Nabiloski De Pellegrini

“Kamu cantik nggak?” tanyamu usil dan bikin kesal, haha. Aku malah balik bertanya, “Kakak ganteng nggak?”

Jelas bisa dipastikan jawabannya lantang dan percaya diri dirimu ganteng. Sambil ketawa lebar, ih dasar haha. Apalagi ini kali kedua kamu memanjangkan rambut. Buatku sepertinya semua lelaki harus mencoba berambut panjang, sebagaimana Bapak dan kedua adik laki-lakiku yang melewati rambut awur-awutan dan sok mau gondrong padahal keriting jadi lucu haha.

Secuil obrolan makan malam di warung nasi goreng dekat Taman Serua.

—

Waktu yang sedikit itu aku dan Rama habiskan dengan menonton film Inside Out 2 (punten kami betulan nggak sadar kalau film-nya masuk dalam produksi yang diboikot, sungguh) di mall terdekat dari rumah kami. Jelas dari judul filmnya bisa ditebak kalau yang nonton banyak anak-anak dan ibunya, jadi sembari kami menonton sesekali ketawa liat ekspresi anak kecil yang nggak sabaran dan maju ke depan sambil lendetan. 

Inside Out buatku dan Rama sangat dalam, ia berarti sebuah film yang dikemas unik, kreatif, dan canggih untuk menceritakan bahwa manusia tidak tunggal. Ia hidup bersama beragam emosi yang harus dijelajahi dan diterima. Meskipun seiring kita tumbuh dewasa, waktu seperti berhenti mengeksplorasi emosi dan rasa. Terjebak dalam kecemasan mendalam dan sukar diurai.

Ini kali kedua kami nonton di mall itu, sebagai orang yang nggak suka ke mall, praktis saja dan nggak perlu jauh mencari mall yang megah (hehe). Sepulang dari sana kami makan nasi goreng dan kwetiau dekat rumah Rama yang dibekali beberapa bakwan jagung panas dari Umi Rama. Itung-itung cemilan penyelamat perutku yang lapar sekali.

Hari yang tidak begitu panjang itu buatku (lagi-lagi) menikmati nafas lega di tengah udara Pamulang yang semakin panas dan sesak. Bagian yang tidak kalah berarti adalah jalan menuju mall yang Rama pilih sisiri, jalanan kampung sekaligus kluster perumahan elit yang menembus sampai tanah lapang luas serta kebun yang masih luas dipandang mata. Tentu tanah yang tidak bebas. Milik Abu Rizal Bakrie. Disertai beberapa bangunan yang terbengkalai.

Nafasku lega tapi hatiku sesak, yah apes sekali mau punya udara dan tanah yang bebas sulit sekali.

Ternyata, 

Lapangan sepak bola yang luas dan sejuk memandang ke langit itu 8-10 tahun lalu adalah ruang di mana hari-hari Rama diisi dengan ikut sekolah bola tiga atau kadang lebih dalam seminggu. 

Beberapa kali kami tentu salah jalan, Rama mencoba meraba memori masa lalunya yang perlahan berubah karena pembangunan kota. Buatku, justru jadi seru karena sesekali kami harus putar balik. Selain itu, percobaan ini mengingatkanku pada Bapak yang juga senang menyisir jalan-jalan kecil di Temanggung. Sembari bercerita tentang sebuah tempat, entah memorinya atau beberapa orang yang ia kenal menjajaki tempat itu.

Oh ya, langit sore itu cerah sekali. Mataharinya terang benderang. Memantul dari gedung mall yang tinggi.

Bandung, 23 Juni 2024

22:46

Tuhan seperti tau bahwa lebih baik aku sibuk saja. Bahkan tiada libur Sabtu-Minggu yang didambakan pekerja kantoran. Tuhan seperti tau kalau lebih baik kamu pergi saja dari kota ke kota, jelajahi bumi-Ku dan bersedihlah bersama-Ku. Karena sesungguhnya Aku dekat. Sebagaimana Tuhan beberapa kali berkata dalam firman-Nya. 

Patah hati ini terasa berlipat-lipat lebih sulit, aku mulai terbiasa berada “di-ambang” atau “di-persimpangan”. Yang sederhananya semua adalah misteri. Patah hati ini terasa lebih pedih karena di sela-sela waktu kamu harus terlihat tetap tertawa dan bahagia di depan orang-orang baru dan asing. Asing sekali. Sampai semua terasa jauh dan kesendirian terasa menghujam jantung. 

Mungkin ini skema yang sengaja dirancang Tuhan supaya aku tetap bisa punya waktu tanpa libur, tanpa harus bersusah payah memberi waktu kesedihan karena dengan begitu, kesedihan tetap terasa diberi. Di sela waktu, di sela ambang batas laporan dan artikel yang menumpuk di bulan Juni. Di sela penjelajahan.

Cilacap, 5 Juni 2024


pagi ini aku bangun dengan perasaan campur aduk sekali, memutuskan untuk nggak buka hp dan membiarkannya tergeletak di dekat rol kabel. kepalaku cukup pening mengingat aku yang sangat bodoh karena tidak disiplin bikin essay untuk wawancara pekerjaan pertamaku dari kemarin, ternyata dua pertanyaan dengan masing-masing 500 kata minimal itu terasa sangat berat kutulis dengan deadline hari ini. 

pagi ini aku bangun dengan perasaan sendu, aku merasa nggak mampu lagi menguraikan apa yang aku pikirkan dan rasakan sebab saat diuraikan konsekuensi-konsekuensi logis dari itu semua sesungguhnya adalah ketidaksiapanku sendiri mendengarnya. huhu ucap kata maaf ribuan kali juga mungkin nggak bikin semua kembali, aku menyesal, boleh kan? aku coba lagi mengatur nafas dengan hitungan empat setiap tarikan-tahan-hembuskan lalu aku bangun dengan berkali kali tarikan nafas yang tidak mudah dan berat sekali. 

pagi ini aku langsung pergi mandi dan mengguyur air, dengan harapan air yang mengalir ini bisa cooling down tubuh dan pikiranku. aku ingin menangis tapi rasanya juga sia-sia, apakah aku bisa tampil dengan performa yang oke di wawancara atau ujian ielts akhir bulan nanti? aku juga tidak yakin, butuh berkali kali keberanian dan cara mendatangkan tenang yang aku tau harus aku hadirkan dari diriku sendiri bukan dari orang lain. pagi ini rasanya aku nggak kepingin bangun, aku nggak mau menerjang motor ke Temanggung, nggak ada energi yang cukup untuk itu. huhuhu

pagi ini aku bertanya sekali lagi, bolehkah aku bersedih hati? apakah iya aku belum selesai dan berhasil mengurai satu per satu? bukankah nggak ada yang bener-bener selesai ya selama hidup masih terus berjalan? doaku pagi ini setelah mandi dan solat dhuha adalah kalimat tawakkal yang kupanjangkan, terima kasih Allah <3

Temanggung, 12 Februari
09:45

Judul ini ada subjek e-mail yang kukirimkan kepada rama satu setengah tahun lalu, pekerjaan favoritku tetap sama selama hampir sembilan tahun, oh wow? lama juga ya. Setiap laki-laki yang pernah dekat/menjalin relasi sama aku, bisa dipastikan pasti ada di salah satu label emailku (hehe).

Nggak aku hapus dan hilangkan, sebab aku kepingin tetap kasih ruang untuk setiap perjalanan yang pernah aku laluin. Kalau sekarang, salah satu ruang ampuh meluapkan sesuatu kalau ada hal yang rasanya tersumbat kukeluarkan dua tahun belakangan ke rama, aku memilih menuliskannya. Walaupun udah nggak sesering dulu. Rasanya menyenangkan, apalagi kalau kita yang berjauhan ini belum bisa ketemu, aku suka iseng baca-baca email dan ketawa sendiri. Well, tentu nggak selalu cerita-cerita suka, yang justru bikin ketawa tuh oh yaampun dulu pernah ngelawatin masa kegelapan kayak gini ya ternyata hahaha.

Seperti hari-hari menyebalkan dan sungguh aku kepingin lari aja dari Pamulang tapi malah ndilalah aku lagi penelitian skripsi yang kayaknya Tuhan suruh aku menghadapi aja, termasuk nasihat Kang Hilal sewaktu aku mampir ke kantornya di deket MRT ASEAN sebelum ke Jakpus. Pas makan siang aku mengeluh apa aku pulang aja walaopun ini belum selesai, kata Kang Hilal, "Jangan pulang hadapi peperangan yang ada di depan mata kamu ini. Kamu kan petarung pasti bisa!" 


Kang Hilal menghibur aku dengan traktir makan. Pilih menu pizza hut Pamulang apa aja asal aku mau makan end up aku pesen sup aja nggak habis huhu. Dalam hal ini aku sungguh berterima kasih ke Kang Hilal, apa jadinya aku melewati dinamika relasi dari sejak aku SMA sampai sekarang tanpa kehadiran seorang sosok kakak laki-laki kayak dia.

Kemudian,

Hari-hari ini aku bersyukur dengan kehadiran rama yang mau turut berusaha dan belajar bersama mengungkapkan apapun yang lagi dirasain, hadir di persimpangan yang meskipun sulit mau gimananpun harus dihadapi aja gitu. Aku juga belajar meregulasi emosi dan sikapku untuk menghadapi dunia yang sedang kita hadapi bersama. Menikmati hal-hal kecil yang bisa bikin tetap luwes dan senang berjalan.

Selain itu, kebetulan mungkin aku dan rama nggak terlalu suka perayaan-perayaan yang berlebihan, termasuk ulang tahun yang berjalan biasa saja, didukung dengan nggak ada budaya perayaan di keluargaku kecuali ya karena sempat hidup di Mu'allimaat aja. Jadi aku bersyukur, cukup saling kirim surel di ulang tahun kami masing-masing udah lebih dari cukup untuk mengupayakan syukur-syukur di kehidupan.

Meskipun nggak senantiasa selaras, tapi setidaknya menulis ini baik di email maupun laman pribadiku, aku bisa punya ruang menguraikan pikiran-pikiranku. Membahagiakan orang-orang tersayang dan tetap merasa dekat walaupun jauh secara jarak :)


much love <3

Yogyakarta, 11 Februari 2024

 Dalam perhitungan menjelang dua tahun, aku sudah belajar memaklumi hal-hal yang aku rasa tidak cukup benar pun tidak cukup mengenakkan. Belajar menjaga segenap inderaku untuk kehidupanku sendiri, belajar mengosongkan pikiran dengan latihan-latihan nafas di meditasi maupun yoga. Berjalan kaki lagi untuk menyempatkan jeda sejenak dari sorak sorai kehidupan. 

Belajar merasa 'aman' dan 'nggak papa' untuk kondisi-kondisi yang mungkin perlu lebih banyak waktu untuk terus melangkah. Semalam aku diingatkan untuk melihat hal-hal kecil yang tidak kecil, yang padahal dua tahun lalu kuungkapkan kepada supaya kita terus berjalan. Akan dalam satu kendaraan atau tidak, yang kupikirkan hanyalah menyampaikan catatan penting di kehidupan untuk orang yang kusayangi.

di antara yang mereka katakan,

Banyak sekali yang membuatku terguncang, berusaha memaafkan dan belajar melupakan. Sebab belum tentu benar kan? Menjalani hari-hari yang terasa gamang dengan tetap berbagi hari serta tersenyum yang harus senantiasa disempatkan. Selamat berakhir pekan!

Yogyakarta, 10 Februari 2024

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Cari Blog Ini

POPULAR POSTS

  • Hari-Hari di Pamulang (3)
  • 2024: a magic of ordinary days
  • Tentang Bisa Punya Waktu Tanpa Libur
  • pagi yang aneh

Categories

AFS Italy 2017-2018 Self Talk Hijrah Malaysia Ramadhan di Italia
Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • April 2025 (1)
  • Desember 2024 (1)
  • Juni 2024 (5)
  • Januari 2024 (1)
  • Desember 2023 (1)
  • September 2023 (1)
  • Agustus 2023 (3)
  • Februari 2023 (1)
  • Januari 2023 (1)
  • Desember 2022 (1)
  • November 2022 (1)
  • September 2022 (1)
  • Agustus 2022 (3)
  • Mei 2022 (3)
  • April 2022 (10)
  • Februari 2022 (1)
  • Desember 2021 (2)
  • November 2021 (1)
  • Oktober 2021 (2)
  • September 2021 (1)
  • Agustus 2021 (2)
  • Juli 2021 (3)
  • Juni 2021 (2)
  • Mei 2021 (1)
  • April 2021 (2)
  • Januari 2021 (2)
  • Desember 2020 (2)
  • November 2020 (1)
  • Oktober 2020 (11)
  • September 2020 (1)
  • Agustus 2020 (2)
  • Juli 2020 (2)
  • Juni 2020 (1)
  • Mei 2020 (19)
  • April 2020 (7)
  • Maret 2020 (2)
  • Januari 2020 (1)
  • Oktober 2019 (1)
  • September 2019 (1)
  • Agustus 2019 (1)
  • Juli 2019 (1)
  • Mei 2019 (1)
  • Maret 2019 (1)
  • Februari 2019 (2)
  • Januari 2019 (1)
  • November 2018 (1)
  • Agustus 2018 (1)
  • Mei 2018 (2)
  • April 2018 (4)
  • Maret 2018 (4)
  • Februari 2018 (5)
  • Januari 2018 (7)
  • Desember 2017 (9)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (6)
  • September 2017 (7)
  • Agustus 2017 (2)
  • Juni 2017 (12)
  • Mei 2017 (11)
  • April 2017 (6)
  • Maret 2017 (3)
  • Februari 2017 (4)
  • Januari 2017 (2)
  • Desember 2016 (5)
  • November 2016 (6)
  • Oktober 2016 (6)
  • September 2016 (5)
  • Agustus 2016 (1)
  • Juli 2016 (1)
  • Juni 2016 (6)
  • April 2016 (2)
  • Februari 2016 (1)
  • Januari 2016 (2)
  • Desember 2015 (1)
  • November 2015 (3)
  • Agustus 2015 (1)
  • Juli 2015 (1)
  • Juni 2015 (4)
  • Mei 2015 (1)
  • April 2015 (2)
  • Februari 2015 (6)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (4)
  • November 2014 (14)
  • Oktober 2014 (2)
  • Agustus 2014 (3)
  • Juni 2014 (12)

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates