffa meskipun ada insiden jatuh dari motor sama adek pas nerobos jalanan sawah hehe. Menyapa Ulya yang ketangguhannya atas cobaan sakit yang menimpanya dan dia masih inget aku, “sayang nabila, kapan pulang ?” tulisnya di kertas karena waktu itu dia masih belum bisa bicara. I tried to hold my tears. Ti voglio bene Ulya, May Allah put you on His high position of eeman. 

Sedihnya, banyak yang pergi dari Temanggung. Termasuk sampe saat ini aku belum ketemu Dek Gibran. Ada perasaan ingin menyendiri, tapi di sisi lain ada desakan untuk bertemu banyak orang yang ngga aku lihat setahun ke belakang. Kembali ke Jogja, ternyata semua berubah. Pertemanan, sekolah, beberapa sudut di kota Jogja, pusat kota, kehidupan asrama (lagi) dan banyak hal lain yang aku rasa ‘aku tertinggal banyak’. 

Masuk ke satu angkatan dimana aku jauh paling tua dari adek kelas. Kurikulum yang berganti dari KTSP jadi kurtilas, koridor lantai merah yang ngga lagi sama,Gang Suronatan yang diisi banyak jajanan baru, dan banyak hal lagi. Kembali menyesuaikan life style Mu’allimaat, sekolahku. Tapi ternyata teman-teman Genetrix 92 berdatangan silih berganti seminggu pertama di asrama. 

How lucky I am having them, they’re so supportive.

Kondisi kelas yang kontras bedanya dari sistem duduk mereka sampai belajar masuk lagi ke jokes mereka. Wow, it won’t be the same again. Kaku dan bingung karena belum punya kesibukan baru selain sekolah, anyway aku juga jadi perempuan yang sangat boros di minggu-minggu awal karena sering beli jajanan makanan yang ngga aku makan setahun. Tapi ternyata apa yang aku bayangin di Italia sebelum balik, “kayaknya aku bakal soooo excited sewaktu makan makanan Indo lagi,” NO , ternyata ini biasa aja. Why it is just so like this (?)

Ada banyak rasa-rasa yang menjadi biasa aja dan malah dikuasai kelinglungan. Kesedihan yang melanda di hari pertama sekolah, kebingungan cari partner duduk, perasaan sangat excited belajar lagi di Indonesia. Berkali-kali aku mencoba mencari waktu untuk -me time- dan menuliskan ini. Tryin’ to engage many people as I many as I can. 

Hal terparah yang aku tahan-tahan adalah kebiasaan minum kopi italia. I can say, kopi Indonesia boleh jadi lebih enak tapi kopi italia has stolen my heart. Gimana bisa kopi yang setiap hari aku seduh setiap siang biasanya tiba-tiba hengkang dari kehidupan. Buat membalas kerinduan, suatu Jum’at yang sunyi meluncur ke Coffe Wae buat minum kopi dan kamis lalu menyeduh kopi hitam bareng langit senja. Tryin’ to catch everyone again.

—

Kejutan setelah kepulanganku adalah Ariel Santikarma berlabuh di Jogja bareng Izzy dan John juga buat Summer Internship dari Volunteer in Asia’s program. Ariel ini temen aku blaster Bali-Virginia US. Sebelas hari di Indonesia kami ketemu di Nanamia Pizzeria (and I was WOW PIZZERIA) and had a deep talk about exchange. How she did, and me tho. Logat Ariel kalau ngomong indonesia yang lucu dan suka bilang, ‘masak’. Dua kali kami bertemu di kesempatan dinner, she knows me so well about how’s my feeling now. 

Dia cuma bilang, “Aduhh kasiaan banget kamu” . I do Ariel sayang :)) Hati-hati pulang !

So to you guys,

That would love to share my stories. This is me, life after exchange. My self has changed a lot, the way I talk, I dress up, doing my hobbies, everything has already changed. But still, I always Nabila, being who I am. Ready to swim inside the pool of choices. I miss every single thing in Italy, my room that I cried about three day while I was tryin' to sleep on my room in Temanggung. Being crazy of everything that re-new I see here. 

Ciao,
I am telling you bunch of random thoughts and feelings.
Write this story and listening Italian and Spanish songs that still on my fav playlist dangg


Yogyakarta, 9-10 Agustus 2018
Ulima Nabila Adinta
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Cari Blog Ini

POPULAR POSTS

  • Di Kereta Pasundan
  • Unfinished Dress
  • Mendekati Kepulangan
  • Singgah di Singkawang

Categories

AFS Italy 2017-2018 Self Talk Hijrah Malaysia Ramadhan di Italia
Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • Januari 2026 (1)
  • November 2025 (2)
  • April 2025 (1)
  • Desember 2024 (1)
  • Juni 2024 (5)
  • Januari 2024 (1)
  • Desember 2023 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (3)
  • Februari 2023 (1)
  • Januari 2023 (1)
  • Desember 2022 (1)
  • November 2022 (1)
  • September 2022 (1)
  • Agustus 2022 (3)
  • Mei 2022 (3)
  • April 2022 (10)
  • Februari 2022 (1)
  • Desember 2021 (2)
  • November 2021 (1)
  • Oktober 2021 (2)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (2)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (2)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (2)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (11)
  • September 2020 (1)
  • Agustus 2020 (2)
  • Juli 2020 (2)
  • Juni 2020 (1)
  • Mei 2020 (19)
  • April 2020 (7)
  • Maret 2020 (2)
  • Januari 2020 (1)
  • Oktober 2019 (1)
  • September 2019 (1)
  • Agustus 2019 (1)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (1)
  • November 2018 (1)
  • Agustus 2018 (1)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (4)
  • Februari 2018 (5)
  • Januari 2018 (7)
  • Desember 2017 (9)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (6)
  • September 2017 (7)
  • Agustus 2017 (2)
  • Juni 2017 (12)
  • Mei 2017 (11)
  • April 2017 (6)
  • Maret 2017 (3)
  • Februari 2017 (4)
  • Januari 2017 (2)
  • Desember 2016 (5)
  • November 2016 (6)
  • Oktober 2016 (6)
  • September 2016 (5)
  • Agustus 2016 (1)
  • Juli 2016 (1)
  • Juni 2016 (6)
  • April 2016 (2)
  • Februari 2016 (1)
  • Januari 2016 (2)
  • Desember 2015 (1)
  • November 2015 (3)
  • Agustus 2015 (1)
  • Juli 2015 (1)
  • Juni 2015 (4)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Februari 2015 (6)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (4)
  • November 2014 (14)
  • Oktober 2014 (2)
  • Agustus 2014 (3)
  • Juni 2014 (12)

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates