Nabiloski De Pellegrini
Si Sulung

Sebutan abadi, karena manusia tidak ditakdirkan untuk bisa memilih atas 'Sebutan abadi' ini. Sebutan dan takdir sebagai Si Sulung selalu menjadi pertimbanganku dalam banyak hal mendepan. Aku seperti tidak bisa dengan egois saja cepat memutuskan. Menimbang banyak hal di belakang yang tak luput dari banyak tuntutan. Kadang aku berfikir, kenapa manusia bisa memiliki banyak sematan dalam satu perjalanan, katakan sebagai Si Sulung, pemimpin, yang dipimpin dsb. Tapi bagiku, tetap tidaklah mudah menjadi si Sulung, atas apa yang sudah dan akan terjadi aku tetap saja masih egois, Mengajar kemauanku sekali pun untuk kepentingan banyak manusia. Kata Bapak, "lalu bagaimana adik-adikmu? Tidak mungkin anak bapak hanya maju yang satu sedangkan yang lain harus mengalah."

Aku tau, dan tak luput dari selalu mendoakan adik-adikku. Aku perempuan dan sulung, bagaimana pun caranya aku merasa harus berani dan berdikari. Harus tangguh. Tidak ada tentang mana yang lebih sulit antara lelaki dan perempuan, keduanya sama-sama sulit. Tapi sedikit sesak ketika ada adikku yang berkata, "keberuntungan keluargaku serasa diambil kakakku seorang." tarik nafas dalam. Asal kau tahu dik, aku begini karena perjuanganku supaya tidak menjadi kakak yang biasa saja dan bisa selalu jadi contoh bagimu. Aku mau membuktikan padamu kalau anak sulung perempuan sepertiku juga tidak kalah tangguh dengan lelaki sekali pun. Kita tidak tau nantinya, secepat apa apakah kapan peran Ayah dan Ibu akan aku gantikan. Untuk hidup kita yang masih terus berhembus.

Padaku, si Sulung. Jangan berhenti. Kau tidak akan tau kapan sosok dan peran kau akan bertambah, sebagai Ibu-Ayah-Isteri-Anak Sulung-Pejuang Umat-Pemberdaya Manusia. Kau tidak akan pernah tau. Tetaplah berjalan dan memperjuangkan tentang apa yang kita rasa benar dan patut.



Ingat adik-adikmu, jangan lupa hei sulung :)

Menjadi si Sulung bukanlah perkara mudah. Kau memang tidak pernah meminta takdir ini, tapi kau tak perlu tau apa alasan Tuhan tentang ini. Cukup perjuangkan apa yang selayaknya Putri Sulung, kelak kau akan paham betapa menantangnya menjadi Putri Sulung.

Sidokabul Jogja, 12-05-2017
Tentang Bandung dan segala penghamparannya

Tentang berjalan sendiri yang mengurung banyak makna, sekali pun aku berangkat seorang diri dari kota perantauanku tapi nyatanya Allah Maha Baik, mimpi bisa mengabadikan momen terbaik di Bandung terlunaskan dengan kehadiran duo manusia baik buat menemani seorang pejalan amatir kaya aku ini yang sok berani kemana-mana bawa seorang diri. Karena itu caraku menikmaTi me-time ku so biar bisa menemukan banyak makna quality time.

Perjalananku tanpa kurencanakan sepenuhnya tapi kuniatkan seutuhnya.
Minggu malam sebagai malam penghabisan Rembug Remaja Indonesia dengan berganti penginapan di Hotel Madju yang jadoel dan tua itu jadi malam terspesialkan buatku setelah seharian penuh berembug soal Peta Jaring Laba-Laba, it was about how to creating community yang bisa didukung dan terus berjalan dengan prosesnya dan punya basis masa yang kuat. Aku belajar banyaak banget dari ide-ide brilian temen-temen RRI, mulai dari Kang Fakhry yang tuna netra tapi selalu punya other side yang bikin menganga semua orang, Si Hasnia bocah serumpun Jawi yang punya gairah baru dengan pendapat cemerlangnya, Si Diky yang terus-terusan nyudutin aku biar ngomong, bentar kek Dik aku baru mengamati dulu biar quality of speak nya bermakna buat semua yang denger hmm, batinku. Bocah biru dongker satu ini selalu merendah yang katanya bahasaku ngga bisa setinggi yang lain tapi idemu itu lho aku aja takjub, heuh.

Malem Pensi yang super mendadak buat aku, tapi nggaboleh biasa dong bagi Ulima Nabila, kamu bawa nama Pelajar Muhammadiyah se-nusantara masak iya biasa ajha. Intuisiku bergerak cepat dengan kowar di grup squad  keren laah ya pokoknya finally ada temen yang super baikk lagi, dan sastrawan keren yang bikin aku iri, si jurnal gee yang kasih gudang puisinya. Then dia kasih aku puisi yang judulnya Kau Bilang terinspirasi dari Gus Mus. Sedikit sarkas bahasanya tapi punya kekuatan makna, thanks a lot jurnal gee. I know you were happy because I was trusting for that night haha, as you told me.

Setelah hampir semua kasih persembahan so sad but true namaku ngga dipanggil padahal super cepet aku bikin puisiku sendiri dan pingin bacain puisi Kau Bilang. Setelah kang Fakhry bermelodi dengan gitar dan suaranya, setelah Nisa asik dengan dangdutnya, setelah Kang Tami bawain lagu band yang cukup terkenal di Jawa Barat, dan setelah itu semua. Yaaah… but behind everything that happen there is always brige side kaan, padahal itu udah closing dari Ketua Yayasan Kampung Halaman, beliau kasih closing speech dengan, “ya dan acara kita akan ditutup dengan persembahan dari Nabila,” how wonder I am guys, like they were put me in special moment and I feel so respected by them, I dont know how to say. Dari keterlambatanku dateng dan sampai akhir aku sangat disambut.

Hening.

Berjeda.

Dengan hanya aku yang bernada dengan kekuatan lisanku, dengan aku yang berusaha sepenuh hati menyentuh setiap hati yang mungkin sedang dirundung gelisah, dengan keadaan yang mungkin masih semu dan menanti kehadiran kita yang menyadarinya.

Malam tanpa kantuk dan suntuk itu, aku terteduhkan dengan segumpal inspirasi dari Kang Jejen dan Kang Fakhry, dua sejoli yang buta mata tapi ngga pernah buta mata hati dan batinnya. Mereka berdua kowar di grup biar pada join di Warung Cartel depan hotel. Akhirnya aku dan Hasnia nyusul dengan Zainal dan dua sejoli yang lebih dulu disana. Sampe seblak mereka dah habis. Sambil Kang Jejen cerita gimana dia operasiin ponselnya, setiap pesan masuk dia setting jadi bersuara dan ketiknya pun perlahan dan harus dideketin ke telinga. Mereka berdua itu pegiat IT di Jakarta, gimana bisa buta dan ngga pernah liat wujud komputer tapi bisa ngendaliin teknologi yang canggih sejak abad 20 ini ? batinku.

Aku punya ide yang selalu aku tawarkan ke semua temen baru yang aku temui sejak momen di Sungai Pegunungan Shenandoah Amerika dua tahun lalu, waktu itu maen first impression sambil tubbing pake ban di sungai. But kali ini dengan duduk manis di dini hari Bumi Pasundan.

Bermula dari Kang Jejen, pas ini si Jirjis dateng sambil mesra sama isapan rokoknya. Kita lebih ngulik perjalanan hidup Kang Jejen yang tanpa kejenuhan dan penyesalan. Kang Jejen cerita, dia selalu yakin dengan apa yang ada dihadapannya sewaktu berjalan dan tetep maen dengan kawan sebayanya yang normal. Tapi beberapa kali jatuh pun terjadi sampe beberapa kali operasi, tapi kata dia, “tapi enak jadi orang buta, bisa jadi senter.” Loh gimana ceritanya, kita heran. Kalo mati lampu semua keluarganya risau dan malah minta tolong Kang Jejen buat beli lilin di warung bahkan tanpa tersesat dan yang nyalain lilin pun dia.

Kang Jejen yang penuh kepercayaan bisa bantah semua keluhanku selama ini.
Usia 11 tahun dia mulai penasaran sama komputer, “katanya komputer alat multi guna berarti semuanya bisa kan nggunain itu.” Mulai beli komputer tapi ampun sudah masuk reparasi puluhan kali karena diutak-atik sembarangan sampe software-nya rusak. But now, unbelievable but its true he is master of IT in Jakarta and many people proud to have him.
Carilah kepercayaan dengan kenekatan -Jejen Juanda, 25 tahun tuna netra-
Pernah juga karena pingin belajar di salah satu institusi khusus tuna netra di Jakarta, siang bolong di Cirebon asal Kang Jejen nekad berangkat seorang diri naik bis ke Jakarta dengan ditemani tongkat yang nemu di sekolahnya. Malem hari sampe lokasi tanpa tersesat. Esok hari daftar seorang diri dan pulang juga sendiri ke Cirebon. Kata dia, “Kita harus berani, carilah kepercayaan dengan kenekatan.”

Belum berjeda lagi, berlanjut ke Kang Fakhry yang tuna netra tapi masih bisa lihat cahaya 10%. Mereka berdua ngga pernah merasa jenuh, apalagi menyesali keberadaan mereka di dunia. Mereka bisa jadi sahabat deket, kalo kata Kang Fakhry, “Intinya hidup kan menghadap Tuhan.”

Intinya hidup kan menghadap Tuhan -Fakhry, 22 tahun tuna netra-

Mereka yang ngga pernah bisa melihat secara langsung keagungan ciptaan Tuhan bisa menyadari eksistensi Tuhan setulus hati dan selalu berusaha sholat tepat waktu. Aku M  A  L  U. Superrr. Sampe akhirnya ngga tuntas karena terlalu sayang kalo ngelewatin denger cerita mereka berdua. Sedikit banyak yang lain juga saling cerita, termasuk si Zainal yang dilahirkan tanpa anus terus langsung operasi pembuatan anus, dan harus bayar Rp 20.000,00 sampe TK buat sekedar buang air besar, memenuhi panggilan alam. Dan lagi ya, dia perlu cara taktis sampe sekarang buat ngelakuin hal manusiawi itu. How thankful I am. Traveling brings me from speechless into story teller.

Kira-kira jam 2 pagi kita masih asik mengabadikan momen dengan mirrorless Hasnia dan Mas Hilmy di Jalan Bandung yang romantis dengan lampion berjalar. Kehadiran si Jirjis, photographer handal buat kita. Aku lebih bersyukur lagi karena aku bakal menikmati Senin di Bandung bareng Jirjis, ngga bakal khawatir tidak terabadikannya momen dengan baik-. Haha

Menjelang shubuh. Tidak lupa bermunajat dulu Bil.

Selelah-lelahnya aku yang ngga tau gimana menghadapi satu hari lagi di Bandung seorang diri. Dalam perjalanan, aku selalu percaya masih banyak orang baik kok, jangan takut. Allah Maha Baikk:)).

Sampe fajar di Bandung.

Aku selalu percaya, bener kata ibnu batutta,
Traveling it leaves you speechless then turns into story teller

Bumi Jokja,

Nabiladinta 9 Mei 2017

*berlanjut


I love Traveling as much, I love talking to everyone who loves traveling, and this post will tell based on dream because of talking with my friend who loves my love




Tentang Surga Pasundan (2)

Keberlanjutan akan terus dilanjutkan, cerita ini tentang kembali memaknai berjalan sendiri and keep understanding how live the moment better.

Sampai akhirnya aku getting bed to sleep bareng peserta Rembug Remaja Indonesia lainnya aku mulai merebahkan diri sedikit memanjakan setelah travel panjang berhasil men-jeda-kan waktuku sekian jam. Pada setiap momen baru syukur sekali aku langsung bisa enjoy dan akrab dengan semuanya, mulai yang dari seumuran sampe yang udah mahasiswa.

Malam itu ada sesi lagi di Bandung Creative City Forum, sesi nobar dari PIJARU salah satu icon media kompas yang bergerak di film dan short movie. Kita nonton ‘Surat Untuk Jakarta’ yang digambarkan dengan kartun sederhana dan singkat tapi berhasil dapet penghargaan dan viewers yang bejibun di youtube. Waw. Lalu ada movie tentang Santri yang maunya selalu instan kalau dapet tugas membaca kitab kuning oleh Kyainya, ada juga tentang perspektif masyarakat yang banyak terganggu dengan TOA Masjid yang kurang nyaman ketika terlalu kencang meskipun dalam melakukan ritual ibadah, seperti Mengaji di siang hari di saat masyarakat banyak yang istirahat. Gemblengan Yayasan Kampung Halaman atau sebut saja KH terkait media melalu video dsb berhasil buatku ‘sedikit menyesal’ karena aku ngga begitu concern di situ padahal sending message to society lewat ini bisa juga ber-impact besar.

Malam semakin larut waktu kembali ke penginapan, di perjalanannya aku sempet ngobrol sama Mas Hilmy dari Qaryah Thayyibah Salatiga yang concern di dunia pendidikan dan digerakkan pemuda. Ada yang menyentuh dan selalu aku inget dari Mas Hilmy, “Bil pokoknya kamu nggaa bakal nyesel kalo kamu balik ke Temanggung.” Ugh so deep dear, it was like remind me what for yo go so far but you don’t have willingness to do best to your own place where you were born there, which is Temanggung in this case. Terimakasih Mas Hilmy.

Here is Mas Hilmy, yang pegang microphone


Ada lagi obrolan yang bikin aku tergugu dan tersentak, bermula dari tawaran si Diky waktu udah sampai penginapan, “Eh itu di atas lagi pada ngobrol lu kalo mau ikutan sana.” Ya please siapa yang nolak buat bikin Q-time dengan teman baru di sela Me-Time perjalananmu. Ada Kak Desboy kata si Diky yang aku penasaran banget, who is she ? yang berhasil bangun pondasi Sanggar Anak Harapan di Jakarta yang carut marut itu. Meluncur ke atas. 

Ada banyak orang disana, spesifik lagi banyak Kaum Adam di sana, dimana perempuan yang ngga pernah beranjak sampai ngobrol berakhir nanti cuma Nabiladinta selain Kak Desboy. Penampilan Kak Desboy yang sangar tapi bingar dan temennya Kak Michele (gini bukan ya kak namanya (?)) bisa bikin aku so welcoming to say anything. Kita ngga serius banget kok ngobrolnya, wkwk. Pertanyaanku tentang Sanggar yang sederhana malah bikin berbalik arah, which is aku jadi yang dicerca banyak pertanyaan. Malam itu penuh kendali hati. Herannya Kak Michele tau banget soal Muallimin dan Mu’allimaat (sekolah kebanggaan coy, haha), tambah tau banget beberapa culture antara kedua sekolah tua itu. “Loh Kak kok tau ? alumni ya ?” aku super heran tapi dia juga sampai ujung ngga ngaku. Sampai aku ditebak banyak hal yang bikin aku bingung dan please kak stop it, aku malu haha. Aku beberapa saat ngeliatin, dan kata Kak Michele, “Jangan di liatin gitu dong, kan ngga enak,” haha oke okee kak so slow please.

Here is Kak Desboyy


Aku juga cerita keresahan-keresahanku tentang sekolahku, kota kelahiranku, dan banyak masalah lainnya. Terlebih tentang kota kelahiranku yang aku ‘merasa berdosa’ karena belum bisa kasih banyak and do the best to people around me there, Temanggung. Banyak juga temen kecilku yang berhenti sekolah dan orang lain juga yang super bikin aku ‘galau’. Aku terguyur inspirasi dari Sanggar Anak Harapan. 

“Yaah lu dah pesen tiket, padahal mau kita ajak ke Sanggar,” Kak Desboy

“Loh iyaa ? Ngga ngomong dari tadi yaaah padahal baru aja pesen tiket pulang kak, pingin banget ihh.”

“Ya udah batalin tuh tiket haha,”

“Eh ngga murah, ya kalo duitnya bisa balik, kering ini kantong.”

Dengan segala pengharapan yang ujungnya juga belum bisa kalo ke Jakarta setelah itu. Tapi aku mau cerita sedikit tentang sanggar dan Kak Desboy yang penuh nyadarin aku malem itu. 

“Lu habis kuliah di Bandung atau Jakarta terus mau ngapain.”

Aku bingung jawabnya.

“Loh lu percuma dong kalo merasa berdosa ke kota lu kalo akhirnya lu ngga balik, gue kira lu mau balik ke sana. Emang tujuan lu apa sih ?”

DOORRR!! Super bingung lagi. Dengan segenap pencarianku, aku tetep masih bingung kalo bicara soal ini yang pasti nyangkut ke ‘cita-cita’. Apalagi soal nanti aku bakal hidup ‘dimana’ dengan pemikiranku yang mungkin masih ‘sempit’. Setelah kuliah dsb aku pasti menikah untuk menyempurnakan agama dengan jodohku yang absurd itu siapa, pastinya perempuan akan ikut laki-laki dan belum tentu aku bisa di Temanggung menetap atau pergi.

“Duh apa ya kak, kok aku jadi bingung gini kalo ditanya beginian.”

“Gue udah dari kelas 4 SD hidup di jalanan. Kalo kita bicara tulus ya kita harus tulus. Banyak orang yang ngomong banyak hal tentang masalahnya di banyak tempat sampe orang lain juga ikut mikirin dan pusing ya contohnya kaya masalah lu gini. Orang yang pergi kesana kemari dengan bahasa yang demikian di banyak forum. Kita di sanggar ? yang bicara dengan bahasa kita, sampe kita tau anak TK udah berapa kali putus sama pacarnya karena kita jadi temen buat mereka. Kita begini tapi kita nyata. Pokoknya sanggar gue buat generasi penerus bangsa. Banyak orang yang pergi ke sana sini tapi dia sebenernya lupa dia pergi buat siapa. Pecuma dong kalo cuma buat dirinya.”

Ugh. So deep kak :’)

“Kita berbuat nyata. Pernah ngga lu bikin aksi nyata, kaya lu tadi bilang soal HP di sekolah lu yang dilarang, pernah ngga lu bikin apa kek gitu sama temen-temen lu biar HP bisa dipake dan lu butuh kan ? Gue pernah ngelarang anak sanggar buat pacaran tapi ada satu anak yang ngga setuju, gue kasih kesempatan ke dia akhirnya dia bisa buktiin pacaran yang baik gimana dan pacaran ngga selamanya buruk. Sampe sekarang gue ngga larang anak sanggar pacaran.”
 
Aku merenung. So selama ini aku udah berbuat apa ? Masih Belum kan Bil ?

“Oke tadi lu bilang lu cewe terus ntar lu nikah dan ngga tau bakal hidup dimana. Emang apa yang bikin lu ngga bisa berbuat sekarang. Kita bisa kan ntar sharing terus kita maen ke tempat lu. Lu kalo mau lebih tau tentang sanggar makanya maen ke sanggar. Ya tapi lu bakal gila kaya kita-kita haha. Gue sebenernya heran, lu susah suka sama orang atau susah sadar kalo suka sama orang. Yang gue heran lagi, lu ngga pernah sadar kalo bisa bikin banyak orang suka. Misalnya kaya tadi kalo lu ngomong semuanya merhatiin dan dengerin lu kan? Lalu apa yang bikin lu ngga bisa mulai.”

Hah ? bisa bikin banyak orang suka. Poin yang juga bikin aku balik tanya ke diri sendiri. So tunggu apa lagi Bil. Speechless to say.

Setelah itu Kak Michele, Kak Desboy si Diky juga ngobrolin soal cinta, kata Kak Desboy, “Coba sekarang tema kegiatan ini apa ? Rembug Remaja Indonesia, nah pernah ngga bicarain soal cinta ? Padahal remaja juga butuh ini kaan?” hahahah, duh Kak Desboy ini. 

Kita sharing soal cinta, aku juga cerita soal prinsipku yang ngga mau pacaran dan banyak lagi. Aku heran juga, kok bisa aku seterbuka itu sama mereka dan cerita sampe hal sedalem itu soal hati. Kata mereka, “Ah lu sekali-kali kek berani pacaran”. Cuma tak bales senyum. Banyak perspektif tentang ini yang aku dapet dari mereka, sampe ngga sadar ngobrol udah berganti hari dan aku juga ngga kerasa super capeknya setelah berkegiatan non-stop di Jogja sampe perjalanan molor ke Bandung. Perjalanan yang sangat Me-Time dari Jogja.

Kak Desboy yang sangar, Diky yang masih bocah biru dongker, Kak Michele yang supur ngguyuni dan bikin aku speechless terimakasih udah successful made my first night so meaningful. I know I can do better by then. Hidup ngga melulu soal mencari dan mencari, saatnya kita bernada dengan aksi yang mendamaikan siapa saja di sekeliling kita. Rasa-rasanya semakin aku berjalan kemana pun aku semakin resah “tentang untuk apa kamu berjalan jika kamu berjalan untuk menyendiri jadikan berjalanmu itu berdikari, menyemai dan menyejukkan siapa saja sedapatmu tanpa tapi Bil,” kataku kepada diri yang fana ini. Kata temanku, dunia ini fana dan karena fana, itu yang membuatku ADA.

Teruntuk malam Bandung yang menyejukkan, aku semakin dibuatmu rindu.

Mushola Asrama Shofiyah,


Nabiladinta 8 Mei 2017 11:06 pm

*berlanjut
Jangan lupa Bil. Tenang. Jangan takut sendiri, banyak orang baikk kok. Bukannya kamu suka berjalan. Take it easy dear

Tentang Bandung dan segala penghamparannya :))

Tentang perjalanan yang tiada habisnya, tentang kamu yang selalu mengurungku dalam sela perjalananku. Hei jangan anggap segalanya kebetulan tanpa kuasa Tuhan ya (?)

Dalam perjalanan mencari kepercayaan dengan kenekatan, nekad yang bermartabat ya. Sesederhana itu, malam jumat lalu 20/04 aku mulai resah. Sepertinya aku merindukan bentuk rumah yang bisa membuatku tidur lelap tanpa tendensi. Dengan yakin aku pulang ke rumah temanku di sebuah gang bernama Arjuna sekitar Wirobrajan, si Rara teman seperjuangan di pertukaran pelajar, she’s so welcome to everyone. Walhasil, “Ra aku bingung.” Kalimatku pertama kali karena aku ditimpuk dengan segudang persoalan untuk segera diputuskan. Allah itu adil, selalu mendatangkan kabar baik tapi bebarengan dengan kabar yang cukup merisaukan.

Jadi,
Malam itu aku dirundung gembira dan gelisah dengan kabar dari Orang ke 2 di Tanah Air yang bersedia men-support bocah amatir ini tapi dari yayasan terpenting di Tanah Air bagi anak bangsa, ia juga harus memutuskan hal besar. Malam itu juga Bumi Pasundan membayangi karena tawaran Orang Pertama di Ikatan Pelajar Muhammadiyah, organisasi yang kugandeng sejak beberapa tahun lalu. Bagiku, ketika kamu bisa memperjuangkan dirimu bersama membantu orang lain kenapa tidak kaan, meskipun di sisi lain ada yang harus berani kau tinggalkan ‘sementara’ tumpukan tugas organisasi yang aku yakin, pun yang lain ‘ada’ aku toh juga pergi atas nama perjuangan yang semoga tanpa henti.

Aku mengusahakan dengan sekuat tenaga, semalam itu. Atas percakapan sore di Bulan Maret bersama teman di beberapa kali perjalananku, kami bermimpi tentang BANDUNG kuyy. Finally,you’ll getting the moment sooner. Just take it, but also take it easy dear. Segudang pertanyaan membanjiri di dua halaman formulir yang aku belum berfikir bagaimana hidup-ku di Bandung dengan penginapan yang sudah habis tentunya, dengan tidak ada saku di kantong. How ? as walker I should stand up, belive that ‘banyak kok oranga baikk’
Pagi. Momenku yang akhirnya dapet izin bolos legal langsung dari Direktur dan Wadir III Kesiswaan. Momenku yang akhirnya berkenalan dengan Mama-nya temenku si jurnalis pertama I mean, komandan Pers Mu’allimaat untuk menjalin rahim nantinya di Bandung.

Siang. Belum juga aku mendapat kepastian, di tengah tugasku untuk membantu jalan dialog pelajar yang kami undang dalam ajang PELAJAR BERDISKUSI, sebut saja PERKUSI. Lalu se-jam sebelum kamu diberi tahu harus berangkat Bil, kamu baru tau. How wonder I am, well prepare tanpa kepastian will getting lucky kaan :’). Aku memburu, melaju dengan gas di gang sempit asramaku supaya aku bisa dengan cantik mengabadikan momen nantinya.
Perjalananku ke Bandung cukup menggelisahkan, ku sebut Travel Galuh ini roda empat yang mampat. Beberapa jam memakan waktu di dalam kota. Tanpa sadar, JAS IPM sebagai identitas dan salah satu senjata ampuh atas kepergianku tertinggal. Hiks:’( . Mbaa Linta sebagai motivator keberangkatanku, directly I tell her. Beruntung kau Bil, travel masih tertambat sementara di Jalan Diponegoro, markas travel sejagad barat Tugu. Alhamdulillah. Any one helps me, dengan catatan 5.30 menuju maghrib masih di Pusat Belanja Ramai Mall, dengan keajaiban 5.50 sudah bisa bersanding dengan ‘Galuh’-ku yang sudah tanpa sabar bertambat meluncur menuju lampu hijau yang siap nyala padahal harus ambil Jas di Gedung PP Dahlan. Tarik nafasss, lega super lega untung ada manusia super baik. Terimakasih-ku sampai lupa sudah ke berapa kali ya ? untung Prank yang kamu tawarkan kamu batalkan di tengah risau dalam. Sooo menegangkan bareng gerimis tanpa henti petang itu. Terimakasih baikk :))

Super risau lagi, tanda tangan bermaterai harus di kirimkan dalam waktu sejam. Untung ada teman lagi yang super baik, bersedia mensedekahkan kuotanya buat kirim email. Terimakasih baikk. Aku sempat menangis tergugu di tengah perjalanan, karena banyak kerisauan dan kekhawatiran atas bulan-bulan ke depan. I am struggling, Allah helps. Alhamdulillah.
Merapat di Kebumen atas roda travel yang rewel ditemani segelas Teh Panas yang aku seduh. Satu jam lebih perjalanan, sembari diingatkan temanku untuk jangan lupa bersyukur sama yang beri nikmat buat beranjak katanya mumpung masih bernafas. Ternyata di jawab dengan mengobati rewelnya roda travel di Bumi Cilacap. Sudah setengah jam berganti hari. Ambil wudhu. Rumah Bapak Bengkelnya menyediakan ruang dengan tulus. Bermunajat. Beberapa jam harus menunggu lagi sampai pagi setelah beranjak subuh ku jalankan. Tarik nafasss. Innalillahi. 3 tiga jam lagi acara mulai.
Hamdalah. Temanku yang super baik tanpa lelah jadi ‘reminder’ makanku, yang aku lumayan ngeyel yang bagiku sulit minta supir berhenti karena kesiangan, terlewat kesia-siaan 5 jam tanpa diharapkan. Karena aku sadar, rasa-rasanya aku juga jadi penumpang rewel dan banyak request, ngga mau duduk di tengah cowo, merisaukan minta undur berangkat karena jas, eh minta berhenti makan. Kata temenku, “Udah nggupuhi supir minta tunggu bentar, duduk aja susah, ban rusak, bandung masih jauh, minta mampir beli makan lagi. Sekarang, aku kasihan sama supirnya. Wkwk,” enak ajhaaa, aku kecil sendiri jadi wajar banyak maunya. Hmm. Katanya lagi, “Kecil minta dikasihani, Besar minta apa nanti. Eh.”


Sabarrr. Bandung tetap menanti kok :’) , di tengah megang perut dan saran untuk tidur ku abaikan. Bagiku kalau lewat jalan yang belum pernah tak lewati sayang kalau tidur. Walhasil waktu dhuha sudah mau berakhir, mobil berhenti di warung yang ternyata mahal bagi orang desa Temanggung yang singgah lama di Jokjaa. Demi perut, okaayy. Jeda beranjak, terimakasih Allah. Allah Maha Baikk ðŸ˜Š

Jalan Garut dan sekitarnya penuh damai, rasa-rasa penat di kota berhasil buat Nabiladinta ambil jeda. Menanjak dan gunung cukup melugukan. Welcome Bandung, ada yang istimewa dan beda dari terowongan di daerah Nagreg Bandung, masih so pinggir jauh dari kota. Jalan TOL berkat long weekend jadi penghibur berlama di Travel Galuh. Walhasil sampai di Bandung Creative City Forum langsung disuruh presentasi, tanpa babibu dan tampilkan dengan apa adanya aku ceritakan apa itu IPM, so short time to explain well dan menjadi pencair suasana dengan ice breaking ala-alaan kuu.

*bersambung
Bandung masih berlanjut yaa


Persimpangan Pasar Baru menuju Jalan Asia Afrika
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Cari Blog Ini

POPULAR POSTS

  • Di Kereta Pasundan
  • Unfinished Dress
  • Mendekati Kepulangan
  • Singgah di Singkawang

Categories

AFS Italy 2017-2018 Self Talk Hijrah Malaysia Ramadhan di Italia
Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • September 2026 (1)
  • Januari 2026 (1)
  • November 2025 (2)
  • April 2025 (1)
  • Desember 2024 (1)
  • Juni 2024 (5)
  • Januari 2024 (1)
  • Desember 2023 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (3)
  • Februari 2023 (1)
  • Januari 2023 (1)
  • Desember 2022 (1)
  • November 2022 (1)
  • September 2022 (1)
  • Agustus 2022 (3)
  • Mei 2022 (3)
  • April 2022 (10)
  • Februari 2022 (1)
  • Desember 2021 (2)
  • November 2021 (1)
  • Oktober 2021 (2)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (2)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (2)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (2)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (11)
  • September 2020 (1)
  • Agustus 2020 (2)
  • Juli 2020 (2)
  • Juni 2020 (1)
  • Mei 2020 (19)
  • April 2020 (7)
  • Maret 2020 (2)
  • Januari 2020 (1)
  • Oktober 2019 (1)
  • September 2019 (1)
  • Agustus 2019 (1)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (1)
  • November 2018 (1)
  • Agustus 2018 (1)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (4)
  • Februari 2018 (5)
  • Januari 2018 (7)
  • Desember 2017 (9)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (6)
  • September 2017 (7)
  • Agustus 2017 (2)
  • Juni 2017 (12)
  • Mei 2017 (11)
  • April 2017 (6)
  • Maret 2017 (3)
  • Februari 2017 (4)
  • Januari 2017 (2)
  • Desember 2016 (5)
  • November 2016 (6)
  • Oktober 2016 (6)
  • September 2016 (5)
  • Agustus 2016 (1)
  • Juli 2016 (1)
  • Juni 2016 (6)
  • April 2016 (2)
  • Februari 2016 (1)
  • Januari 2016 (2)
  • Desember 2015 (1)
  • November 2015 (3)
  • Agustus 2015 (1)
  • Juli 2015 (1)
  • Juni 2015 (4)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Februari 2015 (6)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (4)
  • November 2014 (14)
  • Oktober 2014 (2)
  • Agustus 2014 (3)
  • Juni 2014 (12)

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates