Nabiloski De Pellegrini

Empat jam total durasi perjalanan Singkawang ke Pontianak disertai dengan singgah di Mempawah, bikin aku sempoyongan.

Leher belakangku terasa ngilu karena jalanan yang sedikit bergelombang dan membuat tubuhku ikut bergoyang, aku bawa tidur di kasur hotel jalan gajah mada Pontianak. Bising dan suara-suara dari segala penjuru masuk tanpa pengedap.

Perjalanan ke Kalimantan Barat ini buatku percaya bahwa "if it's yours it's gonna be yours". Sebab tepat setahun lalu aku gagal pergi ke Pontianak, gagal meramu dari serangkaian kegiatan yang sudah disusun rapi dari CLAP Project. Impian keliling provinsi ini sembari membayangkan Dian Sastro makan choipan di Singkawang sirna seketika. Jadi, datangnya proyek dari World Food Program di kantorku akhir tahun 2025 lalu bikin aku harap-harap cemas sembari berdoa barangkali rejekinya memang ditunda setahun kemudian dan kali ini adalah gilirannya.

Ternyata benar, setelah beberapa kali bongkar pasang tim. 

Bukan sebagai lulusan jurusan perkotaan, tapi berkat artikel-artikel National Geographic aku jadi suka melihat ruang dan manusia yang berkelindan dan tertata dengan alami maupun buatan di sebuah kota. Singkawang untukku, terasa sangat hidup sekali. Masjid, vihara, gereja, pertokoan, jalanan, dan lampion merahnya menyala dan beriringan dengan kesibukan penduduknya. 

Semua terlihat penuh rasa dan nyawa untuk menghidupi kota kecil di antara gunung dan lautan ini. Setiap kendaraanku melintasi jalanan kotanya, aku rajin mengintip keluar jendela dan memasang rencana kunjungan atau singgah selagi bisa. Menyisipkan agenda jalan kaki pagi dan sore di antara rentetan pekerjaan penelitian ini. Sebagaimana kata seorang kawan, imbalan dari lelahnya berkeliling mencari data saat penelitian adalah makan enak!

Selain itu, Singkawang punya cara lain menyihir segenap indraku, sudut-sudut kecil, papan nama toko, apotek, toko lawas, dan deretan mural di kampung-kampung kotaku buatku ingin sekali menekan tombol jepret di kamera gawaiku. Berkali-kali. Ingin lagi singgah ke Singkawang!

Selanjutnya,

Nggak sabar menyisir Pontianak dalam babak empat hari ke depan! 


Pontianak, 25 Januari 2026

22.37


Sepasang baju yang belum jadi

Bahkan belum sempat dimulai

Hanya bermula dari percakapan saat kita berdua masih dekat. 

We used to be good friends, really. Instagram story seorang kawan yang juga tersisip dirimu sungguh membuat air mataku tersendat semalam, dalam jarak 1x24 jam baru saja berhasil menetes kalau aku mengingat lagi cerita-cerita lama, dari mulai kisah tentang Bapak kita, bagaimana kita dibesarkan, bedanya kamu berhasil menjadi seniman sesungguhnya, sedangkan aku hanya menjadi penikmat dan sesekali menyisipkan seni di antara pekerjaanku meneliti dan menjadi juru tulis. 

Tidak terasa, mencoba berdamai ini ternyata belum kunjung mencapai definisi sesungguhnya. Sampai sudah tiga tahun berlalu dari percakapan dan surel hangat kita saling merayakan dan mengucapkan doa terbaik di hari ulang tahun kita di bulan sembilan yang sama. Aku sudah lupa kapan akhirnya aku memutuskan mute segala aktivitas media sosialmu, kecuali tumblr yang ternyata dari satu-satunya medium ini aku cukup senang mengetahui kabarmu dan tulisan-tulisanmu yang apik. Terlihat senantiasa tulus dan sepenuh hati, sama seperti gambar dan grafismu. 

Aku tidak tahu sampai mengalaminya bahwa patah hati yang lebih menyakitkan adalah kehilangan seorang teman, sesekali kesedihan ini merasuk pikiran saat kabar tentangmu tidak sengaja lewat di berandaku lewat beberapa teman yang (akhirnya) lebih dekat denganmu, pikiranku yang kelabu melayang pada masa-masa menggembirakan di masa lalu sembari harap-harap cemas, kapan ya kira-kira kita bisa dekat dan merayakan kehidupan bersama kembali?

Barangkali sepasang baju yang kita berdua rencanakan bisa terwujud nanti?
Barangkali kita bertemu di Eropa, dunia yang kamu ingin kunjungi untuk mendatangi pameran-pameran seni?

Segenap 'barangkali' ini senantiasa aku ucapkan dalam doa, semoga kamu dikuatkan pundaknya, mendapatkan tempat baru yang membuatmu bernafas lega dan tanpa terengah-engah merayakan kehidupan.

Sampai-sampai aku membayangkan, bagaimana bila suatu hari nanti aku bisa mengucapkan maaf sekali lagi kepadamu? Sebagaimana kata pasanganku, hidup pasti berputar sayang.. barangkali dan barangkali, ya?

Semoga pertemanan kita hanya layu sementara sampai guyuran air hujan menyegarkan kita berdua kembali,

Sampai bertemu dan bercengkerama kembali temanku, semoga hidupmu baik-baik saja. Sebagaimana kata orang bijak, sebaik-baik pertemanan adalah saling mendoakan.

Bandung, 30 November 2025
20.13





Kereta Pasundan menuju Jogja melaju dengan amat lambat, semakin lambat sebab perlunya pergantian lokomotif di Stasiun Cipeundeuy. Sial batinku, hari menyebalkan memang tidak ada di kalender.

Pagi tadi aku melakukan adegan dewasa yang penuh siasat, harap-harap cemas rapat pagi segera usai supaya bisa mengejar kereta tercepat menuju Jogja yang harusnya kulakukan tadi malam. Semua buyar karena urusan pekerjaan yang kalau dipikir lagi, keren juga aku bertahan di tengah kantor yang semakin lama semakin menyebalkan ini.
 
Bercita-cita menjadi peneliti ternyata juga nggak semudah itu dan setulus yang diajarkan di kelas-kelas antropologi. Ternyata menjadi antropolog tetap nggak dianggap cukup “laku” di pasaran negara ini. Ilmu antropologi rasanya cuma kata yang dipinjam oleh orang-orang semu yang mengakali supaya ide besar penelitiannya “seakan-akan” berpusat pada manusia. 
 
Di luar sana, orang-orang menganggapku bekerja di sebuah tempat yang sangat mulia. Bersama dengan orang-orang pintar dari kampus ternama dalam dan luar negeri dan didominasi oleh rumpun keilmuan yang sangat digdaya didengarnya sebagaimana pembangunan dilihat dari sesuatu yang ‘nampak’ saja. Sungguh berbeda dari kelas-kelas Prof. Laksono, Prof. Heddy, dan Mas Pujo yang senantiasa mengingatkan kami, mahasiswanya, bahwa sesuatu yang ‘nampak’ dan terlihat besar belum tentu berpihak pada manusia. 
 
Banyak sekali proposal yang menuliskan ‘etnografi’ dan ‘partisipasi observasi’ sebagai dua kata kunci yang mahligai dipandang penyalur dana penelitian yang kurasa eksistensi kami para lulusan antropologi pun tidak begitu dianggap valid dan merasa harus dilibatkan oleh mereka para penulis proposal itu. 
 
Sungguh mungkin aku jengah. Kering dan haus akan suasana ruang belajar yang memberdayakan dan memanusiakan orang-orang yang sedang belajar. Tulisan ini mungkin terlihat omong kosong perempuan seperempat abad yang sedang berupaya mencari ‘ruang tumbuh’ untuk mencari maisyah yang tepat.
 
Meskipun kuakui bahwa tidak ada yang benar-benar ideal di dunia ini. Bandung mungkin nyaman sebagai kota tempat tinggal, dengan udaranya yang dingin dan makanannya yang unik. Namun belum tentu tempat bekerja menjadi ruang yang nyaman untuk tumbuh. Oleh sebab itu, tumbuh dan tinggal tidak selalu bisa berjalan beriringan. Sampai-sampai dalam setiap doa yang belakangan kupanjatkan dengan teriakan sunyi mengingatkanku pada kemuliaan ilmu pengetahuan yang diajarkan di Gedung Soegondo, pada kesunyian catatan-catatan etnografi yang menyingkap nafas serta pengalaman kehidupan manusia, dan pada ketajaman indra analisis yang membuat dunia ini terasa sangat mungkin untuk mendobrak status quo yang menjijikkan.
 
Mudah-mudahan kita semua dipertemukan pada ruang dan kota yang membawa pada kehidupan yang tidak harus sempurna, namun setidaknya bisa membuatmu bernafas lega.
 
Kereta Pasundan, 12 November 2025
16.37
 

 Hari-hari belakangan, setiap kali menelpon Mukhtara Rama atau bertemu dengannya celotehanku selalu bermuara kepada apakah persiapanku sudah cukup? 

Tujuh tahun penantian ini terasa sangat lama, beberapa episode kehidupan lainnya kadang terasa berputar begitu cepat. Namun entah kenapa untuk perjalanan menuju 'kepulangan' ini rasanya aku sudah cukup menunggu sangat lama, sesuatu yang tidak pernah tidak aku pikirkan setiap hari. Terlebih lagi babak-babak pasca lulus dari sarjana membuatku sedikit lebih bijak (?) lebih banyak percaya kepada proses, bergerak, dan mengusahakan sesuatu yang baik dan penuh ketidakpastian.

Jatuh bangunnya rejeki, utamanya di satu tahun belakangan ini membuatku akhirnya tidak ragu untuk memutuskan kembali di hari pertama Ramadan. Menelpon Mamma Linda dan Papa Aurelio yang sedang mengasuh Mia, keponakanku yang belum kulihat secara langsung sampai akhirnya ia memasuki usia sudah bisa berjalan dan berbicara. 

Dengan mantab dan penuh ketegasan aku ucapkan untuk kembali menjenguk mereka, memastikan satu persatu selama masih memiliki dua bulan persiapan. Boleh diakui persiapan ini cukup mepet, dengan segala drama VISA, mengecek tiket perjalanan via segala website dan aplikasi sampai dengan yakin menyusun rute perjalanan yang terbaik. Sungguh, jantung ini kerap menjadi berdetak lebih kencang. 

Seringkali juga aku mengatakan, benakku akan merasa lebih tenang untuk menjemput syukur pertemuan kembali dengan keluarga dan teman-teman di Italia di antara segenap urusan dan ambisi kehidupan lainnya. Persiapan kepergianku kali ini juga sangat penuh perhitungan dan berhati-hati, mengingat ini akan menjadi perjalananku seorang diri yang kedua kalinya setelah tahun lalu dianugerahi perjalanan ke China dan Hong Kong. Di antara waktu-waktu itu babak dan urusan kehidupan lainnya tetap harus berjalan, rasanya masih nggak percaya?


Bandung, 28 April 2024

23.22

As a stubborn yet disciplined person, I have transformed into a new version of myself—a newborn woman. I’ve faced many trials and errors in this sleight-of-hand magic we call life. If life gives you lemons, I would definitely turn them into a cake, drizzled with kecombrang nectar and paired with a hand of V60 coffee, to be enjoyed in the tiny, old room I rent in Bandung, a city where I spent half of this year.

I never expected to live in Bandung for exactly six months and two weeks. I am grateful for every gift you gave me—from the cakes, cookies, and cranberries to bowls of smoothies, cozy café corners, cimol bojot, and the yard of @soula.leuit in Ciumbeleuit, where I practiced yoga on Saturday mornings. I cherished the old houses in the ITB area, owned by professors, which I passed by on my daily walks to the office. I’ve never doubted the tranquility and fresh air of this place.

These little moments definitely made my life better.

And yet, 2024 is pushing me in new directions, urging me to find new routes, ones both familiar and distant from what I had imagined. I still remember vividly the times when people asked me where I was, and where I would go next. My automatic response was always, “I don’t know—I’m just giving a shot to everything,” followed by a little laugh. I was pretending to be okay.

If this year were divided into three chapters, the first third would be all about collecting the "bullets" to face life’s challenges: moving back to Yogyakarta, scheduling my days to study for the IELTS, applying to one or two jobs a day, continuing my volunteer work for AFS Jogja, and working on whatever came my way. None of my mornings started without a gasp. The first third was tough, not only for me but also for my partner, who was also navigating his own path. We nearly cracked.

In the second third, however, I decided to accept a job offer I had thought I failed at. They had told me there would be no response in two weeks if I hadn’t been selected—but a month later, they reached out and offered me the position. God must have whispered in their ears. I moved to Bandung and negotiated to start in mid-May, thanks to an unexpected surprise from AFS Indonesia to join a fellowship in China! A reason behind delaying the job. Very thankful for AFS existing on earth.

I had never imagined traveling abroad again after my exchange year in 2018. I had planned to extend my stay and visit Hong Kong to meet two AFS friends: Miranda, whom I met in Veneto, Italy, and Fadhi, the captain of the AFS Indonesia-to-Italy squad. Those moments of reconnecting with old friends and discovering more of myself through travel were blissful. But life, as always, is a two-sided blade. During that time, I was also in a state of hopelessness about my romantic life—thankfully, we managed to work things out when I was in Bandung. Thank you to Mukhtara Rama for making countless attempts to visit me on that day, even if we ended up staying up until 4 AM. It was the hardest and most nerve-wracking conversation of the year.

By the final chapter of this year, I’d title it "A Random Card Game"—because that’s what life felt like. I often took cards without knowing the rules, trusting only God’s guidance. I settled into a routine: working during the weekdays, trekking or doing yoga on weekends, and visiting my family and friends in Pamulang and Temanggung. In September, I turned 25, feeling lazy and bored as I stared at my laptop screen at the office. Then, a notification appeared on my phone: "Annual Notice of Funding Opportunity."

I jumped up, nearly shouting out loud. My co-workers were shocked. 

All the trials and errors from 2023 finally paid off, and I found myself with a team I never expected. This opportunity became a breakthrough moment, not only for my life but also for my friendship with Alfreda Fathya, which has grown since we were a pair of IPM chairpersons in junior high school more than 10 years ago. Together, we have learned and reflected on the values taught by our beloved teacher, Umi Unnik. What does life mean to us and the people around us?

Our jokes have become a reality in adult life, and I’m grateful for the connections I’ve nurtured over the years. This year, I’ve embraced deeper connections—with my body, with the people I care about, and through the small things I do: cooking, practicing yoga, returning home, dating my partner, or simply relaxing in a café with a cup of brewed coffee. I am just hoping 2025 brings more time for travel and writing, and that the coffee tastes just as good as it was in this year.
 
Temanggung, 27-28 December 2024


“Kamu cantik nggak?” tanyamu usil dan bikin kesal, haha. Aku malah balik bertanya, “Kakak ganteng nggak?”

Jelas bisa dipastikan jawabannya lantang dan percaya diri dirimu ganteng. Sambil ketawa lebar, ih dasar haha. Apalagi ini kali kedua kamu memanjangkan rambut. Buatku sepertinya semua lelaki harus mencoba berambut panjang, sebagaimana Bapak dan kedua adik laki-lakiku yang melewati rambut awur-awutan dan sok mau gondrong padahal keriting jadi lucu haha.

Secuil obrolan makan malam di warung nasi goreng dekat Taman Serua.

—

Waktu yang sedikit itu aku dan Rama habiskan dengan menonton film Inside Out 2 (punten kami betulan nggak sadar kalau film-nya masuk dalam produksi yang diboikot, sungguh) di mall terdekat dari rumah kami. Jelas dari judul filmnya bisa ditebak kalau yang nonton banyak anak-anak dan ibunya, jadi sembari kami menonton sesekali ketawa liat ekspresi anak kecil yang nggak sabaran dan maju ke depan sambil lendetan. 

Inside Out buatku dan Rama sangat dalam, ia berarti sebuah film yang dikemas unik, kreatif, dan canggih untuk menceritakan bahwa manusia tidak tunggal. Ia hidup bersama beragam emosi yang harus dijelajahi dan diterima. Meskipun seiring kita tumbuh dewasa, waktu seperti berhenti mengeksplorasi emosi dan rasa. Terjebak dalam kecemasan mendalam dan sukar diurai.

Ini kali kedua kami nonton di mall itu, sebagai orang yang nggak suka ke mall, praktis saja dan nggak perlu jauh mencari mall yang megah (hehe). Sepulang dari sana kami makan nasi goreng dan kwetiau dekat rumah Rama yang dibekali beberapa bakwan jagung panas dari Umi Rama. Itung-itung cemilan penyelamat perutku yang lapar sekali.

Hari yang tidak begitu panjang itu buatku (lagi-lagi) menikmati nafas lega di tengah udara Pamulang yang semakin panas dan sesak. Bagian yang tidak kalah berarti adalah jalan menuju mall yang Rama pilih sisiri, jalanan kampung sekaligus kluster perumahan elit yang menembus sampai tanah lapang luas serta kebun yang masih luas dipandang mata. Tentu tanah yang tidak bebas. Milik Abu Rizal Bakrie. Disertai beberapa bangunan yang terbengkalai.

Nafasku lega tapi hatiku sesak, yah apes sekali mau punya udara dan tanah yang bebas sulit sekali.

Ternyata, 

Lapangan sepak bola yang luas dan sejuk memandang ke langit itu 8-10 tahun lalu adalah ruang di mana hari-hari Rama diisi dengan ikut sekolah bola tiga atau kadang lebih dalam seminggu. 

Beberapa kali kami tentu salah jalan, Rama mencoba meraba memori masa lalunya yang perlahan berubah karena pembangunan kota. Buatku, justru jadi seru karena sesekali kami harus putar balik. Selain itu, percobaan ini mengingatkanku pada Bapak yang juga senang menyisir jalan-jalan kecil di Temanggung. Sembari bercerita tentang sebuah tempat, entah memorinya atau beberapa orang yang ia kenal menjajaki tempat itu.

Oh ya, langit sore itu cerah sekali. Mataharinya terang benderang. Memantul dari gedung mall yang tinggi.

Bandung, 23 Juni 2024

22:46

Tuhan seperti tau bahwa lebih baik aku sibuk saja. Bahkan tiada libur Sabtu-Minggu yang didambakan pekerja kantoran. Tuhan seperti tau kalau lebih baik kamu pergi saja dari kota ke kota, jelajahi bumi-Ku dan bersedihlah bersama-Ku. Karena sesungguhnya Aku dekat. Sebagaimana Tuhan beberapa kali berkata dalam firman-Nya. 

Patah hati ini terasa berlipat-lipat lebih sulit, aku mulai terbiasa berada “di-ambang” atau “di-persimpangan”. Yang sederhananya semua adalah misteri. Patah hati ini terasa lebih pedih karena di sela-sela waktu kamu harus terlihat tetap tertawa dan bahagia di depan orang-orang baru dan asing. Asing sekali. Sampai semua terasa jauh dan kesendirian terasa menghujam jantung. 

Mungkin ini skema yang sengaja dirancang Tuhan supaya aku tetap bisa punya waktu tanpa libur, tanpa harus bersusah payah memberi waktu kesedihan karena dengan begitu, kesedihan tetap terasa diberi. Di sela waktu, di sela ambang batas laporan dan artikel yang menumpuk di bulan Juni. Di sela penjelajahan.

Cilacap, 5 Juni 2024


pagi ini aku bangun dengan perasaan campur aduk sekali, memutuskan untuk nggak buka hp dan membiarkannya tergeletak di dekat rol kabel. kepalaku cukup pening mengingat aku yang sangat bodoh karena tidak disiplin bikin essay untuk wawancara pekerjaan pertamaku dari kemarin, ternyata dua pertanyaan dengan masing-masing 500 kata minimal itu terasa sangat berat kutulis dengan deadline hari ini. 

pagi ini aku bangun dengan perasaan sendu, aku merasa nggak mampu lagi menguraikan apa yang aku pikirkan dan rasakan sebab saat diuraikan konsekuensi-konsekuensi logis dari itu semua sesungguhnya adalah ketidaksiapanku sendiri mendengarnya. huhu ucap kata maaf ribuan kali juga mungkin nggak bikin semua kembali, aku menyesal, boleh kan? aku coba lagi mengatur nafas dengan hitungan empat setiap tarikan-tahan-hembuskan lalu aku bangun dengan berkali kali tarikan nafas yang tidak mudah dan berat sekali. 

pagi ini aku langsung pergi mandi dan mengguyur air, dengan harapan air yang mengalir ini bisa cooling down tubuh dan pikiranku. aku ingin menangis tapi rasanya juga sia-sia, apakah aku bisa tampil dengan performa yang oke di wawancara atau ujian ielts akhir bulan nanti? aku juga tidak yakin, butuh berkali kali keberanian dan cara mendatangkan tenang yang aku tau harus aku hadirkan dari diriku sendiri bukan dari orang lain. pagi ini rasanya aku nggak kepingin bangun, aku nggak mau menerjang motor ke Temanggung, nggak ada energi yang cukup untuk itu. huhuhu

pagi ini aku bertanya sekali lagi, bolehkah aku bersedih hati? apakah iya aku belum selesai dan berhasil mengurai satu per satu? bukankah nggak ada yang bener-bener selesai ya selama hidup masih terus berjalan? doaku pagi ini setelah mandi dan solat dhuha adalah kalimat tawakkal yang kupanjangkan, terima kasih Allah <3

Temanggung, 12 Februari
09:45

Judul ini ada subjek e-mail yang kukirimkan kepada rama satu setengah tahun lalu, pekerjaan favoritku tetap sama selama hampir sembilan tahun, oh wow? lama juga ya. Setiap laki-laki yang pernah dekat/menjalin relasi sama aku, bisa dipastikan pasti ada di salah satu label emailku (hehe).

Nggak aku hapus dan hilangkan, sebab aku kepingin tetap kasih ruang untuk setiap perjalanan yang pernah aku laluin. Kalau sekarang, salah satu ruang ampuh meluapkan sesuatu kalau ada hal yang rasanya tersumbat kukeluarkan dua tahun belakangan ke rama, aku memilih menuliskannya. Walaupun udah nggak sesering dulu. Rasanya menyenangkan, apalagi kalau kita yang berjauhan ini belum bisa ketemu, aku suka iseng baca-baca email dan ketawa sendiri. Well, tentu nggak selalu cerita-cerita suka, yang justru bikin ketawa tuh oh yaampun dulu pernah ngelawatin masa kegelapan kayak gini ya ternyata hahaha.

Seperti hari-hari menyebalkan dan sungguh aku kepingin lari aja dari Pamulang tapi malah ndilalah aku lagi penelitian skripsi yang kayaknya Tuhan suruh aku menghadapi aja, termasuk nasihat Kang Hilal sewaktu aku mampir ke kantornya di deket MRT ASEAN sebelum ke Jakpus. Pas makan siang aku mengeluh apa aku pulang aja walaopun ini belum selesai, kata Kang Hilal, "Jangan pulang hadapi peperangan yang ada di depan mata kamu ini. Kamu kan petarung pasti bisa!" 


Kang Hilal menghibur aku dengan traktir makan. Pilih menu pizza hut Pamulang apa aja asal aku mau makan end up aku pesen sup aja nggak habis huhu. Dalam hal ini aku sungguh berterima kasih ke Kang Hilal, apa jadinya aku melewati dinamika relasi dari sejak aku SMA sampai sekarang tanpa kehadiran seorang sosok kakak laki-laki kayak dia.

Kemudian,

Hari-hari ini aku bersyukur dengan kehadiran rama yang mau turut berusaha dan belajar bersama mengungkapkan apapun yang lagi dirasain, hadir di persimpangan yang meskipun sulit mau gimananpun harus dihadapi aja gitu. Aku juga belajar meregulasi emosi dan sikapku untuk menghadapi dunia yang sedang kita hadapi bersama. Menikmati hal-hal kecil yang bisa bikin tetap luwes dan senang berjalan.

Selain itu, kebetulan mungkin aku dan rama nggak terlalu suka perayaan-perayaan yang berlebihan, termasuk ulang tahun yang berjalan biasa saja, didukung dengan nggak ada budaya perayaan di keluargaku kecuali ya karena sempat hidup di Mu'allimaat aja. Jadi aku bersyukur, cukup saling kirim surel di ulang tahun kami masing-masing udah lebih dari cukup untuk mengupayakan syukur-syukur di kehidupan.

Meskipun nggak senantiasa selaras, tapi setidaknya menulis ini baik di email maupun laman pribadiku, aku bisa punya ruang menguraikan pikiran-pikiranku. Membahagiakan orang-orang tersayang dan tetap merasa dekat walaupun jauh secara jarak :)


much love <3

Yogyakarta, 11 Februari 2024

 Dalam perhitungan menjelang dua tahun, aku sudah belajar memaklumi hal-hal yang aku rasa tidak cukup benar pun tidak cukup mengenakkan. Belajar menjaga segenap inderaku untuk kehidupanku sendiri, belajar mengosongkan pikiran dengan latihan-latihan nafas di meditasi maupun yoga. Berjalan kaki lagi untuk menyempatkan jeda sejenak dari sorak sorai kehidupan. 

Belajar merasa 'aman' dan 'nggak papa' untuk kondisi-kondisi yang mungkin perlu lebih banyak waktu untuk terus melangkah. Semalam aku diingatkan untuk melihat hal-hal kecil yang tidak kecil, yang padahal dua tahun lalu kuungkapkan kepada supaya kita terus berjalan. Akan dalam satu kendaraan atau tidak, yang kupikirkan hanyalah menyampaikan catatan penting di kehidupan untuk orang yang kusayangi.

di antara yang mereka katakan,

Banyak sekali yang membuatku terguncang, berusaha memaafkan dan belajar melupakan. Sebab belum tentu benar kan? Menjalani hari-hari yang terasa gamang dengan tetap berbagi hari serta tersenyum yang harus senantiasa disempatkan. Selamat berakhir pekan!

Yogyakarta, 10 Februari 2024

I still remember vividly, a year ago I was in the tranquil embrace of Ubud, Bali, the canvas of my memories painted a vibrant tableau of joy and connection. The ethereal beauty of Campuhan Ridge Walk unfolded before us as Lena Sailer, a cherished AFS friend separated by oceans for half a decade, graced my world. Together, we chose a glamorous café perched at the summit, its panoramic view a backdrop for the spectacle of New Year's Eve fireworks. The air was filled with melodies of shared songs, and in the rhythmic sway of our bodies, we danced beneath the star-studded Balinese sky. It was not just the turning of the year; it was the celebration of friendship rekindled, a symphony of shared memories echoing across the landscape.
Returning to Jogja after two weeks of fascination and yet a tiring vacation marked as a yearning to embrace my final semester of university. I meticulously rearranged the fragments of my days, conscious of the ticking clock and the symphony of deadlines, obligations, errands, daily prayers, meals, snacks too, health, moods, projects, rest, social energy battery, each contributing to the opus of my one-year plan; to graduate from university and step into the realm of professional world.

Throughout first half of the year, 

I had such an enjoyable routine. I went regularly to Bellina Studio twice to three times a week for zumba, pilates, or yoga after such tiring days of writing my thesis. I had my favorite coffee from some cafes in town and ate a cheap pecel that close to my kost for breakfast. However, that doesn’t mean there weren’t bad times and unpleasant times in between. There are days that I like staying in bed just a little too much sometimes, getting stuck and not knowing what I am doing and having no progress on my thesis writing journey in some days.

I also took a meditation class for two intensive days to re-learn what feelings are, my relationship with people in the past years and let go of anger, sadness, frustration, jealousy, regret, so on and so forth. That was my way to define my fulfillment which ultimately led me to one of my targets in 2023 by graduating on time right in the middle of the year. At the time, I was not alone–I had a super fun and yet challenging journey with my boyfriend. He had the same struggle to finish his seven-year journey of university. He finally could make it possible a month after. We celebrated it simply by escaping to Bogor for a one day trip and had dinner at Warung Sunda with delicious and spicy sambals!

On the next half-year journey,

My real break time after finishing my thesis defense was going to Jakarta for KL-YES Reorientation, reunited with my AFS Friends and came back to Jogja 4 days after to manage another Binabud Program, NSLI-Y 2023! I had such a blessed 6 weeks with 16 lovely US Students and Binabud Jogja volunteers even though there was a non-stop working and still managing team for Muktamar IPM, my days were blissful with them! They are truly my little brothers and sisters that made my day, joking and seeing them growing and learning was very satisfying and makes me full. Until the day they had to leave, I still didn't feel like letting them go because I was still organizing lunches and making sure they got to the airport on time. That moment marked my first job after finishing my thesis. 

Days seemed non-stop moving 🌼I was breathing without pause. I spent the last half of August after the cohort came back to the States by going to Medan, enjoyed every piece and taste of Sumatra for the last biggest event of IPM. I was waiting for this time to come. Despite that, I escaped with my beloved sister Nadhifah right four hours after we just landed. We rented a motorbike to Tangkahan, to meet Sumatran Elephants! Everyone said we were very crazy, we don’t even stay in Tangkahan for the whole day but still, it was an exciting journey; bathing the elephant, talking to them like they listen to us, taking pictures with the baby and parents of elephant, breathing the fresh air of Sumatran forest and knowing how it feels live in a peaceful place with no much of modernization coming. Rethinking about that time, I have a profound appreciation for myself for having the courage to take this great journey.

In the same month, I also have my graduation. My graduation kebaya is the one I’ve been dreaming of for a long time with the colors that are still my favorite shades of white and red, No rent. And cheap make-up ahahaha. I finally had a family portrait in the old building areas of my uni. Another thing that made my heart full was having a photo session with my boyfriend in a dream corner of every couple from UGM. Same thing happened when I went to his graduation, covered with shades of blue and a bouquet of flowers. Thank you Kak for making it real anyway :”) 💕

Looking at the time, a dozen volunteering, project, organization, research and student jobs combined. Those were like a thousand pages of capstones. I learned that, I valued myself and was proud of myself the most during the most unexpected moments. 

I am beyond grateful for my university life. And life after that was like jumping into the woods and so hard to build up the courage to rise. I was trying to navigate and learn how to make a new route and a map of my future. Right after graduation, I spent a month living in the eastern part of Java assisting a migrant workers research project, it was my very first time doing fieldwork. All I can say is that everything is not easy; risking your days and all your senses to be constantly lit up to the conditions around you and giving up your private time for the surroundings. It was a time when my four years of studying anthropology were tested and questioned by a very tough and smart Asian-American woman. Thank you for giving me the opportunity to listen to stories and explore unexpected social puzzles every day.

After returning I then crafted again what I wanted to do in the next phase of life, it was not easy. “Everything seems so blurry even now,” my anxiety told me. Still,  all I know is that I need to keep trying and learning something new every day✨. Not stopping with every passing moment I tried to apply for numerous jobs while still indulging with many activities such as yoga or any other sport to make me sane. Maintaining a healthy lifestyle and boundaries, those also have become one of favorite topics with my boyfriend. We both realize that everything is nothing when lacking bodily. Every other aspect of our body. Everything on our mind will be manifested on our body whether we see it or you see with your mind. That fruitful conversation has immensely supported me throughout my life journey afterward such as having multiple morning routines which accommodates different moods, having a simple basic routine which allows for modification when necessary, and building something that feels right for me.

I was looking back at all the little scribbles I’ve shared here on this space and realized wow.. I made a lot of things in my life! In a way, I’m glad for the honesty that led me towards moving and being active to pour anything in this space. Life is a matter of process, where two steps forward may sometimes come with one step back, as well as one or more steps to the right or left. I want to live out of joy and love too, I want to embrace a slower rhythm and feel free 😗✌️ I will turn 25-years-old this year, and hopefully I will be excited to be one with my future self. Maybe this year is a rebirth, a call to home, a new way of living 🌻

Love always,
Adinta

 

difoto oleh Leviana di alun-alun pamulang

Sudah dua tahun lebih aku mengenalmu
Dua tahun lalu kita masih sedikit nekat keluar dari rombongan dan bersepeda motor berdua menyisir sampai ke Gianyar

Ikut workshop lucu, jalan kaki sore di tengah permadani sawah disertai langit ungu biru dan oranye yang semburatnya lapang tanpa tertutup gedung-gedung tinggi

Masih sedikit malu untuk minta saling difotokan dan sedikit meraba-raba memberi respon yang baik satu sama lain, lalu berburu gelato kesukaanku yang berujung gagal dapat varian rasanya bahkan sampai ke gerai ketiga di hari berikutnya

Lucu banget kalau dipikir-pikir. Semua ketidaksengajaan ini bikin kita akhirnya sangat beririsan satu sama lain, berbagi lingkaran pertemanan yang mendorong untuk saling bertumbuh. Meskipun tetap ada satu dua dalam hitungan jari yang menyebalkan, tapi pahit asam manis ini bikin kita banyak berbagi dan merefleksikan, perihal bagaimana bersikap kepada kehidupan; teman, keluarga, kolega dan orang asing

Setiap bulan yang berganti, senantiasa terasa berbeda

Tahun ini, 

sungguh amat berbeda

Banyak kekhawatiran-kekhawatiran di pertengahan tahun yang bikin kita kadang ragu atau menaruh keyakinan penuh, merayakan satu per satu pesta kehidupan yang digadang-gadangkan. Berbagi foto wisuda yang lucu sembari berharap bisa mereplika banyak momen-momen kehidupan di kemudian hari

Tahun ini, 

Kita banyak belajar mengutarakan apa yang dirasakan, apa yang masing-masing kita rasa benar, mendengarkan dengan seksama tanpa mencela, menangis dan tertawa sesuka ria,

Serta menebak dan mencoba berbagai formula supaya tetap berjalan bergandengan, menghormati prinsip kehidupan dan cita-cita yang semoga tetap mulia untuk diri sendiri dan sekitar

Aku nggak tau apa yang akan terjadi di depan, yang aku tau juga seperti yang sering kamu katakan; aku bersyukur dengan apa yang sudah aku lalui, dengan apapun perasaan yang aku dapatkan dan semoga terus tumbuh subur dan tegak di tengah terpaan badai kehidupan. Aku mau terus berbagi denganmu tentang kesederhanaan dan belajar memuliakan apapun pemberian Tuhan

Thank you amore, I owe you a lot
Temanggung, 17 Desember 2023
02.05


Satu tahun berlalu dan usia dua puluh tigaku tidak banyak merasakan ‘matahari’. Tidak seperti dua puluh dua usiaku di tahun dua ribu dua puluh satu.

Dua puluh tiga usiaku banyak aku habiskan untuk tugas akhir tahun terakhir perkuliahan, skripsi.

Dua puluh tiga usiaku aku awali dengan perasaan yang berkecamuk, bergelut di ibu kota dan penelitian yang terasa lama serta tak kunjung usai.

Satu tahun yang lalu aku habiskan dengan bermalam di kos-an Tatyana bersama Dhira, diisi dengan mencicip martabak asin dan manis serta ditemani playlist spotify Tatyana yang mendeskripsikan banyak tentang Tatyana yang kukenal, lagu-lagu berdasar bahasa latin dari Perancis, Italia, Spanyol dan lebih banyak lagi yang tidak kuingat. Yang aku lakukan hanya bertanya beberapa yang alunannya kusuka dan kuabadikan di spotify dengan judul playlist “memories at kost an Titok”.

Dua puluh tigaku kemudian berlanjut dengan 50 hari kuliah kerja yang nggak nyata-nyata amat yang kusempilkan dengan pergi bermuktamar ke Surakarta dan serangkaian mengurus seleksi pertukaran pelajar yang kuakali dengan sedemikian rupa. Dua puluh tigaku yang lalu memang diawali dengan pergulatan hati, emosi, dan batin yang hampir memporak-porandakan aku tapi pada perjalanannya ternyata Tuhan emang adil. Ia betulan memberikan babak-babak yang menaik-turun-terbang-terjun-bebas sebagaimana kehidupan seharusnya berputar.

Di sepertiga awal aku perlahan dipertemukan dengan kejutan-kejutan kecil. Diizinkan mengalami romansa asmara sebagaimana gadis dan lelaki di usiaku, jungkir balik dengan relasi pertemanan, dan menghadapi salah satu babak paling menentukan, yaitu mau-nggak-mau harus jadi sarjana semut. Sebagaimana aspal yang nggak selalu mulus, pasti berkelok, berlubang dan rusak di beberapa sisi. Nggak ada yang sempurna kan.

Dua puluh tiga aku jalani dengan lebih berani dan percaya diri menghadapi apa yang ada di depan mata, tanpa mengecilkan mimpi-mimpi yang sudah dibangun pelan-pelan. Petualanganku di usia dua puluh tiga sebelum akhirnya dua puluh empat kujemput di hari ini, disisipi dengan kejutan maha dahsyat dengan kedatangan Lena Sailer. Salah satu sahabat AFS terbaikku yang mempersiapkan perjalanan ke Indonesia dan kami nanti lima tahun lamanya.

Dua minggu kuhabiskan sama Lena menjelajahi Jogja, Malang, Banyuwangi, dan Bali. Menjejal kota, gunung, laut, dan pedesaan sampai tiada daya untuk berpetualang lagi kecuali lima bulan setelahnya kuhabiskan rata-rata di depan laptop, membaca sekian puluh jurnal dan menulis sekian ribu kata untuk skripsi yang amat kusayangi. Sesekali berpetualang kecil-kecilan dengan seorang lelaki lucu nan rupawan ke banyak sisi ibu kota, sudut tengah dan barat pulau Jawa atau main lempar-lempar pertanyaan konyol sampai serius soal kehidupan.

Aaaaaa terlampau banyak belum aku tulis di sini, tapi di satu tahun yang cepat ini aku sedikit sekali membaca buku, jarang bertemu banyak orang, menuntaskan beberapa hal yang sudah nggak banyak memberikan kenyamanan maupun yang memang aku nyaman namun karena waktu harus segera kutuntaskan.

Namun satu hal yang aku syukuri adalah diberi kesempatan menyayangi dan disayangi dengan hati yang selalu terasa baru dan penuh setiap harinya, dipertemukan dengan remaja-remaja muda lewat program pertukaran yang menggembirakan, yang memberi nafas dan pengharapan masa depan yang lebih cerah.

Menjelang dua puluh empat usiaku, aku jemput dengan petualangan bertemu gajah jinak Tangkahan, menaiki pesawat hercules, hiruk pikuk Kota Medan yang besar, serentetan kecerobohan seperti keblabasan kereta sampai Klaten, wisuda sarjana, merakit puzzle menara eiffel dengan sejuknya Nawang Jagad, dan pulang dengan sesungguhnya definisi pulang, ke Temanggung yang dinginnya nggak pernah bohong.

Terima kasih dua puluh tiga serta segenap ha-hal baik yang mengiringi.

Temanggung, 1 September 2023

Dua bulan lamanya nggak pulang ke rumah Temanggung bikin aku sedikit kehilangan arah. Di saat itu aku sampai di suatu masa kepingin ketemu teman-teman lamaku, teman-teman kecil pengisi ruang-ruang di masa lalu. 

Tanpa jedanya aktivitasku belakangan sedikit mirip dengan saran seorang kawan yang seperti peramal. Katanya di pertengahan 2021 aku lagi butuh bertemu atau berbincang dengan teman dekat dari masa laluku. Konteksnya berbeda tapi saran ini adalah kondisi yang sedang aku inginkan. 

Sebelum pulang yang aku bayangkan tidur bermalas-malasan meringkuk dalam selimut tebal di Temanggung yang berhawa dingin. Istirahat sepuasnya tanpa merasa berdosa ha-ha-ha. Ritual lainnya adalah mandi kembang macan kerah yang bahannya dibelikan Bapak Ibu di pasar. Orang bilang ngeri betul. Padahal ya dia cuma kembang biasa dicampur berbagai tumbuhan yang bawa aroma hangat, segar dan rileks pikiran. Biasanya kupetik daun pandan dan sirih di depan rumah supaya efeknya semakin magis di tubuhku yang lenyap dimakan aktivitas perkotaan.

Di hari berikutnya, aku sempatkan melepas kangen ke sepupu-sepupuku dan bertandang ke rumah budhe. Kadang nggak jelas tujuannya. Cuma kepingin ketemu dan ngobrol bareng di ruang tengah sambil nonton Trans TV yang punya serial maha ajaib nan bikin ngakak he-he-he.

Lalu,

Ada satu rutinitas maha besar wajibnya. Ketemu Mas Akmal, Mbak Nadia, Avicena, Mas Ubaid dan Mas Dhanu. Lingkaran pertemanan yang aneh ini punya komposisi lucu. Aku dan Avicena jelas nyempil di tengah jalan 10 tahun lalu. Ceritanya gimana, nanti panjang lagi haha. Meskipun nggak bisa ketemu semuanya, setidak-tidaknya aku bisa nyicil ketemu mereka.

Tema kemarin adalah sepenuhnya mendengarkan sambatan Avicena. Sarjana lulusan Yordania yang dibuat pusing bukan kepalang karena dirinya diduplikat di banyak tempat, rasa iba dan jiwa pengabdiannya sempurna ngalahin jutaan keluh kesahnya. Si tiba-tiba jadi guru di sebuah program khusus sebuah sekolah menengah pertama. Dan seabrek proyek roro jonggrang lain yang harus dihadapi Avicena ha-ha-ha.

Aku dan Mbak Nadia menanggapi dengan sedikit kasian tapi ketawa lucu serta mendukung penuh karena kami pikir ini betulan bakal jadi momentum besar buat Avicena. Di selipan sambatan Avicena dan drama murid-murid nakalnya, Mbak Nadia berbagi soal Festival Lembutan Bansari yang baru aja usai digarapnya. Sedangkan Mas Akmal yang lucu bin aneh sendiri suka nyeletuk hal-hal yang bikin aku, Mbak Nadia, dan Avicena gemas dan kompak merespon, "Raisoooo koyo ngono."

Diikuti alibi, emang harus ada orang kayak Mas Akmal.

Selepas fajar menyingsing dan beranjak dari salat maghrib kami bergerak ke Angkringan Ramidjan yang tempe mendoan bakarnya kurindukan. Ditemenin soto panas Ramidjan kami berlanjut ngobrol ngalor ngidul yang berjudul sambatan dan ghibah Ubaidillah si aneh kedua yang kebetulan lagi di Jogja. Dengan kesal disertai ketawa namun tanpa dendam kami apa adanya ghibahin dia wkwkw. Mas Dhanu nyusul belakangan pasca kulakan dagangan di luar kota. 

Malam itu aku sangat yakin kalau Avicena yang malang bakal menang, Mbak Nadia yang cerdas bakal bisa nonton Taylor Swift kalau dapat pekerjaan yang didambakan, Mas Dhanu bakal jadi pengusaha muda keren cabang Putihan dan Mas Akmal Ubaid akan senantiasa nyentrik sepanjang masa.

Aku nggak bisa ngebayangin hidup tanpa lingkaran pertemanan ini. Kemanapun jauh melangkah rasanya aku pingin selalu bisa duduk bareng, minimal di rumah Mas Akmal yang posisinya paling strategis. Meskipun Avicena harus melompat jauh dari Kerajaan Lungge he-he-he. Aku juga betah lama-lama update kehidupan sama Bapak Ibu mereka. Terlebih lagi orang tuaku, Avicena dan Akmal adalah sekawanan teman lama di masa lalu. Bapak Ibu Mas Ubaid yang ramah dan tetap menyempatkan ngobrol sambil menjahit serta Ibu Mas Akmal dan Ibuku yang kawan SMP di masa lalu dan suka cocok jadwal karaokean bareng. 

Sungguh, aku mau betah lama-lama di Temanggung asal ada mereka.

Temanggung, 1 September 2023
dipotret seorang lelaki saat jalan-jalan ke Baturaden, dipilih karena ini lucu, pose senggak siap itu menghadapi kejutan kehidupan

Semalam sesampainya di rumah Temanggung yang sedang nggak dingin-dingin amat hawanya tapi tetap dingin buat aku, aku buka gawai dan baru menyadari dua bulan belakang nggak buka tumblr.

Nggak baca tulisan teman-teman, tentang hari-harinya, asmaranya, patah hatinya, gelisahnya, dan bahagianya. Bahkan akupun meninggalkan rutinitas di tahun 2021 yang gemar menulis refleksi setiap bulan. Meninggalkan rutinitas menulis jurnal. Lalu aku meraba-raba, kemana saja aku merangkai-merangkum segenap perasaan-perasaanku bulan-bulan belakangan? 

Padahal, tahun ini aku banyak menggenapkan beberapa urusan-urusan duniawi yang kuemban. Menamatkan kuliah antropologi dan menjadi sarjana semut. Memilih resign dari IPM wilayah, akan menyudahi menahkodai media IPM, pertama kalinya mengurus program hosting alih-alih program sending di AFS serta beberapa perkara lainnya yang buatku nggak biasa dan patut disyukuri. Ternyata aku bisa menjalaninya dengan nafas yang terseok-seok. Jeda yang sedikit dan climbing yang udah nggak pernah disempatkan.

Awal tahun ini aku juga menjajal beragam olahraga ekstra kayak zumba, pilates dan yoga yang betulan ikutan "kelas". Apa yang aku lakukan murni dengan menjalani apa yang betulan ada di depan mata. Aku di tahun ini tidak serba perhitungan dan serba galau seperti tahun 2022 yang ternyata banyak gagalnya. Gagalpun nggak papa cuma aku sedang berusaha bersikap secukupnya dan biasa-biasa saja. Ohya bahkan aku juga digratisi dua hari kelas meditasi oleh Presiden Chapter AFS Jogja Mas Meilando. Duh kenapa dia baik sekali. Dua hari aku penuh mengonsumsi makanan-makanan vegan. Belajar mengenali nafas, emosi, relasi, dan menjeda kehidupan sejenak. Dan yang paling utama, belajar memaafkan.

Bertemu dengan beliau semakin bikin aku kepingin jadi manusia yang biasa-biasa saja. Tetap bisa merayakan hobi tapi tetap bersemangat mengumpulkan sebanyak-banyaknya uang supaya bisa bantu dan membahagiakan banyak orang seperti Mas Meilando melakukannya ke aku dan beberapa teman Bina Antarbudaya Jogja. 

Banyak kejutan. Sungguh banyaknya bukan maen. Bahkan aku dihadiahi dengan kedatangan Lena di akhir tahun sampai awal tahun lalu. Sekejap aku terpana dan nggak bisa berkata-kata dengan keajaiban dunia di kehidupan Nabila Adinta. Pertemuan lagi dengan sahabat AFS yang aku nanti-nanti lima tahun ini. Di kala aku banyak bersedih hati karena merasa kehilangan beberapa teman dekat, Lena datang bak obat yang menyelamatkan hati dan pikiran kalau datang dan pergi itu biasa. Kehilangan itu tak apa. Kalau memang kita ditakdirkan bertemu dan tetap terjalin pasti akan ada jalannya, betulan people come and go. 

Petualangan dua minggu dengan Lena cukup bikin aku nggak kepingin jalan-jalan selama beberapa bulan. Embel-embel aja sih sebenernya hehe karena kudedikasikan semester delapan untuk menulis skripsi. Berpindah dari cafe ke cafe, working space ke working space. Di dalam maupun di luar kampus. Kadang ditemani Mbak Laila, Izza, Inas atau sendirian aja. Terima kasih ya kalian sungguh support system terbesar dalam penulisan ini. 

Nggak lupa juga Mbak Icha, dosen pembimbing yang nggak lelah mengajari dan memberi kritik. Nggak sekedar skripsi, bersama Mbak Icha aku juga diajak berdialog rencana-rencana masa depan. Peluang-peluang ruang belajar. Terima kasih banyak Mbak Icha, aku banyak meneladani Mbak!
Wah. Tulisan ini nggak cukup menampung segenap perasaan nano-nano yang kadang menipis-datar-menggelembung seperti balon yang tinggal menunggu kapan saatnya pecah. Sekarang aku sedang merasa biasa-biasa saja. Masih cukup lelah dengan dua bulan berkelana. 

Terima kasih, udara Temanggung kasih aku kesempatan untuk menulis lagi. Mari pulang.

Temanggung, 29 Agustus 2023
21.20

 Catatan bulan lalu.

Makan atau jalan ke pameran jadi salah dua hal yang biasa aku dan Rama habiskan seharian penuh atau bahkan dua hari berturut pada suatu masa.

Hari ini, kami berdua jalan lagi ke pameran teman Rama di City Gallery Tangerang Selatan yang nggak begitu jauh dari kediamanku di sana. Pertemuan kami yang jarang dan bisa dihitung jari dalam 1-2 bulan bikin kami mensyukuri pertemuan barang beberapa jam atau sekejap. 

Tentunya, nggak jarang pula terjadi kesalahpahaman karena hal sepele. Tapi setelah ambil jeda dan tarik nafas beberapa saat, kami sama-sama menyadari bahwa sebenernya kami kangen satu sama lain yang nggak bisa ditunjukkan dengan hanya ekspresi manis. Kadang bisa diam, marah atau melempar muka bete satu sama lain yang berujung saling menatap dengan perasaan bersalah masing-masing.

Dan di hari-hari yang padat merayap di masa ini bikin kami jauh lebih bersyukur pertemuan sekejap. Perasaan-perasaan lelah setiap harinya yang hanya bisa kami bagi lewat telepon maupun video call bisa sejenak digantikan dengan pertemuan langsung, sebentar tapi menyiratkan makna "pulang" yang dalam.

Rasanya pertemuan empat jam tadi ingin aku ulang berkali-kali, tulusnya tatapan dan manisnya sikap Mukhtara Rama bikin aku nggak bisa berhenti bersyukur🥹 

KA Mataram, 24 Juli 2023

In every second of my life, I learn to be who I am. I learn to love myself and my surroundings without doubt, as well as learn how to be loved. 

It’s been more than a year since I learned to define my feelings, toward a man that sticks around me for every little path that I took. This is a new kind of thing that indeed helped me to get out of a nightmare about a hopeless-romantic-life. I do realize that this is such a wistful thing among other parts of my life (haha).


After quite a miserable journey, I couldn’t be more grateful for getting to this point. I then borrow these words from a caption that I found on Instagram–thank you to this man who came waltzing into my life and made it significantly less lonely and infinitely more bearable. 


I love to borrow words from people: songs, movies, and any kind of writing that communicates my feelings better than I ever will. Before meeting you, I’ve always loved listening to love songs, especially when it comes from “Michael Bublé-To Be Loved & To Love Somebody” or “Carpenters-Love is Surrender”, reading romance novels, as a self-proclaimed hopeless romantic myself. I often wondered how it feels to live those stories, from the simplest narrative to a full-blown saga, will I ever get to experience them? Is it even possible and not just dumb daydreaming?


The answer is: absolutely not (ha-ha-ha).


After meeting you, it does not only sound dumb and unrealistic but I got offered something better. A beautifully imperfect relationship with all its glory and ugly. A chance to have a partner, I just need to not mess up. Yet whenever I messed up, you were always ready with open arms for me. As if you too want to make it work, you too want me. And that's how I know I'm living in my daydream, where the slight difference is that it is not perfect, but as long as we both put in the effort to stay with each other, that's better than anything I could dream of. 


Ridiculously smart yet funny, you are an exceptional conversationalist, and I was always amused by your playfulness and serenity while I am fiery on some occasions. Even though it would never be easy to take this journey. I would always thank the universe to let me come into this world in the right time. Thank you for anything, from sending such lovely words, joking while I am in a bad mood, to every quick recap through whatsapp calls before starting or finishing the day. These all make my day. Haha


I do agree with Maudy Ayunda about what love was supposed to feel like: pure, effortless, and full of life.

Because, to love is to surrender, Carpenters said.


Cheers to many more to come🎉🥳♥



Selamat Tahun Baru!

Bagi sebagian orang tahun baru jadi momentum yang spesial dengan perayaan sederhana maupun hura-hura menjelang pergantian hari. Beberapa tahun belakangan aku merayakan tahun baru dengan bakar-bakaran bersama teman atau keluarga besar, tahun ini hanya dengan Lena yang akhirnya kita menemukan spot di sebuah kafe untuk melihat deretan kembang api dari atas Bukit Campuhan, Ubud.

Datangnya Lena ke Indonesia bikin aku bisa tiba-tiba sedikit menangis ketika punya kesempatan sendirian. Masih belum menyangka kalau pertemanan kami bisa sedemikian hebat kuatnya. Di sisi lain, setahun ke belakang aku merasa mengalami turbulensi kritis atas relasi pertemanan maupun romansa asmara yang patah tumbuh hilang berganti. Merasa kesepian di tengah keramaian.

Seorang yang super duper extroverted seperti aku ini punya daya selam pertemanan yang tinggi, aku merasa nggak papa untuk repot lebih dulu, menghubungi ini dan itu, mengajak kesana kemari, dan dengan rela mengatur sebuah pertemuan ramai sejak SD sampai sekarang. Sampai Ibu juga ikutan heran, tapi beliau juga mendukung dengan turut mau repot kalau banyak teman datang ke rumah. 

Segala daya upaya yang tinggi ini menjadikan aku yang ternyata tidak cukup mempersiapkan sebuah ‘kekecewaan’ kalau mungkin ini bisa banget untuk datang tanpa ketuk pintu. Bahkan tanpa tau sebab pastinya.

Terlebih lagi, setahun belakangan yang di mata banyak orang nggak akan bisa mengira aku lagi di kota mana dan sedang melakukan apa, membuat sebagian banyak teman jarang mengabarkan momentum-momentum spesial mereka. Padahal aku akan sangat berupaya turut datang, merayakan, dan menyelemati. Aku bisa menghabiskan waktu berhari-hari dan bertanya-tanya kenapa ini bisa begini dan begitu, mengulik-ulik sebab kesalahanku yang mungkin aku perbuat, naasnya berujung menyakiti dan membebani diri sendiri. Di titik ini selain belajar merawat pertemanan, ternyata aku belum cukup belajar merawat kewarasan diri sendiri dengan sedikit bodo amat.

Banyak kejadian yang bikin aku merasa apa iya ini mungkin aku yang jahat ya, nggak bisa menjadi teman yang baik untuk mereka. Di saat  ngerasa seperti ini, di sebuah warung dimsum di Blok M seorang sahabat jauh yang udah nggak aku temuin selama empat tahun bilang, 'enggak boleh gitu Nabila kamu ini orangnya baik banget, kamu nggak pantes disakitin, kita harus berani bikin boundaries jangan mau selalu nerima bare minimum.' Kalau inget percakapan ini rasanya tertohok, sosok sahabat perempuan tertangguh ini sungguh menguatkan aku buat semakin berani mengaudit pertemanan.

Sedikit keterlepasan dengan bertahan di sebuah kota dalam waktu yang lama membuat aku semakin belajar meng-audit-pertemanan kalau bahasa Mbak Ayu Kartika Dewi. Ia menyarankan untuk melakukan listing down 10 orang yang kita rasa berinteraksi secara intimate di kehidupan sehari-hari, mana yang membuat kita baik vs buruk tentang diri sendiri Sedangkan kalau kata sepasang suami istri di sebuah podcast CurhatBabu tentang pertemanan abadi, kita tidak bisa benar-benar memperhatikan semua orang, kita punya keterjangkauan untuk memperhatikan 5-8 orang di hidup kita. Kelak mungkin kalau kita udah berkeluarga, mungkin keterjangkauan kita ya hanya kepada pasangan dan anak-anak kita, keluarga inti.

Kedua perbincangan tersebut cukup menguatkan kalau sebagai manusia kita punya limit. Pada akhirnya aku mensyukuri kebiasaanku yang sejak merantau dan hidup di asrama SMP-SMA nggak menggantungkan ke orang lain, merasa nggak papa melakukan semuanya sendiri tanpa melupakan dengan tetap merawat teman-teman baik. Merasa nggak papa untuk selalu menyediakan me-time kalau suatu waktu ini memang dibutuhkan.

Mobilisasi yang tinggi di tahun 2022 bikin aku cukup mengerti siapa yang benar-benar dekat, bahkan di masa turbulensi emosi yang gunjang-gunjing serta bikin KRL kebanjiran tangisan aku selepas seharian berkeliling ibu kota di paruh kedua tahun lalu, aku merasa bersyukur karena satu dua orang dari teman baikku selalu menyediakan telinga untuk mendengar. Bersedia aku telpon tengah malam supaya bisa tidur tenang atau pagi hari sebelum beranjak ke ibu kota. Menjaga kestabilan dan menjalani hari-hari yang berat dengan lapang dada.

Merasa kesepian di antara hiruk pikuk ibu kota rasanya sesak. Meyakinkan diri kalau masih ada teman-teman yang nggak enggan bilang, 'kalau ada apa-apa bilang ya Bil, kan ada aku dan yang lain'.

Aku juga cukup bersyukur, meskipun kita pernah atau sedang dekat dengan seseorang, menjalani hari dengan percaya pada diri sendiri nggak lantas membuat kita terlihat sangat rapuh ketika suatu saat ia pergi. Tentu di waktu sendiri, dulu aku cukup nyaman menjalaninya tapi ketika berubah menjadi sendiri lagi, pernahnya mengalami sharing comfort zone nggak lantas bisa menjadikan kita kuat seperti semua.

Di paruh kedua 2022, mungkin aku cukup mengecewakan-dikecewakan oleh beberapa teman baik yang nggak aku sangka bisa berbuat sedemikian rupa. Lantas berupaya memperbaiki tapi pintunya rasanya udah terkunci sangat kencang, nggak ada cara lain selain berpasrah dan berserah. Mendoakan yang terbaik, kata seorang teman 'sebaik-baik pertemanan adalah saling mendoakan, mendoakan adalah cara mencintai paling sederhana, mendoakan adalah cara mencintai paling rahasia'. 

Mengalami kecewa yang sangat berat dan membawa kepada mimpi-mimpi buruk, nggak jarang aku ingin mengutuk dan berbalas. Namun kemudian seorang teman lain mengingatkan kalau tugas kita hanyalah berbuat baik, nggak boleh membalas dengan kejahatan serupa. Pesan ini sama persis seperti yang dikatakan Bapak Ibu sembilan tahun silam. Pada akhirnya yang aku lakukan adalah mengendalikan ekspektasi dan membatasi tanpa membencinya sembari berdoa semoga di sebuah kesempatan kita bisa membicarakannya baik-baik.

Kalaupun nggak bisa kembali seperti semula. Hidup kita toh nggak selalu berada poros yang sama, people come and go. Di balik semua yang aku alami di 2022 ke belakang, sudah sepatutnya juga aku mengucapkan mohon maaf sebesar-besarnya, kalau mungkin kita nggak bisa sedekat dulu lagi, nggak papa. Doa terbaik untuk kalian, dan untuk teman-teman yang pernah dan akan berbagi ruang denganku kemarin dan di kemudian hari secara singkat maupun panjang semoga kita bisa tetap berbagi kebahagiaan sesedikit apapun itu, ya!

Lalu, pada sebuah perputaran tertentu di sepertiga dari tahun 2022, aku merasakan dipertemukan kembali dengan hal-hal baik. Buah dari masa lalu yang mungkin nggak akan kita sangka. Reconnecting lives, buatku, selalu jadi dua kata magis yang bergulir serta punya daya yang menguatkan. Menyayangi, percaya, dan berharap seperlunya. Dalam sebuah obrolan panjang via whatsapp call di suatu malam yang rasanya nggak ingin aku akhiri, dengan jujur dan sepenuh hati aku mengamini kalau sebagai seorang manusia kita nggak hanya butuh tempat bercerita, tapi juga tempat menyimpan cerita. Yang dalam kurun waktu lain, kita nggak kesulitan menceritakan ulang secara kronologis dari awal.

Semoga setiap kita bisa punya kesempatan ditemani oleh seseorang yang baik dan tulus, baik itu teman maupun pasangan kita. Tentunya, nggak semua akan berjalan selalu mulus, tapi semoga di setiap pergantian babak kehidupan, baik dari bergantinya musim maupun tahun kita selalu dikuatkan untuk menghadapi dengan lapang dada serta merawat pertemanan dengan sebaik-baiknya. 

Terima kasih buat setiap one call away Nabila. I owe & love you all wholeheartedly. Hopefully we can always cross-path together on earth. Engaging all those emotions is a beautiful thing. We need other people, we need to create our own safe space.

You're gonna lose friends and you're gonna make friends. And it's okay 👌

Gilimanuk-Situbondo, 6 Januari 2022

 


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Cari Blog Ini

POPULAR POSTS

  • Di Kereta Pasundan
  • Unfinished Dress
  • Mendekati Kepulangan
  • 2024: a magic of ordinary days

Categories

AFS Italy 2017-2018 Self Talk Hijrah Malaysia Ramadhan di Italia
Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • Januari 2026 (1)
  • November 2025 (2)
  • April 2025 (1)
  • Desember 2024 (1)
  • Juni 2024 (5)
  • Januari 2024 (1)
  • Desember 2023 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (3)
  • Februari 2023 (1)
  • Januari 2023 (1)
  • Desember 2022 (1)
  • November 2022 (1)
  • September 2022 (1)
  • Agustus 2022 (3)
  • Mei 2022 (3)
  • April 2022 (10)
  • Februari 2022 (1)
  • Desember 2021 (2)
  • November 2021 (1)
  • Oktober 2021 (2)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (2)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (2)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (2)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (11)
  • September 2020 (1)
  • Agustus 2020 (2)
  • Juli 2020 (2)
  • Juni 2020 (1)
  • Mei 2020 (19)
  • April 2020 (7)
  • Maret 2020 (2)
  • Januari 2020 (1)
  • Oktober 2019 (1)
  • September 2019 (1)
  • Agustus 2019 (1)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (1)
  • November 2018 (1)
  • Agustus 2018 (1)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (4)
  • Februari 2018 (5)
  • Januari 2018 (7)
  • Desember 2017 (9)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (6)
  • September 2017 (7)
  • Agustus 2017 (2)
  • Juni 2017 (12)
  • Mei 2017 (11)
  • April 2017 (6)
  • Maret 2017 (3)
  • Februari 2017 (4)
  • Januari 2017 (2)
  • Desember 2016 (5)
  • November 2016 (6)
  • Oktober 2016 (6)
  • September 2016 (5)
  • Agustus 2016 (1)
  • Juli 2016 (1)
  • Juni 2016 (6)
  • April 2016 (2)
  • Februari 2016 (1)
  • Januari 2016 (2)
  • Desember 2015 (1)
  • November 2015 (3)
  • Agustus 2015 (1)
  • Juli 2015 (1)
  • Juni 2015 (4)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Februari 2015 (6)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (4)
  • November 2014 (14)
  • Oktober 2014 (2)
  • Agustus 2014 (3)
  • Juni 2014 (12)

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates